Cara Jokowi Meyakinkan Investor Korsel untuk Masuk ke Indonesia

Senin, 25 November 2019 – 20:49 WIB
Presiden Jokowi bertemu para  CEO perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan (Korsel) di Hotel Lotte, Busan, Senin (25/11). Foto BPMI Setpres

jpnn.com, BUSAN - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri working lunch dengan sejumlah CEO perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan (Korsel), di Hotel Lotte, Busan, Senin (25/11). Jokowi menjelaskan alasan mengapa Indonesia merupakan tempat investasi yang tepat bagi investor negara ginseng itu.

Mulanya Presiden ketujuh RI itu menyampaikan bahwa pada era yang penuh dengan ketidakpastian, masa depan dunia akan dimotori oleh emerging economy seperti Indonesia. Pada saat banyak negara mengalami aging society, Indonesia justru memiliki usia produktif yang besar dengan bonus demografi yang besar pula.

BACA JUGA: Istana Anggap Pernyataan Fadli Zon Hiburan untuk Pak Jokowi

"Dan di saat banyak negara mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi, Indonesia masih menikmati pertumbuhan ekonomi yang lebih dari lima persen per tahun selama lima tahun ini," kata Jokowi.

Selain itu, pada saat banyak negara mengalami ketidakpuasan, stabilitas politik, di Indonesia kondisinya cukup terjaga. Pada saat banyak negara cenderung melakukan proteksionisme, Indonesia menjadi koordinator bagi perundingan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). 

BACA JUGA: Nikmati Makanan Khas Korsel di Desa Gamcheon, Jokowi: Bisa jadi Inspirasi

"Indonesia telah menyelesaikan negoisasi Indonesia-Korea CEPA," tukas suami Iriana itu.

Di hadapan para CEO Korsel tersebut, Jokowi menyatakan komitmen Indonesia untuk membuat iklim investasi yang semakin menarik dalam lima tahun ke depan. Penyederhanaan aturan dan birokrasi juga akan terus dilakukan guna mendukung hal tersebut. 

BACA JUGA: Presiden Jokowi Ingin Membangun SDM, Tetapi Masalah Guru Menumpuk

"Pada saat yang sama saya menekankan bahwa investasi di Indonesia harus menciptakan lapangan kerja. Saya juga menekankan investasi tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar, namun juga menjadikan Indonesia sebagai hub produksi," jelasnya.

Kepala Negara juga menyampaikan, terkait dengan penyederhanaan aturan, pemerintahannya akan melakukan pemangkasan sekitar 70 hingga 74 undang-undang secara sekaligus dalam waktu bersamaan melalui omnibus law. Sehingga, peraturan yang menghambat penciptaan lapangan kerja dan investasi bisa disederhanakan.

"Dan juga pemangkasan birokrasi kami yang semakin sederhana sehingga keputusan-keputusan yang diambil nanti juga akan semakin cepat. Yaitu nantinya akan dipangkas eselon IV dan eselon III di birokrasi kami," ungkapnya.

Rencana Pemindahan Ibu Kota Negara

Di forum itu, Presiden Jokowi juga menjelaskan soal rencana pemindahan ibu kota Indonesia dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Nantinya, kota tersebut akan dirancang menjadi sebuah kota yang pintar, hijau, aman, inklusif, dan kuat.

"Indonesia terbuka untuk melakukan kerja sama dalam rangka pemindahan ibu kota ini, dan marilah sekali lagi saya mengajak untuk menguatkan kerja sama ekonomi kita, kerja sama perdagangan kita, kerja sama investasi kita, antara Indonesia dan Korea," ajaknya.

Terakhir, Jokowi meminta para pelaku usaha untuk tidak segan-segan menyampaikan kendala yang dihadapi kepada Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Presiden memberikan contoh soal pembebasan lahan Lotte di Cilegon yang telah diselesaikan oleh Kepala BKPM.

"Kalau ada masalah-masalah yang lain, tolong sampaikan kepada Pak Bahlil," tandasnya. (fat/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler