DBD Renggut Lima Nyawa di Bantul

Kamis, 05 Maret 2015 – 07:35 WIB

jpnn.com - BANTUL – Demam berdarah dengue (DBD) kian ganas menyerang Bantul, DIJ. Dalam dua bulan terakhir saja, jumlah pasien penderita DBD di Bantul sudah mencapai sekitar 300 orang.

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Bantul Pramudi Darmawan menyebutkan, dari 300-an penderita ini lima di antaranya meninggal dunia. Dari jumlah itu, dua di antaranya telah diaudit. Hasilnya, dua pasien ini positif meninggal dunia karena menderita DBD.

BACA JUGA: Sehari Sebelum Tewas Kecelakaan, Siswa SMU itu Minta Maaf ke Sobatnya

”Yang tiga belum diaudit. Jadi masih sebatas dugaan,” terang Pramudi dilansir Radar Jogja (Grup JPNN.com), Kamis (5/3).

Menurutnya, para penderita DBD terbanyak dari wilayah penyangga. Yaitu, Kecamatan Banguntapan, Sewon, dan Kasihan. Selain berbatasan dengan Kota Jogja, banyaknya penderita DBD di tiga kecamatan ini juga karena padatnya penduduk.

BACA JUGA: 450 Polisi Amankan Kedatangan Atut ke Serang

”Wilayah Dlingo, Pleret, Kretek, Srandakan, maupun Sanden (jumlah penderita DBD) sedikit,” ujarnya.

Selain itu, dari lima penderita DBD yang meninggal tiga di antaranya berasal dari wilayah penyangga. Ada dua penderita yang meninggal dunia berasal dari kecamatan Kasihan. Satunya lagi adalah warga Sewon. Adapun dua penderita meninggal lainnya yang telah dinyatakan positif menderita DBD berasal dari Kecamatan Pandak dan Jetis.
Guna meminimalisasi bertambahnya jumlah penderita DBD, Dinkes sebagai leading sector bersama satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait terus meningkatkan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Selain itu, masyarakat di seluruh Bantul diharapkan juga meningkatkan program serupa.

BACA JUGA: Rohaniwan Belum Dipanggil untuk Dampingi Terpidana Mati

”Fogging bukan solusi karena hanya membunuh nyamuk besarnya,” ungkapnya.

Meskipun penderita DBD meningkat drastis, Pramudi memastikan stok obat-obatan di rumah sakit maupun puskesmas se-Bantul tercukupi. Toh, tidak ada obat khusus bagi penderita DBD karena virusnya tidak bisa dibunuh dengan obat.

”Kalau panas ya dengan obat penurun panas. Kalau ada tanda pendarahan ya kita tindak,” jelasnya.

Kepala Seksi Surveilans Dinkes Widawati menambahkan, penderita DBD yang meninggal dunia pada bulan Januari sebanyak dua orang. Adapun pada bulan Februari sebanyak tiga orang.

”Mudah-mudahan auditnya bisa kami lakukan bulan ini,” tandasnya.(zam/din/ong/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mau Bakar Rokok Malah Tersembur Api dari Sumur


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler