Depati Parbo dan Hikayat Perang Kerinci

Senin, 15 Januari 2018 – 10:24 WIB
Patung Depati Parbo di pusat kota Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Foto: Wenri Wanhar/JPNN.com

jpnn.com - TIGA puluh hulubalang Kerinci mengalahkan tiga ratusan opsir Belanda. Lakon utamanya Kasib gelar Depati Parbo. Peristiwa legendaris ini terjadi pada awal 1903. Ketika Belanda mulai memasuki pedalaman Sumatera.

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Sejarah Kota Kelahiran Muhammad

Jauh sebelum peristiwa ini, merujuk Tambo Kerinci, Rajo Mudo dari Alam Kerinci pernah diundang Sultan Permansyah dari Indrapura sewaktu mereka melakukan perang terbuka selama sembilan bulan dengan Belanda. Perang yang membuat Belanda terpukul mundur.

Makanya, kemudian hari (awal 1903) ketika pasukan Belanda tiba di Kerinci setelah berhasil merebut beberapa negeri di Sumatera, kedatangan mereka disambut sergapan hulubalang.

BACA JUGA: Sebelum Dikoloni Spanyol, Filipina Dipimpin Perantau Minang

Ratusan opsir Belanda disambut 30 hulubalang Kerinci pimpinan Depati Parbo di Renah Manjuto, Kerinci bagian Selatan. Kecamuk.

“Sebanyak 300 opsir Belanda terbunuh. Sisanya tunggang langgang ke daerah Muko-Muko dan Bengkulu,” kata Iskandar Zakaria, pakar sejarah Kerinci, kepada JPNN.com di Sungai Penuh, Kerinci, Jambi, 14 Januari 2018.

BACA JUGA: Inilah Orang Inggris Pertama Keliling Bumi

Iskandar anak Minang yang lahir di Kerinci pada 1942. Pada 1970 dia meneliti sejarah Perang Kerinci.

Pak Is—demikian dia karib disapa—mewawancarai pelaku dan saksi sejarah. Di antaranya, Pak Rawi, orang Lempur yang ikut berjuang bersama Depati Parbo. Dan beberapa orang Lolo, kampung yang menjadi basis perjuangan Depati Parbo.

Senarai hasil kajian itu ditulis Pak Is dibawah judul Depati Parbo—Pahlawan Perang Kerinci. Termuat di harian Pelita, edisi Selasa, 9 November 1976.

Haus Ilmu

Nama aslinya Mohammad Kasib. Lahir 1839. Anak Kerinci ini haus ilmu pengetahuan.

“Pada masa mudanya, dia mengembara ke sana kemari menuntut ilmu. Baik ilmu agama, ilmu adat dan segala macam,” kata Pak Is. “Ke mana-mana. Antara lain ke Tanjung Tanah (kawasan Danau Kerinci--red) bahkan juga ke Bangko. Di mana dia dengar ada guru, dia datangi.”

Kasib pun dikenal orang kampungnya sebagai anak muda bijaksana dan taat beribadah.
Berbekal pengetahuannya di bidang adat, ia pun dimajukan selangkah ditinggikan seranting.

Dinobatkan menjadi pemangku adat bergelar Depati Parbo. Depati merupakan gelar adat tertinggi di Kerinci. Mengemban tugas melindungi negeri.

Nah, sewaktu memimpin 30 hulubalang menyergap serdadu kompeni di Renah Manjuto, Kerinci bagian Selatan, Depati Parbo berusia 64 tahun.

Akibat sergapan itu, Belanda naik pitam. Sejurus waktu kemudian, Belanda datang lagi. Kali ini mereka menyerang Kerinci dari tiga penjuru. Indrapura, Muko-Muko dan Jambi.

“Depati Parbo keliling Kerinci membakar semangat rakyat agar bersatu menghadapi serangan Belanda,” kisah Pak Is.

Pasukan Belanda yang dari Jambi mulai menduduki Batang Merangin, Pulau Sangkar dan Sanggaran Agung. Yang dari arah Muko-Muko dan Indrapura mulai menduduki Sungai Penuh, Rawang, Semurup dan Siulak.

Rawang dijadikan Belanda markas besar

Depati Parbo beserta pasukannya berada di Dusun Lolo Kecil. Belanda mengincar.

Untuk sampai ke Lolo Kecil, Belanda harus lebih dahulu menguasai Pulau Tengah.

Pertengahan 1903, Belanda menggempur Pulau Tengah. Namun dihalau oleh rakyat setempat yang dipimpin Haji Ismael dan Haji Saleh.

Tiga kali Belanda menyerang Pulau Tengah. Tiga kali pula serangan itu dipatahkan rakyat.

Setelah enam bulan perang, pada akhir 1903, Haji Saleh gugur ditembak setelah membunuh berpuluh-puluh opsir Belanda. Pulau Tengah jatuh ke tangan Belanda.

Kini, Belanda memfokuskan serangan ke Lolo Kecil, basis perjuangan rakyat Kerinci yang dipimpin Depati Parbo.

Pertempuran Lolo

Pecahlah pertempuran. Meski persenjataan pihak Belanda lebih mumpuni, perang berlangsung sengit. Berhari-hari.

Bersenjatakan keris, pedang dan tombak, kawanan Depati Parbo menguasai medan laga.

Eh…belakangan terjadi laga satu lawan satu. Gamang mana lawan mana kawan. Di pihak Belanda, mulai banyak juga “orang kita”.

Dalam Pertempuran Lolo, menurut cerita rakyat yang terus hidup hingga hari ini, terkenal seorang perempuan yang menjaga pintu gerbang.

Dia membunuh seorang kapten Belanda dan beberapa orang opsirnya sebelum akhirnya gugur kena tembak.

Namanya Fatimah. Perempuan yang senantiasa lantang menyatakan, “lebih baik mati berkalang tanah, dari pada hidup terjajah.”

Menurut sejarawan Iskandar Zakaria, Fatimah adalah adik istri Depati Parbo.

Dirawikan pula, dalam Pertempuran Lolo, Depati Parbo berjibaku dengan keris di kiri, pedang di kanan. Banyak sudah pasukan Belanda yang mati di tangannya.

Belanda terus mendatangkan pasukan dari dusun-dusun lain. Pasukan Depati Parbo pun menyingkir, dan kembali membangun kekuatan baru untuk perang gerilya.

Ini membuat Belanda gusar. Bagi Belanda, sebelum Depati Parbo ditangkap, Perang Kerinci belum selesai.

Berunding

Seperti di banyak tempat di Indonesia, Belanda mengundang lawannya berunding. Cara curang untuk menangkap mangsa. Begitu pula jurus yang dimainkannya menghadapi Depati Parbo.

Tapi, tak berhasil. Depati Parbo tak menggubris undangan Belanda.

Eh, Belanda malah menangkapi keluarga Depati Parbo. Kali ini undangan disertai ancaman. Jika tak mau berunding, seluruh keluarganya akan dibunuh. Depati Parbo pun turun ke dusun.

Sesampai di dusun, “bukan meja perundingan yang dihadapi, melainkan tangan diborgol. Ditangkap. Kemudian dibuang ke Ternate, Maluku,” ungkap Pak Is.

22 Tahun lamanya dia di Maluku. Di pembuangan ia dikenal sebagai dukun. Dia pernah mengobati anak assisten residen.

Pada 1926 dia dipulangkan ke Kerinci setelah dimohonkan surat langsung oleh Residen Ternate.

Sesampai di kampung dia disambut sebagai pahlawan perang. Begitu cerita yang didulang Pak Is dari rakyat Kerinci saat melakukan riset tentang perjuangan Depati Parbo pada 1970-an.

Pada 1927 Depati Parbo ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji.

Tentang kisah ini, Pak Is beroleh cerita dari Kadir Jamil, orang Dusun Baru, Kerinci yang sama pergi ke Mekkah bersama Depati Parbo.

Juga dari Pak Madin, cucu Depati Parbo yang pada waktu itu diajak serta kakeknya naik haji.

Dua tahun sepulang haji, Depati Parbo wafat dalam usia 90 tahun.

Pada 1970-an, mengenang perjuangannya dibangun monumen Depati Parbo di pekarangan gedung DPRD Kerinci. Patung Depati Parbo itu dibangun oleh Sumardi Usman.

Berdasarkan pantauan mata langsung, kini, patung Depati Parbo juga telah berdiri tegak di jalan utama kota Kerinci.

Sejak 1970-an, Pemerintah Daerah Tingkat II Kerinci sudah mengusulkan namanya jadi Pahlawan Nasional. Namun hingga kini…ah, tanpa gelar dari pemerintah lakon hidup Depati Parbo senantiasa hidup di negeri Sakti Alam Kerinci. (wow/jpnn)

 

Gambar Depati Parbo di laman google.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Run...!!!


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler