Di Kapal yang Dibom Itu Masih Ada Mobil Jeep dan Truk

Kamis, 09 Februari 2017 – 00:07 WIB
BUKTI SEJARAH: Inilah salah satu dari empat kapal yang tenggelam akibat di bom oleh Permesta pada tahun 1958 silam. Foto: DEDI YOYO FOR RADAR SULTENG

jpnn.com - jpnn.com - Donggala, Sulewesi Tengah. Daerah dengan julukan kota tua ini sangat banyak menyimpan cerita masa penjajahan Belanda.

LAPORAN : UJANG SUGANDA

BACA JUGA: Di SDN 9 Mimika, Jam Belajar Terbatas Karena Panas

Deretan bangunan peninggalan kolonial Belanda menjadi bukti kuat Donggala memang pernah menjadi salah satu pusat kedudukan bangsa asing.

Selain bangunan bersejarah,ada pula peristiwa peperangan yang terjadi di Kabupaten tertua di Sulteng ini.

BACA JUGA: Tinggalkan Perusahaan Beken, Kini jadi Bos di Penjara

Salah satunya adalah tragedi pengeboman empat kapal di pelabuhan Donggala pada tahun 1958 silam. Meski telah puluhan tahun berlalu, bukti tragedi tersebut masih ada hingga saat ini.

Tenggelamnya empat kapal yakni KM Mutiara, KM Moro, KM Giliraja dan KM Nuburi di sekitar perairan pelabuhan Donggala menjadi saksi bisu kejadian tersebut. Kapal-kapal itu masih utuh di dalam dasar laut pelabuhan Donggala.

BACA JUGA: Mengharukan, Edi Menikahi Erni yang Sudah jadi Mayat

Tragedi itu menjadi sebuah cerita turun temurun bagi masyarakat sekitar Pelabuhan Donggala. Salah seorang pria tua ternyata melihat langsung peristiwa tersebut.

Pria tua itu bernama H M Jalil. Ayah enam anak itu ternyata adalah seorang mandor terkenal di pelabuhan Donggala.

Menurut sumber yang beredar, Jalil merupakan satu-satunya saksi hidup yang tersisa. Rekan-rekan seperjuangannya telah mendahulinya menghadap Yang Maha Kuasa.

Saat ditemui di Masjid Al- Amin sore kemarin, kakek bersuia 82 tahun itu mengaku memang melihat langsung peristiwa naas tersebut.

Bahkan dirinya nyaris menjadi salah seorang korban pengeboman yang terjadi pada hari Sabtu pagi bulan April itu.

“Sepuluh menit sebelum kejadian saya hendak pergi ke salah satu kapal untuk bongkar muat barang. Saya lihat langsung kejadiannya, perasaan takut bercampur aduk, seperti lagi nonton film perang,” ungkapnya.

Sebelumnya satu unit pesawat Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) tiba-tiba muncul dan langsung mengebom kapal-kapal tersebut.

Menurut Jalil, tak sampai 5 menit dua kapal langsung tenggelam. Kemudian kata Jalil, pesawat Permesta yang dipiloti oleh Allan Pope itu sempat menghilang.

Namun kemudian kembali lagi pada siang hari sekitar pukul 14.00 dan mengebom dua kapal lainnya. “Salah satu kapal yang di bom pada siang itu adalah KM Nuburi,” terang Jalil.

Akibatnya sejumlah ABK kapal menjadi korban. Jalil tak mengetahui jelas berapa jumlah korbannya.

Namun menurut Jalil ada beberapa warga china yang menjadi korban saat berada di dalam kapal-kapal itu. “Saya sudah tidak ingat lagi jumlahnya,” kata Jalil.

Setelah pengeboman berakhir, korban-korban lain di evakuasi ke tempat yang lebih aman. Proses evakuasi itu menyisakan cerita yang tak terlupakan.

Dari proses evakuasi itulah sehingga terciptanya nama Jalan yang diambil dari nama empat kapal tersebut. Salah satunya adalah Jalan Moro yang berada tak jauh dari pelabuhan.

Nama tersebut di diabadikan menjadi nama jalan karena pada saat itu korban kapal Moro dievakuasi ke jalan tersebut.

“Dulu saya evakuasi mereka ke jalan itu, makanya hingga saat ini namanya adalah jalan moro. Keempat nama kapal tersebut juga diabadikan menjadi nama-nama jalan di Donggala,” tuturnya.

Masih menurut Jalil, hingga saat ini kapal-kapal itu masih berada di dasar laut Pelabuhan Donggala. yang paling dekat adalah KM Nuburi.

“Kalau air lagi surut, kapal KM Nuburi bisa dilihat tanpa harus menyelam,” ujarnya.

Hal itu juga dibenarkan oleh para penyelam di Donggala. Menurut salah seorang penyelam yang bekerja di Princ John, Mohammad Amin, kedalaman KM Nuburi hanya sekitar 7 meter.

Sedangkan KM Mutiara berada di kedalaman 30 meter dan KM Giliraja berada di kedalaman 52 meter.

“Lokasi tenggelamnya kapal itu menjadi salah satu spot menyelam bagi masyarakat lokal maupun manca negara,” seru Amin.

Menurut Amin, bentuk kapal masih terlihat utuh meski sudah ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan laut.

Bahkan dirinya bersama rekan dan pihak Dinas Pariwisata pernah mengukur langsung panjang kapal.

Kata Amin, panjang badan KM Mutiara yaitu sekitar 60 meter dengan lebar meter dan tinggi 12 meter.

Sedangkan KM Giliraja menjadi salah satu kapal dengan ukuran terpanjang yakni sekitar 100 meter.

“Semua posisi kapal itu saat ini miring bukan terbalik dan masih utuh,” terangnya.

Menariknya lagi, kata Amin di dalam KM Giliraja masih terdapat mobil jeep hingga truk roda enam. Semua kendaraan itu juga masih utuh di dalam kapal.

Hanya satu kapal menurut Amin yang belum bisa ditemukan oleh para penyelam yaitu KM Moro. “Sampai sekarang hanya tiga kapal itu yang bisa dilihat. Mungkin jarak dan kedalamannya agak jauh,” terang dive guide itu.

Untuk menyelam dengan kedalaman sampai 30 meter memang tak sembarangan. Menurut Dive Planner, Gunawan Abdi, skil pangkat seorang penyelam belum tentu bisa menembus kedalaman 30 meter ke atas.

“Intinya harus dibutuhkan keberanian dan kondisi serta kemampuan seorang penyelam tersebut. kalau dia punya skil atau pangkatnya sudah tinggi tapi kalau tidak memenuhi semua syarat maka ya tidak bisa,” ujarnya.

Lanjut Gunawan, meski seorang penyelam bisa menembus kedalaman 50 meter, tetapi tak bisa terlalu berlama-lama.

Paling lama 15 menit. Akibatnya ditimbulkan bisa fatal. Kata Gunawan seseorang bisa dekompresi bahkan bisa lebih parah lagi. “Di kedalam 30 meter saja belum tentu semua penyelam bisa,” ujarnya.

Sementara itu Sekretaris Dinas Pariwisata Donggala, Muhammad, menegaskan, kapal-kapal tersebut telah menjadi salah satu objek wisata unggulan bawah laut yang dimiliki Kabupaten Donggala.

Selain bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda, kapal-kapal itu juga menjadi salah satu bukti sejarah di Donggala.

“Dengan banyaknya peninggalan ini telah membuktikan bahwa Donggala memang memiliki bukti sejarah yang banyak,” pungkasnya. (ujs)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Mahasiswi Nikah Siri dengan Kakak Tingkat


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler