Bullying oleh Siswa Sekolah Elite Binus School Serpong, Prof Zainuddin Prihatin

Rabu, 21 Februari 2024 – 16:07 WIB
Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PAN Prof Zainuddin Maliki saat rapat membahas persoalan PPP guru dengan pemerintah, Rabu (24/5/2023). Foto: Tangkapan Layar YouTube DPR RI

jpnn.com - Anggota Komisi X DPR RI Prof Zainuddin Maliki prihatin atas kasus perundungan atau bullying yang dilakukan siswa dari lembaga yang dikenal sekolah elite, Binus School Serpong, Tangerang Selatan.

Prof Zainuddin mengatakan kasus tersebut harus menjadi pelajaran bagi semua pihak, para pendidik, orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam hal ini Kemendikbudristek yang diberi kewenangan menangani pendidikan.

BACA JUGA: Heboh Perundungan di Binus School Serpong, Sahroni Sentil Pihak Sekolah

Menurut dia ,harus dihargai upaya Binus School Serpong untuk hadir menjadi lembaga pendidikan yang layak disebut sekolah elit, dengan menyiapkan sarana yang baik, tenaga pendidikan, dan pendidik yang berkompeten.

Selain itu, juga kurikulum yang diberlakukan di sekolah itu konon berstandar Cambridge, sehingga kemudian berbiaya mahal.

BACA JUGA: Tanggapi Pertemuan Jokowi-Surya Paloh, Anies: Tontonan Saja Itu

"Namun tentu saya ikut prihatin, effort yang keras itu belum bisa menghapus praktik perundungan," kata Prof Zainuddin.

Dia mengatakan sejumlah siswa sekolah itu yang bergabung dalam Geng Tai, justru melakukan perundungan ketika hendak merekrut calon anggotanya sehingga  korban mengalami trauma dan harus dirawat di rumah sakit.

BACA JUGA: Reaksi AHY Ditanya soal KSP Moeldoko Tak Hadiri Pelantikannya di Istana, Waduh

Legislator PAN itu menilai Binus School Serpong sudah berupaya keras mendidik siswanya dengan memberi layanan pendidikan terbaik. Namun, masih bisa kecolongan.

"Masalahnya karena pendidikan tidak bisa berjalan sendiri," kata mantan Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur itu.

Sebagai penyelenggara pendidikan, Binus School Serpong masih harus didukung oleh semua pihak, baik orang tua, masyarakat, maupun pemerintah.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya mengatakan guru yang tidak mengetahui adanya siswa yang bergabung dengan geng kriminal, juga harus meningkatkan perannya di lembaga pendidikan.

"Di sekolah, guru diharapkan juga bisa menjalankan fungsi sebagai orang tua, sehingga bisa mengenal lebih dekat watak bawaan siswanya,” ujar politikus asal Dapil Gresik Lamongan itu.

Begitu pula orang tuanya di rumah, tidak beranggapan pendidikan anak sudah diserahkan kepada sekolah. Harus disadari tanggung jawab pertama pendidikan ada di pundak ayah dan ibunya.

"Orang tua yang baik, adalah orang tua yang anak-anaknya siap mengatakan orang tuaku ya guruku," kata penulis buku Sosiologi Pendidikan itu.

Selain itu, katanya, siswa yang bergabung dalam geng dengan perilaku menyimpang, intoleran, miskin empati, gampang melakukan perundungan, tentu karena lepas dari pengamatan guru di sekolah dan orang tua di rumah. Begitu juga, luput dari kontrol masyarakat.

"Seandainya masyarakat turut bertanggung jawab, tentu mereka tidak memiliki tempat melakukan perundungan dan berbagai perilaku menyimpang di luar sekolah," ujar Prof Zainuddin.(fat/jpnn.com)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler