Depo Kereta Sidopo, Bangunan Khas Belanda Dibangun 1928

Jumat, 06 Januari 2017 – 17:28 WIB
TAK BERUBAH BENTUK: Gedung utama Depo Kereta Api Sidotopo walaupun sudah beberapa kali direnovasi namun bentuk aslinya tidak diubah, dan sebagian besar bagian bangunan belum diganti sejak dibangun tahun 1928. Foto Andy Satria/Radar Surabaya/JPNN.com

jpnn.com - JPNN.com - Tak banyak bangunan yang bertahan hingga 100 tahun. Gedung utama Depo Kereta Api Sidotopo salah satunya.

Sejak dibangun tahun 1928 hingga kini, arsitektur asli bangunan masih dipertahankan.

BACA JUGA: Tata PKL, Perbanyak Sentra Kuliner

Walaupun sebagian bangunan di kompleks tersebut dilakukan renovasi, akan tetapi bentuk aslinya tidak berubah.

Bayu Putra Pamungkas - Radar Surabaya

BACA JUGA: Depo Kereta Api Sidotopo, Warisan Belanda Berkhas Jawa

Bangunan tua biasanya identik dengan kesan seram. Namun, hal itu tak berlaku di Depo Kereta Api Sidotopo.

Bangunan tua yang ada justru tampak unik dan menarik. Salah satu yang masih memukau adalah gedung utama. Kini, bangunan ini digunakan sebagai kantor.

Total ada lima ruangan dalam gedung tua ini.

“Yakni ruang rapat dan administrasi yang bersebelahan. Lalu ada ruang untuk kelistrikan dan gudang. Sedangkan satu ruang tersisa adalah untuk Kepala Depo Kereta Api Sidotopo,” ujar Pengawas Losd Mechanic Depo KA Sidotopo, Arif Triwibowo. Konsep ruangan itu masih otentik.

Bahkan pemanfaatan ruang sama dengan zaman kolonial Belanda.

Dimana fungsi dari lima ruang tersebut masih dipertahankan. Baik ruangan bagi Kepala Depo hingga ruang rapat.

Meski disebut gedung, namun bangunannya tak menjulang. Justru gedung ini tampak sederhana. Tingginya juga tak mejulang, sekitar 8 meter saja.

Bandingkan dengan Joglo yang memiliki tinggi hingga 12 meter. Setiap ruangnya juga tak luas.

Hanya berkisar 5 meter persegi. Namun, kesederhanaan gedung itulah yang jadi daya tarik.

“Sebab konsep bangunan dan gaya arsitekturnya masih asli peninggalan Belanda. Bentuk bangunan masih asli,” lanjut Arif.

Nyaris tak ada perubahan pada gedung utama. Kalaupun ada, hanya genteng yang berubah jenis.

“Itu wajar, sebab kalau tak diperbaiki jelas genteng peninggalan Belanda tak bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama,” bebernya.

Konsep tua khas Belanda itu membuat pegawai seolah sedang bekerja di zaman kolonial.

Bedanya, kini sudah dilengkapi dengan laptop dan alat canggih lainnya.

“Gedung ini dulu digunakan sebagai singgah oleh petinggi Belanda saat memantau kondisi kereta yang sedang diperbaiki,” jelasnya.

(nur/jpnn)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler