Den Baguse Tikus Dihargai Rp 5.000

Minggu, 14 Agustus 2016 – 18:48 WIB
Warga Kampung Margoyasan, Gunung Ketur, Pakualaman berusaha menangkap tikus di Pasar Sentul, Kota Jogja, Jumat (12/8). Lomba dalam rangka memeriahkan HUTKemerdekaan RI ke-71 itu berhadiah televisi dan uang tunai. Foto: Radar Jogja/JPG

jpnn.com - JOGJA - Warga di Kampung Margoyasan, Gunung Ketur, Pakualaman, Kota Jogja ini punya cara unik dalam merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-71. Mereka menggelar lomba yang lain daripada yang lain, yaitu menggeropyok tikus di Pasar Sentul.

Lomban menangkap tikus yang digelar pada Jumat (12/8) itu benar-benar serius. Hadiah totalnya senilai Rp 2 juta.

BACA JUGA: DPRD Pastikan Anak Pemukul Guru Harus Tetap Sekolah

Ketua Ketua RW 07 Margoyasan, Widodo mengatakan, pemenang ditentukan berdasarkan jumlah tikus yang tertangkap. ”Satu tikusnya dihitung Rp 5 ribu,” ujarnya.

Widodo menegaskan, gropyokan tikus yang melibatkan masyarakat kampung dan pedagang pasar itu tak sekadar untuk memeriahkan HUT RI. Lebih dari itu, kegiatan tersebut itu juga untuk menekan populasi hewan pengerat yang berkeliaran di dalam pasar sekaligus mencegah penyakit leptospirosis yang ditularkan melalui kencing tikus.

BACA JUGA: Tak Dibangun Dalam 6 Bulan, Siap-siap Izin Alokasi Lahan Dicabut

Apalagi, saat ini empat warga Kota Jogja dilaporkan terjangkiti leptospirosis. Bahkan ada seorang warga Kampung Margoyasan yang meninggal dunia. Warga pun menduga leptospirosis berasal dari tikus yang banyak berkeliaran di Pasar Sentul.

Nah, guna menekan populasi tikus maka warga menggelar lomba gropyokan itu. ”Walah mas, den baguse (tikus) itu kalau malam beraksi di eternit rumah penduduk,” keluhnya.

BACA JUGA: Pak Kapolda, Tolong Seriusi Kasus Tewasnya Balita Menggemaskan Ini

Widodo menegaskan, lomba menangkap tikus di dalam kompleks pasar itu sekaligus untuk mengetuk hati Pemkot Jogja agar lebih peduli terhadap kebersihan pasar. ”Ini sebagai bentuk kepedulian dari warga untuk menjaga lingkungan tetap sehat,” lanjutnya.

Konsep lomba sengaja dikemas dengan gropyokan agar dampaknya bisa langsung dirasakan masyarakat. Dengan begitu, uang kas yang dikeluarkan untuk hadiah menjadi lebih bermanfaat.

Sementara Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja Endang Sri Rahayu menjelaskan, pemkot sebenarnya telah membentuk satuan tugas (satgas) khusus untuk mengendalikan penyakit rabies, leptospirosis, dan demam berdarah dengue (DBD). Satgas yang dinamai Komisi Pengendalian Zoonosis itu terdiri atas petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Lingkungan Hidup (BLH), Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan), Dinas Pendidikan, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Sedangkan anggotanya terbagi sesuai kewenangan pada lembaga masing-masing. Ia mencontohkan, BLH menangani sampah agar tidak menimbulkan penyakit.

Sedangkan Disperindagkoptan mengatasi hewan yang menjadi faktor pembawa penyakit.”Semuanya saling sinergi untuk bisa memerangi tikus,” jelasnya.

Menurut Endang, jenis penyakit yang termasuk dalam kategori zoonosis cukup banyak. Jika penyakit tersebut tidak dikendalikan bisa mengakibatkan bencana. Seperti kasus yang pernah terjadi pada 2015. Ketika itu empat orang dalam satu wilayah meninggal dunia karena leptospirosis.(eri/yog/ong/jpg/ara/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Murid Pemukul Guru Dasrul Menangis Minta Pulang dari Polsek


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler