BPS: Ekonomi Triwulan I 2021 Terkontraksi 0,74 Persen

Rabu, 05 Mei 2021 – 12:04 WIB
Kepala BPS Suhariyanto menyatakan perekonomian mengalami kontraksi pada triwulan I-2021.. Foto: Humas BPS

jpnn.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia masih tumbuh negatif atau mengalami kontraksi pada triwulan I-2021.

"Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2021 masih terkontraksi sebesar 0,74 persen," kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Rabu.

BACA JUGA: Waduh! BPS Catat Kunjungan Wisman ke Bali Turun 93 Persen

Kendati demikian, dia mengatakan pertumbuhan ini mulai memperlihatkan perbaikan.

Ada tren yang menanjak sejak ekonomi triwulan II-2020 terkontraksi 5,32 persen.

BACA JUGA: BPS: Waspadai Potensi Gagal Panen Padi 2021

"Kalau dibandingkan triwulan sebelumnya, ini menunjukkan perbaikan signifikan. Kontraksi 0,74 persen menunjukkan tanda-tanda pemulihan ekonomi semakin nyata," ucapnya.

Lebih lanjut, pria yang karib disapa Kecuk itu mengakui pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2021 di luar dari proyeksi pemerintah.

BACA JUGA: BPS: Pengendalian Inflasi Harus Berpihak Pada Petani

"Sebelumnya tumbuh negatif pada kisaran 0,5 persen-0,3 persen," ujarnya.

Kecuk menilai meski terkontraksi, tanda-tanda pemulihan ekonomi sudah terlihat pada triwulan I-2021.

Jebolan Akademi Ilmu Statistik itu memerinci beberapa indikatornya adalah membaiknya Indeks Penjualan Ritel, Indeks Keyakinan Konsumen, maupun PMI Manufaktur.

Kemudian, penjualan mobil, dan konsumsi listrik.

"Produksi semen yang meningkat juga memberikan adanya sinyal positif pemulihan ekonomi Indonesia," beber Kecuk.

Master of Science in Applied Statistics di University of Guelph, Canada itu berharap kinerja perekonomian Indonesia terus meningkat dan tumbuh tinggi pada kisaran 4,5 persen-5,3 persen pada akhir 2021.

"Namun, untuk mencapai angka tersebut, perekonomian pada triwulan II-2021 harus mulai tumbuh positif pada kisaran 6,9 persen-7,8 persen," katanya.

Kecuk menambahkan pemerintah meyakini capaian tersebut dapat tercapai melalui program stimulus APBN, percepatan program vaksinasi dan pelaksanaan protokol kesehatan secara konsisten.

"Pemerintah juga akan mendorong penguatan industri lokal di berbagai sektor strategis utama seperti kelapa sawit, kimia, alumunium, elektronik, dan alas kaki untuk memperkuat perekonomian," ungkapnya.

Sebelumnya, BPS mencatat perekonomian Indonesia secara kumulatif mengalami perlambatan dan terkontraksi sebesar 2,07 persen (yoy) pada 2020.

Perekonomian Indonesia sudah memperlihatkan adanya tanda-tanda terimbas pandemi Covid-19 setelah pada triwulan I-2020 hanya tumbuh 2,97 persen.

Padahal, dalam kondisi normal, biasanya perekonomian Indonesia pada triwulan I tercatat rata-rata berada pada kisaran 5 persen (yoy). (antara/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler