Di Depan Prabowo, Jokowi Bicara Soal Kunci Sukses Jadi Negara Maju

Kamis, 08 Agustus 2019 – 23:19 WIB
Bertolak ke Kuala Lumpur sore tadi, dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, seusai menghadiri Kongres PDIP di Bali. Foto: IG Presiden Joko Widodo

jpnn.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo alias Jokowi bicara soal kunci sukses menjadi negara maju saat memberikan sambutan di pembukaan Kongres V PDI Perjuangan, di Hotel Grand Inna Bali Beach, Kota Denpasar, Provinsi Bali, Kamis (8/8).

Saat itu, hadir juga bekas rivalnya di Pilpres 2019, sekaligus Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

BACA JUGA: Tidak Sebut Surya Paloh di Pidato, Bu Mega Disebut Lebih Sreg Berkoalisi dengan Prabowo

Menurut Jokowi, pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkelanjutan merupakan salah satu kunci untuk menjadi sebuah negara maju. Dia pun mencontohkan, negara Persatuan Emirat Arab (PEA) adalah salah satu buktinya.

BACA JUGA: Imbang Lawan Persela, Persib Bandung Menelan Empat Laga Tanpa Kemenangan

BACA JUGA: BTP Mengucap Syukur Mendapat Dukungan Langsung dari Megawati

Mulanya Jokowi bercerita mengenai pengalamannya saat berkunjung ke PEA, empat tahun yang lalu. Saat itu dia ingin mengetahui bagaimana Persatuan Emirat Arab dalam kurun kurang dari 40 tahun bisa menjadi sebuah negara maju dan kaya.

Putra Mahkota Abu Dhabi, Syekh Mohamed Bin Zayed (MBZ), saat itu menjemput langsung kedatangan suami Iriana itu di bandara. Bahkan MBZ juga mengajaknya duduk satu mobil dan menyetirnya dalam perjalanan dari bandara. Ketika berdua di dalam mobil itu lah dirinya bertanya mengenai resep PEA bisa melompat menjadi negara maju.

BACA JUGA: Respons Politikus PKS Terkait Kehadiran Prabowo di Kongres PDIP

“Beliau bercerita. Tahun 60 kami dari Dubai ke Abu Dhabi masih naik unta. Kita tahun 60 itu, sudah naik Holden dan Impala. Benar? Tahun 70, dia cerita lagi, kami dari Dubai ke Abu Dhabi itu naik truk dan naik mobil pick up. Kita tahun 70 sudah naik yang namanya Kijang, Kijang kotak. Tetapi begitu menginjak tahun 80-85 ke atas, mereka sudah naik mobil-mobil yang luks,” kenang Presiden Jokowi.

Dalam obrolan itu, terungkap bahwa kunci PEA bisa melompat menjadi negara maju adalah pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan, berikut dengan sistem manajemen yang dibangun sejak awal.

“Jadi saat itu hampir perusahaan-perusahaan besar, perusahaan-perusahaan BUMN kayak kita, sistem manajemen di kantor-kantor pemerintahan, semuanya mereka hire dari luar. CEO Dubai Port, Dubai Aluminium, semuanya bule-bule. Terus orang lokalnya jadi pendamping, wakil-wakil, sambil yang lain disekolahkan ke luar. Tapi begitu 10 tahun dan 15 tahun, itu ditarik sudah bisa mengganti yang tadi menjadi direktur utama, menjadi CEO. Itulah, sekali lagi, pentingnya sumber daya manusia bagi sebuah pembangunan,” paparnya.

Oleh sebab itu, kata Jokowi, jika pada lima tahun pertama pemerintahannya dia fokus pada pembangunan infrastruktur, maka dalam lima tahun ke depan, pembangunan sumber daya manusia lah yang akan menjadi fokus pemerintahannya. Dia meyakini bahwa SDM yang berkualitas akan menjadi fondasi bangsa Indonesia di masa depan.

“Kejayaan minyak dan kayu sudah selesai. Kejayaan komoditas-komoditas sumber daya alam (SDA) juga sudah hampir selesai. Fondasi kita ke depan, percayalah, sumber daya manusia kita yang berkualitas, yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Dan kualitas SDM itu harus dibangun, mulai dibangun sejak di dalam kandungan. Oleh sebab itu, tidak boleh ada lagi yang namanya stunting, kekerdilan. Kesehatan ibu dan anak menjadi sebuah kunci, terutama sampai umur 7-8 tahun. Ini adalah umur emas,” tutur kakek dari Jan Ethes dan Sedah Mirah itu.

BACA JUGA: Oknum TNI Alami Nasib Tragis Usai Tembak Kepala Pengendara Motor

Mantan wali kota Solo itu juga ingin meningkatkan kualitas pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Tujuannya, bukan hanya membuat generasi muda Indonesia menjadi pintar dan mampu berkarya, tetapi juga untuk mencetak generasi yang pancasilais, toleran, dan kokoh bergotong royong.

Untuk itu, di tengah perkembangan global yang berubah cepat, Jokowi memandang perlu untuk menerjemahkan nilai-nilai dasar dan ideologi bangsa Indonesia ke dalam konteks yang kekinian. Demikian juga dengan nasionalisme dan semangat kerakyatan.

“Perlu lebih jeli, perlu disesuaikan dengan semangat perubahan zaman ini. Harus sesuai dengan fakta dan data, sehingga kita tidak keliru dalam merumuskan kebijakan,” tandasnya.(fat/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Prabowo Hadiri Kongres PDIP, Sandiaga Uno: 68 Juta Rakyat Ingin Perubahan


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler