BRI Optimalisasi Pelayanan Perbankan lewat Strategi Hybrid

Rabu, 19 Januari 2022 – 12:09 WIB
Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Indra Utoyo menjelaskan hybrid bank lebih cocok diterapkan karena BRI memiliki nasabah yang sangat heterogen. Foto: BRI

jpnn.com, JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus mengoptimalkan layanan perbankan dengan menerapkan strategi hybrid di era digital.

Metode hybrid bank tersebut terbukti efektif terlebih mayoritas pelaku usaha industri perbankan telah lebih terbiasa dengan digitalisasi.

BACA JUGA: BRI Gelar Penghargaan untuk Mitra Bisnis

Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Indra Utoyo menjelaskan hybrid bank lebih cocok diterapkan karena BRI memiliki nasabah yang sangat heterogen.

Di sisi lain, masyarakat sudah tak asing dengan perangkat gawai, tetapi tak dapat dipungkiri cakupannya belum 100 persen yang melek literasi dan keuangan digital.

BACA JUGA: BRI Sosialisasi Program Pengungkapan Sukarela untuk Nasabah

“Strategi kami memang mengandalkan hybrid bank untuk menjangkau masyarakat Indonesia yang beragam karakteristiknya. Apalagi di tengah pandemi, kondisi ini semakin mempercepat proses digitalisasi. Namun, masih ada sejumlah nasabah yang masih nyaman dengan layanan perbankan secara physical,” jelasnya.

Dia menjelaskan pengaplikasian hybrid bank dilakukan dengan prinsip ‘phygital’ atau physical and digital.

BACA JUGA: BRI Pasang Strategi Optimalisasi Penyaluran KUR 2022

Keduanya merupakan paduan keunggulan layanan fisik secara langsung dan tentunya secara digital.

Menurut Indra, perpaduan tersebut diyakini mampu meningkatkan engagement dengan nasabah yang makin kuat.

"Hybrid bank diterapkan oleh BRI karena digitalisasi secara menyeluruh tidak bisa menggantikan trust. Digitalisasi juga tidak dapat menggeser brand maupun service," jelasnya.

Indra menjelaskan penerapan hybrid melalui transformasi digital yang didasarkan pada tiga landasan utama.

Pertama, digitalisasi proses bisnis untuk meningkatkan produktivitas dan berfokus pada efisiensi. Hal ini diimplementasikan melalui aplikasi layanan perbankan BRImo, BRISpot hingga BRILink.

Kedua, BRI menyiapkan platform digital untuk masuk ke dalam ekosistem bisnis.

Hal ini menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perseroan karena mendorong peningkatan CASA, FBI dan nasabah baru.

Ketiga, BRI berinovasi dalam financial technology dengan pendekatan Fully Digital and New Business Model. Tujuannya untuk memberikan layanan kepada nasabah dengan lebih cepat dan efisien.

"Landasan tersebut seiring dengan misi kami memberikan layanan perbankan hingga ke seluruh penjuru negeri. Strategi BRI adalah go smaller, go shorter and go faster untuk menjadi The Most Valuable Banking group in Southeast Asia & Champian of Financial Inclusion,” katanya.

Indra menyebut strategis BRI itu pun menuai hasil positif. Tingkat inklusi layanan perbankan digital BRI bertumbuh lebih dari 100 persen sepanjang 2021.

"Pertumbuhan volume penggunaan mobile apps atau super apps BRI juga naik kurang lebih 600 persen. Indra optimistis, keberhasilan tersebut akan terulang pada 2022," kata dia.

BRIvolution 2.0: Blueprint Transformasi Digital & Culture

Keberhasilan transformasi digital melalui strategi hybrid bank tak terlepas dari rencana matang BRI yang telah dijalankan jauh sebelum era disrupsi akibat pandemi.

Direktur Utama BRI Sunarso yang menginisiasi inisiatif transformasi besar tersebut di dua area, yakni di area digital dan culture yang dimulai pada 2016, kini telah menunjukan hasil positif.

Saat itu, Sunarso mendapat amanat mengambil langkah strategis tersebut.

BRI pun mulai menyusun blueprint transformasi dengan visi besar BRIvolution 1.0 dan berubah menjadi menjadi BRIvolution 2.0 karena tantangan bisnis di masa pandemi.

Sebelum memasuki masa pandemi, gagasan BRIvolution telah mendorong digitalisasi proses kredit, terutama di segmen mikro.

Loan approval system (LAS) digantikan dengan BRISPOT sehingga mengurangi kontak langsung antara insan BRILian atau pekerja BRI dengan nasabah.

Penerapan BRIvolution juga berhasil menekan penggunaan dokumen kertas.

Pandemi membuat seluruh pertumbuhan kredit di industri perbankan menurun. Namun, kredit UMKM BRI justru tumbuh 12,5 persen, sebagai hasil transformasi yang disokong oleh kegigihan insan BRILian.

"Hasil transformasi BRI lainnya adalah pertumbuhan aset secara konsolidasian yang naik hingga 11,87 persen secara year-on-year (yoy) menjadi Rp 1.619 triliun pada kuartal III-2021," ujar Dirut BRI Sunarso. (jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gowes BRI, Bersantai sambil Belajar Tentang Digitalisasi Transaksi Pelaku Usaha


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler