Bu Mega Murka, Rini Soemarno Berurai Air Mata, Penyebabnya Amplop KPK

Senin, 19 Desember 2022 – 06:46 WIB
Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri. Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Wartawan senior cum penulis Panda Nababan membeber soal hubungan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dengan Rini Soemarno yang kini renggang.

Menurut Panda, pemicu keretakan hubungan kedua tokoh itu ialah saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) hendak membentuk Kabinet Kerja pada 2014.

BACA JUGA: True Story, Megawati Usir Suami & Panda Nababan dari Rapat DPP PDIP

“Hubungan mereka waktu teenager (remaja) juga sudah dekat,” kata Panda saat menjadi narasumber siniar Total Politik yang ditayangkan di YouTube belum lama ini.

Menurut Panda, ayah Rini yang bernama Soemarno pernah menjadi menteri di pemerintahan Bung Karno. Rini juga pernah menjadi menteri perdagangan dan perindustrian saat Megawati menjabat Presiden RI.

BACA JUGA: Panda Nababan Punya Kisah soal Jokowi Tidak Mengopeni Menteri Pilihan Megawati

Memang Rini bukanlah kader PDIP. Namun, dia sangat dekat dengan Megawati.

“Kemudian pekong, pecah kongsi,” ucap Panda.

BACA JUGA: Panda Nababan Berkisah soal Susi Hubungi Jokowi demi Menghindari Ajakan JK

Syahdan, wartawan penerima Anugerah Adinegoro 1976 itu mengunjungi Rini di kantor Kementerian BUMN. Perempuan kelahiran Maryland, Amerika Serikat, pada 9 Juni 1958 itu merupakan Menteri BUMN Kabinet Kerja 2014-2019.

“Rini bercerita ke saya, menangis di ruang kerjanya di Kementerian BUMN,” kisah Panda.

Di depan politikus senior PDIP itu, Rini mengaku dimarahi oleh Megawati dengan kata-kata kasar.

“Kok Mbak Mega tega marah-marah ke saya,” tutur Panda menirukan pengakuan Rini.

Panda pun bertanya kepada Rini soal sebab Megawati sampai begitu marah. Ternyata penyebabnya ialah soal daftar nama calon menteri yang dikonsultasikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ketika menjelang pembentukan Kabinet Kerja pada 2014, Rini mengaku diperintah oleh Jokowi mengantar satu map yang di dalamnya berisi daftar nama calon menteri.

“Saya mengantar (daftar nama calon menteri, red), tidak tahu KPK,” kata Panda kembali menukil penjelasan Rini.

Saat itu, Rini merupakan ketua Tim Transisi Jokowi-Jusuf Kalla. Dia datang ke KPK ditemani Hasto yang juga wakil deputi Tim Transisi.

KPK pun meneliti nama-nama dalam daftar yang diserahkan Rini itu. Syahdan, lembaga antirasuah itu memberikan markah berwarna merah pada nama-nama tertentu.

KPK lantas mengembalikan amplop berisi daftar nama calon menteri kepada Rini. Namun, mantan eksekutif di Astra International itu mengaku tidak mengetahui isinya.

“Saya enggak tahu isi amplop itu, saya kasih ke presiden (Jokowi, red),” kata Panda kembali menyitir pengakuan Rini.

Mantan anggota DPR dari PDIP itu mengatakan Megawati menduga Rini mengetahui isi amplop dari KPK itu. Namun, Rini tidak menceritakannya kepada Presiden Kelima RI itu.

“Ada beberapa nama yang diharapkan Megawati bisa menjadi menteri, ternyata dicoret (ditandai) merah oleh KPK,” ujar Panda.

Mantan ketua DPD PDIP Sumatera Utara (Sumut) itu mengatakan pelibatan KPK dalam seleksi calon menteri merupakan sejarah baru di Indonesia. Meski demikian, hal itu menjadi masalah dalam hubungan antara Megawati dengan Rini.

Pada akhirnya Rini tetap menjadi menteri BUMN di pemerintahan Presiden Jokowi. Memang Fraksi PDIP DPR pernah beberapa kali meminta Jokowi memecat Rini.

Walakin, Presiden Ketujuh RI itu tetap mempertahankan Rini di kursi menteri BUMN hingga Oktober 2019 atau saat Kabinet Indonesia Maju terbentuk.

Panda menduga Jokowi punya penilaian tersendiri soal Rini. “Subjektivitasnya Jokwi, kerjanya Rini bagus,” ujar Panda.(JPNN.com)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler