Kebanyakan orang di Amerika akan mengatakan jika 11 September 2001 adalah salah satu hari yang paling kelam dalam kehidupan mereka..

Peristiwa hancurnya dua gedung pencakar langit di New York menjadi sejarah yang paling mematikan di zaman modern dengan korban meninggal sebanyak hampir 2.977 orang.

BACA JUGA: Dokter Hermanu Kusuma Widodo Meninggal Dunia Akibat COVID-19

Sekarang, korban yang meninggal akibat pandemi COVID-19 telah mengalahkan angka tersebut, dengan lebih dari 3.000 orang meninggal, Rabu kemarin, menurut data yang dikumpulkan oleh Johns Hopkins University.

Ada kemungkinan korban meninggal akibat COVID-19 akan menjadi tolak ukur baru saat memperhitungkan korban tragedi kemanusiaan di masa depan.

BACA JUGA: Bamsoet: Herbal Anti-Corona Indonesia Tidak Kalah dari Tiongkok dan Ginseng Korea

Photo: Naeha Quasba kehilangan ayahnya karena virus corona dan tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan. (Supplied: Naeha Quasba )

 

Keluarga Naeha Quasba termasuk diantara jutaan warga Amerika Serikat yang kehidupannya akan berubah selamanya akibat virus corona yang telah menyebabkan hampir 280.000 orang meninggal di Amerika Serikat.

BACA JUGA: Australia Setop Pengembangan Vaksin COVID-19 Gegara Ada Kasus HIV

"Ayah saya harus diisolasi saat itu dan kami tidak bisa melihatnya, sampai hari ini saya masih masih kepikiran," kata Naeha.

"Saya merasa setengah dari kesedihan saya adalah karena tidak bisa bersamanya selama waktu [isolasi] itu.

"Percakapan video yang kami lakukan dengannya sangat singkat dan akhirnya berhenti sama sekali karena ayah saya menjadi sangat lemah."

"Ayah saya pada dasarnya kehilangan harapan dan dia berhenti menjawab semua panggilan telepon." Photo: Ramash Quasba adalah satu dari sekian banyak korban virus corona di Amerika Serikat. (Supplied: Naeha Quasba)

 

Perempuan yang berprofesi sebagai dokter umum tersebut kehilangan ayahnya, Ramash, pada September lalu.

Sebelumnya, ayahhnya tersebut dirawat selama 40 hari di rumah sakit, lebih dari setengahnya menggunakan ventilator, dan enam hari lainnya dia tidak responsif.

"Ini seperti 9/11 setiap hari," kata Quasba.

"Sungguh tragis memikirkan jumlah orang yang meninggal pada 9/11. [Tapi] juga tragis memilikirkan jumlah orang yang meninggal dalam sehari selama pandemi yang telah berlangsung selama 10 bulan ini."

"Tapi saya merasa kita seharusnya tidak perlu mengatakan itu. Dari yang kita lihat, bahaya dari virus ini sudah cukup bagi orang untuk menyadari betapa mengerikannya." Jumlah infeksi dan kematian terus meningkat Photo: Jumlah harian kasus di Amerika Serikat akibat COVID-19 melampaui jumlah korban serangan teroris 9 September 2001. (AP: Jae C Hong)

 

Setiap hari, rekor baru dipecahkan di Amerika Serikat.

Tepat sepekan lalu, 227.885 orang tertular virus, menurut data Johns Hopkins University.

Jumlah orang di rumah sakit yang menerima perawatan telah melampaui 106.000, lebih tinggi dari sebelumnya, sesuai laporan Proyek Pelacakan COVID, Rabu kemarin (09/12).

Lebih dari 280.000 orang di Amerika meninggal karena COVID-19 hingga saat ini dan pejabat kesehatan memperingatkan jumlah korban bisa meningkat menjadi 450.000 pada awal tahun 2021.

Kekhawatiran dari pertemuan keluarga-keluarga di Hari Thanksgiving akan menyebabkan lonjakan kasus menjelang Natal.

"Ini akan terlihat dalam waktu 7-10 hari ke depan, untuk melihat apakah perjalanan, pertemuan sosial dan hal-hal sejenisnya akan berdampak di negara bagian," kata Jeffrey Gold dari Nebraska Medical.

"Semua orang merasa prihatin soal itu, termasuk saya, kami harus menunggu beberapa saat untuk melihat dampak yang sebenarnya."

Apa yang dimulai di pantai timur dan barat Amerika Serikat sekarang mulai mewabah di kawasan regional.

Di negara bagian asal Dr Gold, Nebraska, tingkat penularannya sekitar dua kali lipat rata-rata nasional.

"Awalnya fenomena dari kedua pesisir itu terjadi pada Maret dan April," katanya.

"Sekarang jika Anda melihat peta, area dengan pertumbuhan tercepat berada di bagian tengah negara itu." Vaksin sudah dekat

Panel penasihat untuk Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat (FDA) telah memberikan suara untuk mendukung penggunaan darurat vaksin virus corona Pfizer.

Langkah ini akan membuka jalan bagi badan tersebut untuk mengesahkan penyuntikkan vaksin di Amerika Serikat.

Penyuntikkan vaksin Pfzier dapat dimulai dalam beberapa hari, tergantung seberapa cepat FDA menandatangani sesuai rekomendasi komite ahli.

Dalam pemungutan suara tersebut 17 suara menyatakan memberikan izin, 4 menolaknya, dan satu abstain.

Dari hasil ini penasihat pemerintah menyimpulkan vaksin dari Pfizer dan mitranya dari Jerman, BioNTech, akan dinyatakan aman dan efektif untuk penggunaan darurat pada orang dewasa dan remaja berusia 16 tahun ke atas.

Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa

Yuk, Simak Juga Video ini!

BACA ARTIKEL LAINNYA... Inilah Fasilitas dan Kemudahan dari Bea Cukai Soekarno Hatta untuk Vaksin Covid-19

Berita Terkait