Daya Juang Lulusan Perguruan Tinggi Rendah, Indonesia Butuh Renaisans Pendidikan

Rabu, 10 Februari 2021 – 21:47 WIB
Pengamat dan praktisi pendidikan Muhammad Nur Rizal. Foto tangkapan layar YouTube

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat dan praktisi pendidikan Muhammad Nur Rizal mengatakan, Indonesia membutuhkan renaisans di bidang pendidikan.

Revolusi pikir secara fundamental terhadap paradigma pendidikan Indonesia dibutuhkan untuk menghadapi pergeseran peradaban ini. 

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Eits, Abu Janda Jangan Senang Dulu, Gaya Kepemimpinan AHY di Demokrat Disentil, Aplikasi Berbahaya

"John Dewey bilang kondisi suatu bangsa bisa dilihat dari muka di kelas-kelasnya, maka pendidikan menjadi kunci utama dalam mendorong masyarakat Indonesia survive melewati gesekan konflik pergeseran peradaban ini," kata Nur Rizal, Rabu (10/2).

Peran pendidikan yang utama adalah bagaimana agar percepatan teknologi di masa akan datang tidak menggerus peran manusia dalam kehidupan.

BACA JUGA: Menko PMK: UT Satu-satunya Perguruan Tinggi yang tak Terpengaruh Pandemi

Ini adalah proyeksi pendidikan di masa akan datang. Itu sebabnya, pendidikan yang dipersiapkan harus berdasar pada human centered dan personalisasi.

"Artinya, yang diajarkan tidak hanya mengenai konten-konten pendidikan berbasis akademik melainkan skill dan knowledge mengenai ketahanan diri di masa depan, seperti life skill, social skill dan mental balance," tutur founder Gerakan Sekolah Menyenangkan'(GSM) ini.

BACA JUGA: 7 Syarat Kuliah Tatap Muka yang Harus Dipenuhi Perguruan Tinggi

Dia menyebutkan, banyak industri yang mengeluhkan kualitas SDM dari lulusan perguruan tinggi. Rata-rata tidak kuat menghadapi tekanan dunia kerja, kurangnya komunikasi lisan dan tulisan, kurang bisa bekerja sama dengan tim dan inisiatif yang kurang. Sehingga, ini menjadi penanda bahwa renaisans dalam bidang pendidikan sangat dibutuhkan.

"Pendidikan yang dipraktikkan harus bisa memantik empati dan kepedulian masing-masing individu terhadap peran kemanusiaan di masa depan dan complex problem solving untuk permasalahan yang ada di sekitar," terangnya.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menambahkan, GSM dan Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI) telah menggelar workshop untuk mensinergikan antara peran birokrasi dan kekuatan akar rumput.

Untuk mempercepat perubahan tersebut, perlu terjadi  pergeseran peran leadership para birokrat yang semula cenderung identik dengan permasalahan seputar administratif, menuju purposefulness leadership. Yaitu leader yang mampu mengarahkan visi ke depan dengan empati. 

"Para birokrat didorong untuk menjadi innovator disruptor yang membawa visi kemanusiaan sebelum disrupsi mengendalikan kemanusiaan seutuhnya," pungkas Nur Rizal. (esy/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler