CIA Punya Rekaman MBS Memerintahkan Khashoggi Dibungkam

Jumat, 23 November 2018 – 11:45 WIB
Pangeran Mohammed bin Salman. Foto: Reuters

jpnn.com, ISTANBUL - Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) adalah otak di balik pembunuhan Jamal Khashoggi. Badan Pusat Intelijen Amerika Serikat (AS) alias CIA punya buktinya. Kesimpulan itu dipaparkan Abdulkadir Selvi, kolumnis Hurriyet Daily, dalam bentuk tulisan, Kamis (22/11).

Selvi menyebut bukti yang dipunyai CIA soal pembunuhan di Konsulat Arab Saudi di Istanbul itu berupa rekaman. Tepatnya, rekaman perbincangan MBS dan adiknya, Pangeran Khaled bin Salman. Khaled adalah duta besar Saudi untuk AS.

BACA JUGA: Bela Saudi di Kasus Khashoggi, Trump Dipanggil Senat

"(Di rekaman itu) Dikatakan bahwa putra mahkota menginstruksikan pembungkaman Jamal Khashoggi secepatnya," terang Selvi. Fakta tersebut terekam dalam telepon yang disadap CIA.

MBS, konon, geram atas kritik terbuka yang Khashoggi sampaikan lewat tulisan-tulisannya di surat kabar. Saat masih berada di Saudi, MBS bisa menggunakan kekuatannya untuk merepresi pria 59 tahun itu. Tapi, pada 2017, Khashoggi hijrah ke Amerika Serikat (AS). Di negara itu, dia menjadi kolumnis Washington Post.

BACA JUGA: Trump Pilih Duit Saudi ketimbang Jamal Khashoggi

Tidak berada di Saudi justru membuat Khashoggi makin rajin mengkritisi MBS. Sang putra mahkota berang. Dia pun lantas memanggil pulang ayah Salah tersebut. Tapi, Khashoggi tak menggubris perintah-perintah itu.

Maka, saat Khashoggi ke Turki untuk mengurus rencana pernikahannya dengan Hatice Cengiz, MBS mengirimkan tim khusus dari Saudi. Tujuannya, menurut Riyadh, menjemput paksa Khashoggi.

BACA JUGA: Trump Abaikan Bukti MBS Dalang Pembunuhan Khashoggi

Ada 15 orang dalam tim yang dikirim ke Istanbul pada 2 Oktober itu. Pada hari itu, Khashoggi tewas. Dia dibunuh dan kabarnya dimutilasi. Tapi, sampai sekarang, jenazah sepupu Dodi Al Fayed tersebut tidak pernah ditemukan.

Saat Direktur CIA Gina Haspel berkunjung ke Istanbul bulan lalu, intelijen Turki memperdengarkan rekaman suara terakhir Khashoggi. Itu membuktikan bahwa berita yang disebarluaskan media Turki soal pembunuhan keji tersebut bukan isapan jempol belaka. Turki benar-benar memiliki rekaman tersebut.

Menurut Selvi, jika rekaman milik intelijen Turki itu didengar masyarakat internasional, dunia akan gempar. "Ada banyak hal yang tidak terduga di balik kasus ini," ungkapnya. CIA, imbuh dia, punya banyak rekaman telepon yang tidak diungkap ke publik terkait kasus tersebut.

Sebelumnya, Hurriyet Daily menuliskan bahwa Khashoggi dilarang aktif di media pada 2016 setelah dia mengkritik Presiden Donald Trump dalam forum internasional yang diselenggarakan The Washington Institute. Pasca kejadian itu, Al Hayat langsung menghentikan kolom Khashoggi. Dia juga dilarang tampil di televisi dan menghadiri konferensi.

The Knight First Amendment Institute menyatakan bahwa sesungguhnya pembunuhan Khashoggi bisa dicegah. Sebab, CIA mencium gelagat tersebut sejak jauh hari. Sayang, lembaga yang dipimpin Haspel itu tidak memberikan peringatan. Alasan tersebut membuat institut yang berbasis di Columbia University itu menggugat CIA.

Secara terpisah, pemerintah Denmark telah menghentikan persetujuan ekspor senjata dan peralatan militer ke Arab Saudi. Menlu Denmark Anders Samuelsen menegaskan bahwa itu merupakan reaksi atas pembunuhan Khashoggi dan peranan Saudi atas perang di Yaman. Sebelumnya, Jerman telah menghentikan seluruh transaksi senjatanya dengan Saudi. (sha/c17/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... CIA Ungkap Peran Adik Pangeran MBS di Pembunuhan Khashoggi


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler