Covid-19 Berbahaya, Vaksin dan 3M Cara Mencegahnya

Rabu, 02 Desember 2020 – 21:51 WIB
Ilustrasi - Waspada Virus Corona (COVID-19). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Erika mengaku awalnya takut tertulari Covid-19.

Namun, pengalamannya menangani pasien positif Covid-19 menumbuhkan keberanian untuk bisa menanggulangi virus itu.

BACA JUGA: Penyerahan Surat Panggilan Kedua kepada Rizieq Shihab Diwarnai Drama Pengadangan, Warga Resah

Hal itu disampaikan Erika dalam Dialog Produktif bertema Indonesia Siapkan Vaksin, yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Rabu (02/12).

“Jujur, rasa takut terpapar Covid-19 masih ada sampai sekarang, namun pengalaman merawat pasien sampai melihat mereka sembuh mengalahkan rasa takut saya," kata dia.

BACA JUGA: Kenapa Testing Covid-19 Itu Sangat Penting? Simak Kata Bu Dewi

Namun, kata Erika, Covid-19 ini sangat rentan dengan pasien komorbid jantung dan hipertensi tinggi.

Perawatan untuk pasien COVID-19 kategori itu perlu penanganan ekstra.

BACA JUGA: Pengakuan Mas DA, Begituan Berkali-kali, Direkam, Tak Menyangka Pacarnya Ternyata

“Pasien COVID-19 dengan komorbid jantung dan hipertensi cukup tinggi."

"Pasien COVID-19 dengan komorbid jantung secara otomatis menciptakan problem tersistematis (systemic problem) yang perawatannya jauh lebih sulit daripada yang tanpa komorbid," terang dia.

Sementara itu, Anggota Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional dari Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Soedjatmiko mengatakan, Covid-19 ialah penyakit yang berbahaya.

Oleh karena itu upaya pencegahan seperti 3M perlu ditekankan.

“Ayo cegah Covid-19 dengan 3M dan 3T, tetapi harus ditambah dengan vaksinasi yang memiliki cakupan 70 persen, diharapkan penularan akan terhambat, pandemi melambat, dan ekonomi akan meningkat," ungkap dia.

Melihat kondisi pandemi akhir-akhir ini yang cukup sulit untuk dikendalikan oleh sejumlah negara di dunia, inisiatif melakukan intervensi kesehatan melalui vaksin pun perlu dilakukan.

“Sejak Mei China sudah mulai menyiapkan vaksin, WHO juga memulai langkah sama di bulan Juni, sementara di Amerika dan Eropa juga memulai persiapan kandidat vaksin di bulan Juni-Juli," tuturnya.

Vaksinasi, kata Soedjatmiko merupakan langkah yang aman dan umum dilakukan di dunia, termasuk di Indonesia.

Indonesia telah melakukan vaksinasi kepada jutaan jiwa sejak 1974 dan terbukti aman. 

Percepatan penemuan vaksin dengan tetap memperhatikan asas keamanan dan efektivitas sangat diperlukan saat ini. 

“Tujuannya adalah untuk menurunkan kematian dan kesakitan masyarakat, tetapi harus diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)."

"Di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) juga ada yang Namanya Data Safety Monitoring Board (DSMB) dan ada Komite Etik juga di Unpad."

"Perkara vaksin mana yang dipakai itu nanti biar pemerintah yang menentukan, tetapi salah satu vaksin yang mungkin akan dipakai di Indonesia adalah vaksin Sinovac yang sudah diuji klinik fase III di Bandung," tandasnya. (ast/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur : Rasyid Ridha
Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler