Dahlan Berpeluang Dampingi Prabowo

Rabu, 16 April 2014 – 06:12 WIB

JAKARTA - Sesuai hasil hitung cepat, partai-partai menengah akan menentukan poris koalisi yang digalang PDIP, Partai Golkar, dan Partai Gerindra sebagai penghuni tiga besar pemilu legislatif. Partai Demokrat yang perolehan suaranya tidak menembus 10 persen termasuk yang segera mengambil keputusan menghadapi pilpres.
    
Tadi malam (15/4), bertempat di kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Cikeas, Bogor, sejumlah elite partai berlambang mercy itu berkumpul. Informasinya, mereka membahas arah koalisi Demokrat. Termasuk, bagaimana nasib 11 peserta konvensi yang selama ini telah menjalani rangkaian debat di berbagai kota.
    
Hingga tengah malam, belum ada penjelasan dari Demokrat soal pertemuan tersebut. Namun diperkirakan, salah satunya soal persiapan tentang pertemuan hari ini (16/4) dengan Partai Gerindra.
    
Ihwal rencana elite Demokrat dan Gerindra diungkapkan Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi. SBY rencananya akan mewakili Demokrat saat bertatap muka dengan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. "Kita lihat bagaimana besok (hari ini, Red.). Bisa saja ada keputusan," kata Suhardi kemarin.
    
Menurut dia, SBY dan Prabowo sudah beberapa kali melakukan pertemuan. Apalagi keduanya memiliki latar belakang yang sama, yakni militer, bahkan rekan satu angkatan. Suhardi mengatakan ada kedekatan emosional antara keduanya yang memungkinkan saling memberikan masukan. "(Untuk Gerindra) pelaksanaannya terserah beliau (Prabowo)," katanya.
    
Terpisah, anggota Dewan Pembina Demokrat Jafar Hafsah mengharapkan, pertemuan hari ini bisa menghasilkan kesepakatan. Misalnya terkait dengan tokoh yang akan diajukan sebagai cawapres bagi Prabowo. Dia menyebut nama Dahlan Iskan yang memiliki elektabilitas paling tinggi di antara peserta konvensi memiliki peluang.
    
"Bisa Dahlan Iskan. Tergantung sinyal dari capresnya. Biasanya kalau tentara, akan pilih yang bukan tentara," katanya di kompleks parlemen. Menurutnya, sebelas peserta konvensi juga bisa ditawarkan kepada Prabowo sebagai cawapresnya.
    
Ketua Komite Konvensi Demokrat Maftuh Basyuni juga masih berharap yang terbaik bagi konvensi. Namun, dia tidak menutup mata terhadap hasil pileg yang cukup mengecewakan bagi PD. Karena itu, saat ini pihaknya hanya bisa menanti keputusan dari Majelis Tinggi Demokrat terkait nasib konvensi.
   
"Nah sekarang kita tahu, perolehan pileg tidak menggembirakan. Sehingga kita tunggu apa yang akan diputuskan Majelis Tinggi," ujarnya saat ditemui di Kantor Kemenkopolhukam.
      
Maftuh pun berharap Majelis Tinggi Demokrat bisa membuat keputusan terkait konvensi, secepatnya. Dia pun merasa keberadaan konvensi tidak sia-sia. Sebab, dengan adanya konvensi, rakyat bisa mengenal calon presidennya.
      
"Sampai dengan hari ini, cara yang terbaik adalah konvensi. Rakyat tahu persis presidennya nanti. Kalau sekarang kalah, ya memang nasib. Tugas kami hanya siapkan presiden. Kita berharap secepatnya ada keputusan," imbuhnya.
    
Pada perkembangan yang lain, peta koalisi antarpartai politik mulai menunjukkan arah yang jelas seiring dengan safari politik yang gencar dilakukan beberapa hari terakhir paska pelaksanaan pileg, 9 April lalu. Poros koalisi yang dimotori Partai Golkar mulai meraba-raba sosok cawapres yang akan mendampingi Aburizal Bakrie.
    
Tokoh-tokoh dari tiga partai yang berbeda masuk nominasi sebagai pasangan Ical dalam pilpres mendatang. Yakni PKS, Partai Hanura, dan PKB. Partai yang disebut terakhir sebenarnya sudah melakukan komunikasi dengan Jokowi, capres dari PDIP. Namun belum ada titik temu antara PDIP dan PKB terkait dengan figur cawapres pendamping gubernur DKI Jakarta itu.
    
Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Thohari mengungkapkan tiga kandidat tokoh dari tiga partai berbeda yang akan mendampingi Ical. "Pokoknya dari tiga sumber, dari Hanura, PKB, dan PKS," ujar Hajriyanto yang juga wakil ketua MPR di gedung parlemen, Jakarta, kemarin (15/4).
      
Hajriyanto tidak bersedia menyebut siapa tokoh yang dimaksud. Menurut dia, tidak etis untuk menyebutkan nama sebelum keputusan final diambil. Partai Golkar paska pileg saat ini tengah menjalin komunikasi intensif dengan ketiga parpol tersebut. "Komunikasi ini untuk membangun koalisi pada saat pilpres nanti," ujarnya.
      
Dia menambahkan, keputusan calon pendamping Ical baru akan diputuskan dalam Rapat Pimpinan Nasional Khusus (Rapimnasus) Golkar pada awal Mei 2014. Dengan demikian, Golkar telah memiliki pasangan capres dan cawapres sebelum Komisi Pemilihan Umum mengumumkan hasil penghitungan suara pemilu legislatif kemarin.
      
"Mudah-mudahan sebelum tanggal 3 Mei (diumumkan) karena kira-kira tanggal 3 Mei Golkar akan menyelenggarakan Rapimnasus," ujarnya.
      
Sosok capres PKB Mahfud MD bisa jadi menjadi kandidat terkuat cawapres Ical. Selain berasal dari Jawa Timur, basis massa Mahfud memenuhi persyaratan, terutama terkait basis massa yang dibutuhkan Ical. Di luar Mahfud, sosok capres PKS Ahmad Heryawan dan Hidayat Nur Wahid juga memenuhi persyaratan yang sama.
      
Sementara, dari Partai Hanura, sosok capres yang juga ketua umum Wiranto menjadi kandidat. Dalam berbagai survei, elektabilitas Wiranto tidak jauh berbeda dengan Ical. Namun, Wiranto memiliki ikatan historis, selain pernah menjadi capres dari Partai Golkar di 2004, Wiranto juga pernah menjadi cawapres kolisi Golkar-Hanura di pilpres 2009 mendampingi Jusuf Kalla.
      
Dari tiga partai itu, baru Hanura yang hampir dipastikan akan berkoalisi dengan Golkar. Sementara PKS dan PKB belum menentukan sikapnya. Sejauh ini, PKB sudah melakukan komunikasi dengan Jokowi, capres yang diusung PDIP.
      
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono juga masih belum bisa memberikan nama untuk mendampingi Ical termasuk calon dari intern partai belambang beringin itu. Agung menilai, perlu ada pengkajian lebih dalam terkait sosok pendamping dan format koalisi yang pas antar partai.
      
"Bagaimana kelanjutannya masih dalam proses. Ikuti saja karena ini memang masanya untuk segera dalam waktu tidak lama masing-masing membangun format koalisi yang pas baik menjelang pilpres maupun nanti pada waktu pembntukan pemrintahan baru," tuturnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat kemarin.
      
Dalam kesempatan itu, Agung juga turut menanggapi isu evaluasi Ical dalam Rapimnas 3 Mei mendatang. Agung mengatakan bahwa, Rapimnas akan lebih dikonsentrasikan pada perbaikan managemant partai, bukan sepenuhnya mengevaluasi Ical seperti kabar yang santer terdengar.  

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa, dalam Rapimnas tidak akan agenda penggantian Ical sebagai Capres yang diajukan oleh Golkar. "Saya kira tidak harus seperti itu. Kalau evaluasi apa saja bisa dievaluasi, tapi kan itu bukan berati langsung gusur sana gusur sini. Kita perbaiki managemant, karena ini penting untuk membangun suatu partai agar lebih optimal," ujar Menko Kesra itu. (fal/ken/bay/mia/agm)

BACA JUGA: PDIP Berkuasa, Aceh Berpotensi Merdeka

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jokowi: Cukup NasDem Saja, tak Butuh Partai Lain


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler