Dampak Siklon Tropis Cempaka, 4 Meninggal termasuk Aurora

Rabu, 29 November 2017 – 10:33 WIB
Air meluap di jalur Jogjakarta-Wonosari, tepatnya di Jembatan Bunder, Patuk (28/11). Foto: Gunawan/Radar Jogja/JPNN.com

jpnn.com - Dampak siklon tropis Cempaka, sejumlah daerah di Provinsi DI Jogjakarta kemarin dilanda bencana tanah longsor dan pohon tumbang. Tapi, ada juga yang mendapat berkah karenanya: penangkap bebek.
----
BUKAN main bingungnya Usman. Seluruh kegiatannya di Wonosari, Gunungkidul, telah selesai. Tapi, tak bisa pulang ke rumahnya di Jogjakarta.

Gara-garanya, jalur Gunungkidul–Jogjakarta terputus akibat banjir. Guyuran hujan deras di hampir semua wilayah Gunungkidul kemarin (28/11) menjadi penyebab.

BACA JUGA: Siklon Tropis Cempaka Hingga 2-3 Hari ke Depan, Waspada!

’’Saya (hanya bisa) menunggu hujan berhenti. Semoga air lekas surut,’’ kata Usman kepada Jawa Pos Radar Jogja yang menghubunginya kemarin.

Gunungkidul merupakan magnet baru wisata Jogjakarta. Pantai-pantainya yang elok menarik banyak wisatawan. Jadilah jalur utama Jogjakarta–Gunungkidul dan sebaliknya ramai dilalui.

BACA JUGA: BMKG Prediksi Hujan Lebat di Wilayah 6 Provinsi Ini

Menurut Kasatlantas Polres Gunungkidul AKP Mega Tetuko, penutupan dilakukan dengan sejumlah pertimbangan.

Misalnya, di jalur Jogjakarta–Wonosari, tepatnya di Jembatan Bunder, Patuk, air meluap cukup tinggi.

BACA JUGA: Satu Rumah Tertimbun Longsor di Muaradua, 5 Tewas, 2 Selamat

Kendaraan terpaksa balik kanan. Kemudian, jalan alternatif dari dan menuju Kecamatan Nglipar ditutup karena air naik di sekitar Jembatan Karangtengah.

Mega belum bisa memastikan kapan jalur kembali dibuka. ’’Kami mengimbau agar semua menjaga keselamatan masing-masing. Jangan nekat menerobos jalan,’’ ujarnya.

Evi, warga Playen, salah satu kecamatan di Gunungkidul, termasuk yang menjadi korban. Dia terpaksa memilih pulang melalui jalur Kecamatan Ngawen.

Itu pun dia harus berhati-hati karena genangan air sepanjang jalan terus naik. ’’Saya bersyukur akhirnya bisa pulang. Sempat takut karena kabar di media sosial simpang siur,’’ katanya.

Stasiun Klimatologi BMKG DIJ memang telah mengeluarkan peringatan dini dampak badai siklon tropis Cempaka.

Badai yang berpusat di perairan selatan Jawa itu diprediksi berlangsung hingga 30 November nanti. Dampak terbesar badai tersebut adalah timbulnya awan hujan di kawasan Jogjakarta.

’’Dampak terbesar justru di kawasan Gunungkidul dan Jogjakarta bagian selatan. Curah hujan per hari bisa mencapai 100 mm. Itu masuk golongan sangat lebat. Sementara untuk Jogjakarta utara hingga Sleman hanya berkisar 50 mm/hari,’’ jelas Koordinator Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Djoko Budiono kemarin (28/11).

Ada empat kabupaten (Sleman, Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo) serta satu kota (Jogjakarta) di Provinsi Jogjakarta.

Berdasar data Badan Nasional Penanggulangan Bencana Provinsi (BNPBP) Jogjakarta, sampai pukul 20.00 IB tadi malam, ada empat korban jiwa akibat badai siklon tropis.

Tiga di Kota Jogja dan satu lagi di Gunungkidul. Salah seorang korban tewas di Kota Jogja adalah bayi 4 bulan bernama Aurora.

Di Gunungkidul, 513 kepala keluarga juga terpaksa diungsikan. Tercatat, di kabupaten itu, tanah longsor terjadi di 6 titik, pohon tumbang (8 titik), dan banjir (24 titik).

Sementara itu, di Bantul, tanah longsor tercatat di 44 titik dan banjir di 24 titik. Pohon tumbang tercatat paling banyak, 67 titik.

Dari pemantauan cuaca BMKG, badai siklon tropis Cempaka memang tidak terjadi di daratan.

Hanya, ekor badai itu terdeteksi di sejumlah wilayah selatan Jogjakarta. Imbasnya, ada peningkatan curah hujan secara signifikan.

Kondisi tersebut diprediksi berlangsung selama tiga hari ke depan. Secara perlahan, badai akan bergerak ke arah selatan. Hanya, Djoko tetap meminta warga meningkatkan kewaspadaan.

BMKG juga turut mengeluarkan imbauan, khususnya kepada nelayan pantai selatan dan jadwal penerbangan di wilayah udara Jogjakarta.

’’Untuk penerbangan, perlu mewaspadai banyaknya awan yang terbentuk akibat badai ini. Untuk nelayan, perlu kewaspadaan terhadap bahaya tinggi gelombang dan angin kencang di wilayah pesisir. Ketinggian gelombang bisa sampai 6 meter,’’ ujarnya.

Bandara Internasional Adisutjipto Jogjakarta turut terdampak fenomena cuaca tersebut. Setidaknya, Angkasa Pura (AP) I selaku penanggung jawab memberlakukan closed runway, yakni kebijakan penerbangan berdasar jarak pandang pilot ke runway.

Sedikitnya puluhan jadwal penerbangan ditunda maupun dialihkan. Bahkan, hampir setengah hari bandara itu lumpuh. Kebijakan closed runway berlaku mulai pukul 09.30 hingga cuaca cerah.

’’Ada sekitar 21 jadwal penerbangan terdampak hingga pukul 14.35. Terdiri atas 10 penerbangan delay, 7 penerbangan dialihkan, satu penerbangan return to apron, dan tiga penerbangan return to base,’’ jelas Kepala Humas AP I Bandara Adisutjipto Liza Anindya.

Tapi, di balik bencana yang menimpa seluruh wilayah Jogja kemarin, tetap ada berkah. Misalnya, yang dirasakan Baid Kurnia Widhi.

Warga Tirtorahayu, Kecamatan Galur, Kulon Progo, itu sangat diandalkan warga terkait dengan keahliannya menjinakkan dan menangkap bebek dalam situasi banjir.

Ya, banjir di Kulon Progo kemarin mengakibatkan kandang-kandang bebek yang hanya setinggi lutut orang dewasa di Kecamatan Panjatan dan Galur jebol. Sontak, ratusan bebek peliharaan warga lepas terbawa bajir.

Unggas yang disasar telurnya itu biasanya menepi di dataran yang lebih tinggi. Di situlah jasa Widhi dibutuhkan.

’’Saya sudah sejak pagi mengevakuasi bebek,’’ ungkap Widhi saat mengevakuasi bebek di Desa Gotakan I, Kecamatan Panjatan, kemarin.

Menurut pria 39 tahun itu, dirinya biasanya menjual jasa mengantarkan bebek-bebek milik warga untuk diangon di sawah-sawah yang baru saja panen.

Namun, kali ini dia khusus disewa untuk mengevakuasi bebek-bebek korban banjir.

’’Di Desa Gotakan I ini saya tangkap 200 ekor bebek. Kalau ditotal dari pagi sampai siang ini, sudah mengevakuasi sekitar 600 ekor bebek korban banjir,’’ jelasnya.

Bagi yang tidak biasa, menangkap bebek bukanlah perkara mudah. Apalagi bebek dalam kondisi panik karena terkepung banjir.

’’Kebetulan, yang di Gotakan I ini lumayan lulut (jinak). Mungkin karena kelamaan dikepung banjir jadi stres. Sama kayak pemiliknya, hehehe,’’ selorohnya.

Seperti pawang binatang pada umumnya, Widhi memiliki alat khusus untuk menangkap bebek korban banjir.

Ada umpan bekatul dan nasi aking, kemudian jaring yang bisa ditegakkan dengan beberapa tiang bambu.

Ada pula pagar bambu yang dibentuk khusus (bisa ditutup ketika bebek-bebek itu masuk) mirip kandang bebek portabel.

’’Setelah masuk, tinggal saya pindahkan ke keranjang kotak yang sudah saya siapkan tertata di atas mobil pikap. Ya, cara pegangnya di bagian lehernya seperti ini, memang begitu,’’ ucapnya.

Supri, salah seorang pemilik bebek, mengungkapkan, menangkap bebek yang lepas liar tanpa bantuan sangatlah sulit.

Bahkan, untuk menggiring atau mengarahkan bebek, tidak hanya dibutuhkan kesabaran. Tapi juga tidak boleh grusah-grusuh. Jika tidak, bebek justru akan bubar tunggang-langgang.

’’Mas Widhi ini biasanya menyewakan jasa angkut bebek angon. Tapi, dalam kondisi banjir seperti ini, tenaganya sangat saya butuhkan. Untuk menyewa jasanya, saya bayar Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu,’’ ungkapnya. (gun/dwi/tom/laz/c5/ttg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bayi dan Lansia Meninggal Tertimbun Longsor Pangandaran


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler