Developer Andalkan Dana Sendiri

Senin, 03 Maret 2014 – 05:00 WIB

jpnn.com - SURABAYA - Developer tidak lagi mengandalkan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) untuk pembangunan rumah. Ini setelah Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan rumah ready stock.

Presiden Direktur (Presdir) The Empire Palace Group Trisulowati mengatakan paradigma pemikiran pengembang saat ini, KPR adalah salah satu fasilitas kemudahan konsumen untuk membeli rumah.

BACA JUGA: Tuding Politisi Bikin Kondisi Bank Bekas Century Memburuk

"Sekarang, tren in house yang menjadi andalan developer. Tapi, ini memang untuk perusahaan yang permodalannya kuat," ujarnya.

Wanita yang akrab dipanggil Chin-Chin itu menyebut kebutuhan tempat tinggal masih tinggi. Itu terlihat dari backlog yang masih besar. Tahun ini, proyeksi kekurangan pasokan rumah (backlog) mencapai 15 juta unit. Sehingga, pengembang pasti melakukan ekspansi.

BACA JUGA: Indonesia Dikorbankan, Rizal Minta Kesepakatan Direvisi

"Potensi masih besar. Tergantung pengembang dalam mengemas perumahan yang diminati konsumen," tuturnya.  

The Empire Palace Group pun untuk kali pertama membangung proyek perumahan di kawasan Sidoarjo. Selema ini, mereka mengerjakan properti komersil berupa ruko, convention hall dan hotel itu kini mulai menggarap perumahan.

BACA JUGA: Kepala Daerah Diminta tak Sembrono Terbitkan Izin Tambang

"Investasi perumahan sekitar Rp 200 miliar. Ini untuk rumah 300 unit. Kami proyeksikan tahun in, semua sudah terbangun," katanya.

Pada kesempatan yang berbeda Wakil Presdir dan Chief Operating Officer Sinarto Darmawan mengatakan untuk mempercepat pemenuhan backlog salah satu langkah adalah membangun tempat tinggal vertikal.

Dia mencontohkan proyek Apartemen Sumatera 36 Surabaya yang dibangun di lahan seluas 2.358 meter persegi. Sebelumnya, bangunan itu hanya satu rumah yang ditempati satu keluarga. "Sekarang, bangunan tinggi dengan 63 unit," ujarnya.

Menurut Sinarto tren pasar hunian kota besar, seperti Surabaya akan mengarah kepada bangunan tinggi atau apartemen. Alasannya, mobilitas tinggi, keterbatasan lahan dan, tingginya harga tanah.

Meskipun, apartemen, mereka tetap ingin kenyamanan seperti, tinggal di perumahan. "Harga rumah di Jalan Sumatera sangat tinggi, di atas Rp 10 miliar. Apartemen tidak akan semahal itu, bisa hanya 20 persen-nya," ucapnya. (dio)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kembangkan UMKM, PNM Gandeng Universitas Pakuan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler