Cerita Dahlan Iskan tentang Mualafnya Anak Lim Xiao Ming, Tionghoa Kaya di Surabaya

Minggu, 21 Agustus 2022 – 22:44 WIB
Dahlan iskan saat tahlilan meninggalnya Lim Xiao Ming (Herman Halim). Foto: Disway.id

jpnn.com - Kolumnis kondang Dahlan Iskan mengungkap cerita tentang mualafnya Lim Qing Hai, anaknya Lim Xiao Ming yang meninggal dunia di usia 70 tahun setelah dirawat di Singapura.

Dahlan mengaku tidak bisa menghadiri pemakaman Lim Xiao Ming, Tionghoa kaya Surabaya itu lantaran saat mendapat berita duka masih masih berada di Samarinda.

BACA JUGA: Cerita Dahlan Iskan Pergi Tahlilan Meninggalnya Tionghoa Kaya, Mualaf Berpengaruh di Surabaya

"Saya diundang tahlilan Jumat malam kemarin. Tahlilan tujuh hari. Di sebuah masjid Surabaya. Yang meninggal Lim Xiao Ming," demikian tulisan Dahlan Iskan.

Saat tahlilan itu, Dahlan bertemu dengan anak bungsu almarhum sahabatnya itu, Lim Qing Hai yang belum fasih berbahasa Indonesia.

BACA JUGA: Lim Xiao Ming

Lim Qing Hai yang bernama Indonesia Andrew Lim bisa berbahasa Inggris dan Arab. Sama fasihnya.

Dahlan menceritakan tahlilan itu diadakan di Masjid Cheng Ho Surabaya –masjid pertama di Indonesia dengan arsitektur Tiongkok.

BACA JUGA: Irjen Ferdy Sambo Marah, Putri Menangis, Analisis Reza Ada Skandal Cinta Terlarang

"Yang meninggal tadi memang salah satu pengurus Masjid Cheng Ho. Di masjid itu pula Lim Xiao Ming menyatakan diri menjadi mualaf. Nama Indonesianya: Herman Halim," tulisan Dahlan.

Herman Halim dahulu sering menjadi sumber pemberitaan bagi wartawan Surabaya, ketika mendiang menjabat ketua Persatuan Bank-bank Swasta Nasional Surabaya.

Almarhum juga menjadi ketua Yayasan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya –sekarang menjadi Universitas Hayam Wuruk.

Ketika Alim Markus mendirikan Bank Maspion, Herman Halim diminta menjadi direktur utama bank itu. Sampai meninggalnya.

Dalam tulisan itu, Dahlan juga menceritakan tentang sosok anak Herman Halim yang benar-benar masih sulit berbahasa Indonesia.

Sejak umur 6 tahun Andrew Lim sudah di Australia, bersama kakak-kakak dan mamanya. "Dia tumbuh menjadi anak-anak di Perth," tulisan Dahlan.

BACA JUGA: Info Terbaru BKN soal Pendataan Honorer & Pengangkatan Guru Lulus PG Jadi PPPK, Plong!

"Di sana saya jadi anak nakal," Dahlan menirukan ucapan Andrew yang mengaku begitu sering membolos sekolah. Sampai dikeluarkan dari SMA.

Andrew memang selalu berangkat dari rumah mengenakan seragam sekolah. Akan tetapi sering turun dari bus di halte sebelumnya untuk pindah angkutan umum jurusan mal.

"Andrew tidak mau lama-lama di halte bus. Takut ditangkap polisi. Pada jam sekolah, kok masih berkeliaran," lanjut Dahlan.

BACA JUGA: Profil Irjen Panca, Jenderal yang Sikat Judi di Medan dan Pernah jadi Atasan Ferdy Sambo

Maka Andrew sering menyeberang jalan dahulu. Mondar-mandir di pinggir jalan, menghabiskan waktu.

Suatu hari Andrew dipanggil seorang pemilik rumah di dekat jalan itu. Bapak itu meminta anak Herman Halim itu masuk ke rumahnya.

Diceritakan bahwa bapak yang punya rumah itu tidak ada nada marah, tidak terlihat menegur, dan tidak pula mencela apa pun.

"Andrew merasa nyaman. Andrew masih SMA berumur 15 tahun saat itu," tulisan Dahlan.

Tuan rumah juga punya anak sebaya. Lalu mereka berteman, bahkan bersekolah di satu SMA yang sama.

"Rumah itulah yang mengubah Andrew. Pemiliknya orang dari Sulawesi Selatan. Orang Bugis," ungkap Dahlan dalam tulisannya.

Disebutkan banyak remaja lain yang juga suka main di rumah itu. Mereka dari berbagai bangsa.

Hanya Andrew yang Tionghoa –akan tetapi dia sama sekali tidak merasa dibedakan. Bahkan, ketika tiba waktunya salat banyak yang berhenti main untuk beribadah.

"Tanpa ada yang berusaha mengajak Andrew salat. Mereka tahu Andrew bukan Islam. Juga beberapa teman lainnya," tulisan Dahlan.

Setelah selesai salat semua bergabung lagi. Pesta-pesta lagi. Setahun kemudian, di umur 16 tahun, Andrew memberi tahu temannya: ingin menjadi mualaf.

Andrew pun mengucapkan kalimat syahadat di satu masjid di Perth. Ayahnya juga diberitahu dan tidak mempersoalkan.

"Beberapa tahun kemudian saya ditelepon papa. Papa juga jadi mualaf," tulisan Dahlan menirukan ucapan Andrew.

Andrew Lim lalu tamat SMA dengan baik dan langsung kuliah mengambil jurusan accounting.

Dia kemudian masuk komunitas Muslim. Suatu hari, Andrew tahu ada acara ''wanita Australia, kulit putih, mahasiswi, jadi mualaf''. Dia pun hadir di acara itu dan mengenal wanita yang akan bersyahadat.

"Seminggu kemudian dia mengajak saya menikah," tulisan Dahlan menirukan pengakuan Andrew. Jadilah anak Herman Halim beristrikan wanita Australia.

Setelah menikah, mereka lantas sepakat mendalami Islam di Malaysia, selama 1,5 tahun.

Kini Andrew Lim tinggal di Arab Saudi. Di Jeddah. Dia menjadi eksekutif di Islamic Development Bank (IDB). Sudah hampir 10 tahun di sana.

Apakah pernah bertemu lagi dengan orang Sulsel di Perth itu?

"Pernah. Terakhir tiga tahun lalu. Bertemunya kebetulan. Sama-sama sedang di bawah Clock Tower di Makkah," demikian Dahlan menulis penjelasan Andrew.

Di Arab Saudi, Andrew dipanggil dengan nama Abdurrahim. Maka nama Lim Qing Hai hidup berdampingan dengan nama Andrew Lim, tetapi di paspornya tertulis Andrew Abdurrahim.

Rupanya, setelah jadi mualaf dia memilih memakai nama itu. "Idenya dari nama penyanyi rap terkenal Amerika: Rahem. Tinggal ditambah Abdur," tulisan Dahlan.

Dahlan juga menanyakan apakah anak-anak Andrew masih punya nama Tionghoa?

"Masih. Harus," tulisan Dahlan sesuai jawaban Andrew Lim alias Andrew Abdurrahim. (disway/jpnn)


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi, M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler