Catat, Ini Rekomendasi Konferensi Besar Fatayat NU di Ambon

Senin, 30 April 2018 – 03:05 WIB
Acara penutupan Konbes Fatayat NU di Ambon, Maluku, resmi ditutup pada Minggu (29/4). Foto: istimewa

jpnn.com, AMBON - Konferensi Besar (Konbes) Fatayat NU yang berlangsung selama empat hari di Ambon, Maluku, resmi ditutup pada Minggu (29/4).

Namun, sebelumnya seluruh peserta Fatayat NU telah menyelesaikan sidang pleno dan menghasilkan beberapa rekomendasi.

BACA JUGA: Gerakan Perempuan Indonesia Timur Dipamerkan Lewat Fotografi

Pertama, dalam bidang politik Fatayat NU mengajak seluruh masyarakat Indonesia terutama perempuan untuk menjadi agen perdamaian. Fatayat NU menghimbau masyarakat untuk menerapkan demokrasi sehat.

Di tahun politik semua hal bisa terjadi termasuk ancaman perpecahan. Maka perempuan sangat berpotensi untuk mampu meredam konflik dengan cara yang baik.

BACA JUGA: Menpora Ikut Bikin Mural Kebangsaan di Konbes Fatayat NU

Selain itu, Fatayat NU mengimbau perempuan Indonesia yang memiliki potensi untuk ikut berpartisipasi dalam kancah politik. Karena masalah ketertinggalan perempuan di ranah politik dan kebijakan publik masih minim.

Sehingga jika perempuan potensial terjun di dalamnya maka resiko masalah anak dan perempuan di negeri ini bisa lebih diminimalisir.

BACA JUGA: Fatayat NU: Perempuan Berperan Penting dalam Tahun Politik

Dalam hal ekonomi, Fatayat NU mendorong berbagai pihak dan kementerian terkait untuk lebih memperhatikan peluang bagi perempuan. Aturan dan kebijakan yang di produksi seharusnya juga ramah perempuan. Termasuk peluang bisnis, pemerintah hatus membuka akses yang lebih mudah bagi perempuan.

Kedua, dalam bidang advokasi dan hukum Fatayat NU mengajak seluruh perempuan untuk lebih sensitif terhadap ancaman kekerasan seksual dan fisik. Tidak hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga untuk anak-anak.

Angka kekerasan terhadap ibu dan anak setiap tahun terus meningkat. Maka Fatayat NU mendorong pemerintah baik legislatif, eksekutif, kepolisian, dan seluruh pihak agar lebih serius dalam penanganan kasus ini.

Fatayat juga mengajak seluruh organisasi perempuan untuk terus memperjuangkan masalah kawin anak. Indonesia masih menempati urutan kedua di Asia Tenggara dengan jumlah kawin usia anak terbesar.

Pada masalah kesehatan, Fatayat NU serius menangani kasus gizi dan tumbuh kembang anak. Sampai saat ini Fatayat NU masih aktif terlibat dalam upaya pencegahan stanting. Berbagai program dan kerjasama dilakukan agar dapat terus mengkampanyekan gerakan cegah stanting. Demi menjaga kualitas generasi penerus bangsa ini.

Disisi lain, fenomena PTM (penyakit tidak menular) di Indonesia terus meningkat. Ini terjadi salah satunya karena rendahnya kesadaran masyarakat akan upaya pencegahan dini. Termasuk ancaman kanker serviks yang menjadi ancaman serius perempuan Indonesia.

Maka Fatayat NU mendorong seluruh perempuan Indonesia untuk gerakan sadar sehat. Disamping itu pemerintah dan pihak terkait menjadi kunci penting dalam menjaga kekuatan bangsa melalui kondisi masyarakatnya yang sehat.

"Dari segala aspek di atas, hal utama yang dibutuhkan adalah kerjasama lintas sektor, kerja keras semua pihak termasuk organisasi perempuan," jelas Anggia.

Gerakan pemberdayaan perempuan dari Timur Indonesia dalam agenda Konbes Fatayat NU juga menghasilkan rekomendasi internal yang terinspirasi dari sumberdaya perempuan Maluku. Salah satunya pentingnya membangun wawasan perempuan tentang literasi digital.

Potensi perempuan akan lebih maksimal kalau ditunjang dengan pemahaman mereka tentang teknologi. Minimal kemampuan untuk memasarkan hasil produk, menggali wawasan dan bisa memberdayakan perempuan lain.

"Jadi rekomendasi internal untuk literasi digital adalah, kami akan mengupayakan terbentuknya Fatayat TV sebagai media untuk bisa mengakomodir dan mengeksplorasi potensi perempuan lebih maksimal" tutup Anggia.

Perhelatan Konbes Fatayat NU ditutup malam ini dengan mengadakan pesta rakyat dan parade budaya di pesisir pantai area Islamic Center Ambon. (jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Fatayat NU-Kemenpora Bersinergi Gelar POP I/2018


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler