Cerita DJ yang Rela Tampil tanpa Busana

Rabu, 11 Januari 2017 – 03:40 WIB
Cerita DJ yang Rela Tampil tanpa Busana. Foto Jawa Pos/JPNN.com

jpnn.com - jpnn.com - Beginilah penggalan lagu berjudul 'Ini Zaman Uang" yang dinyayikan almarhum Abiem Ngesti.
Jatuh cinta bisa karena uang
Yang pendek tampak jangkung
Yang pesek jadi mancung
Itu semua karena uang

Lagu dangdut ini seolah menggambarkan kehidupan kekinian.

BACA JUGA: DJ tak Berbusana Menggoda: Boleh Pegang Mas

Lirik lagu itu pun ditutup dengan:

Mina jadi Mince, juga karena uang
Yanto jadi Yanti, juga karena uang

BACA JUGA: Diskotek Undercover dengan Aksi DJ tanpa Busana

Tak bisa dipungkiri bahwa uang menjadi motivasi utama dalam pekerjaan-pekerjaan panas seperti show DJ bugil.

Duit pun bisa didapat dengan gampang karena berbekal musikalitas tak seberapa dan keberanian tampil seronok.

BACA JUGA: Jelang Tahun Baru, Polri Gelar Razia di Tempat Dugem

Hal itu juga diakui Juliet. DJ cantik ini mengatakan, sejak lama dirinya mencari uang dari kehidupan malam di Jakarta.

Sebelum menjadi topless DJ, dia adalah seorang LC dan stripper di sejumlah kelab di ibu kota. Kemudian, dia bertemu dengan Michael, lalu ditawari untuk diajari menjadi DJ.

“Jadi DJ memang butuh diajari. Kalau masalah topless-nya, nggak usah diajari. Sudah pinter,” seloroh perempuan yang mengaku sebagai single mother itu.

Dia menuturkan, statusnya sebagai ibu satu anak tanpa memiliki suami juga mendorongnya mencari uang dengan gampang dalam jumlah banyak dan cepat.

Sebenarnya, itu alasan klise sih dari cewek-cewek yang berkecimpung di dunia malam.

Setahun terakhir, dia menekuni profesi sebagai topless DJ dan mengaku betah. Kemudian, dia pun meninggalkan pekerjaan sebagai LC dan stripper.

Selain memanfaatkan uang untuk membiayai anaknya, dia harus mengalokasikan duitnya untuk perawatan kecantikan dan membeli properti.

Misalnya, kostum-kostum unik yang dikenakan saat beraksi.

“Ada macam-macam kostum. Ada superhero, suster seksi, hingga seragam sekolah,” jelas perempuan 27 tahun itu.

Pengeluarannya besar. Pemasukannya juga besar. Dia tidak menyebut secara perinci, tetapi bisa dikalkulasi.

Juliet mengakui, dirinya punya sekali jadwal untuk manggung. Dalam sebulan, minimal ada sekali undangan untuk tampil di private party.

Dengan fee Rp 6 juta sekali tampil, dalam sebulan, paling tidak dia tampil lima kali.

Jadi, dalam sebulan, dia minimal mengantongi Rp 30 juta. Dengan dipotong fee 10 persen untuk agensi, dia masih bisa dapat Rp 27 juta.

Besarnya duit yang diterima berbanding terbalik dengan musikalitas dangkal. Tidak mengherankan, topless DJ pun dibanjiri cemoohan dari kolega sesama DJ.

Salah satunya, Tenashar, DJ seksi asal Singapura, yang pernah dinobatkan sebagai DJ terbaik nomor 87 di dunia oleh DJ Mag itu merasa topless DJ bisa memperburuk citra DJ perempuan.

Menurut dia, sebagai DJ, yang paling penting tetap kemampuan bermusik. Kecantikan dan seksi itu hanya bonus.

“Ya, memang banyak yang bilang saya suka tampil seksi. Tapi, saya nggak mau tampil topless,” tegasnya. “Dikasih uang sedunia pun saya tolak,” tambahnya.

Di sisi lain, pendapat berbeda keluar dari DJ T-Sha. Mantan personel girlband 7icons tersebut menuturkan, itu adalah pilihan masing-masing. Sebab, setiap DJ punya konsep dan pasar berbeda-beda.

“Mereka begitu, saya begini. Semua adalah pilihan masing-masing,” ucap perempuan bernama asli Savitri Listya Widyanti Shaimoery tersebut.

(Tim Jawa Pos/co4/nar/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tarif Sekali Main dengan Anak Diskotek dan SPG Rp1,5 Juta


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler