Diaspora Aktivis dan Tantangan Partai Islam

Rabu, 14 September 2022 – 19:57 WIB
Abdul Rabbi Syahrir. Foto: dokumentasi pribadi

jpnn.com - Oleh: Abdul Rabbi Syahrir

(Bendahara Umum PB HMI 2021-2023)

BACA JUGA: ASN Mesum di Mobil, Hubungan Seksual Selalu Direkam, Lihat Tuh

Jika dilihat dari afiliasi politik eksponen aktivis Islam, nampaknya sangat beragam, dalam pengertian tidak selalu berbanding lurus dengan intensi memasuki partai berbasis Islam.

Secara faktual, partai politik nasionalis pun banyak dihuni oleh alumnus aktivis gerakan Islam di ranah kemahasiswaan dan kepemudaan, misalnya HMI, IMM, PMII, PII, GPII, KAMMI, dan sebagainya.

BACA JUGA: Amarah Kombes Ino Harianto Sambil Mengangkat Celurit di Depan Pelajar

Begitu pula ormas NU dan Muhammadiyah, terjadi diaspora aktivis ke berbagai saluran parpol. Pertarungan menuju Pemilu 2024 mulai panas.

Parpol sedang sibuk mengadakan sosialisasi, komunikasi, konsolidasi, dan pendekatan untuk menarik dukungan massa. Menariknya, idealisme politik yang berlandaskan Islam rupanya masih menjadi pilihan sebagian politisi.

BACA JUGA: ASN Pemprov Jateng Tertangkap Basah Mesum di Mobil, Jangan Kaget, Salah Satunya Ternyata

Data survei dari lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) periode Agustus 2022 menunjukkan elektabilitas PDI Perjuangan (PDIP) masih menempati posisi teratas dengan angka 24,8 persen. Urutan selanjutnya diikuti Partai Gerindra dengan elektabilitas 11 persen, lalu disusul PKB 9,5 persen, dan Partai Golkar 9,1 persen.

Berdasarkan hasil survei SMRC, ditemukan elektabilitas Partai Demokrat 6,6 persen, PKS 4,1 persen, Partai NasDem 3,5 persen, Perindo 3 persen, PPP 2,7 persen, dan PAN 1,9 persen.

Sementara partai-partai lain mendapatkan suara di bawah 1 persen. Partai-partai baru juga masih di posisi paling bawah. Sebagai catatan, masih ada 21,7 persen responden yang belum menentukan pilihan atau tidak menjawab.

Untuk diketahui, survei SMRC diadakan pada 5-13 Agustus 2022 dengan 1.220 responden secara random (multistage random sampling). Responden diwawancarai secara tatap muka dengan response rate sebesar 1.053 atau 86 persen. Toleransi kesalahan (margin of error) survei sekitar 3,1 persen pada tingkat kepercayaan survei 95 persen.

Untuk parpol berbasis Islam, hanya PKB dan PKS yang masuk dalam kategori tujuh besar. Kalau PKB itu tergolong partai berbasis muslim (tradisionalis), maka PKS merepresentasikan partai berasas Islam, terutama kalangan Jemaah Tarbiyah.

Posisi paling puncak masih didominasi oleh partai nasionalis, terutama PDIP dan Gerindra. Dalam sejumlah survei persepsi, elektabilitas parpol nasionalis yang memuncak belum mampu digeser oleh partai Islam.

Wacana koalisi dan poros Partai Islam yang digaungkan dari masa ke masa selalu menemui hambatan, dikarenakan soal egoisme masing-masing elite. “Poros Tengah jilid II” senantiasa terhambat, bisa jadi situasi politik sudah berubah.

Peringkat elektabilitas PKB nomor urut ketiga menurut SMRC, bisa dikatakan berhubungan dengan eksistensi NU, di mana kader-kadernya cenderung menyalurkan aspirasi politik ke partai besutan Muhaimin Iskandar itu. Dalam gaya politik PKS, oposisi terhadap pemerintah Jokowi saat ini membawa dampak elektoral yang bagus bagi partai kader itu.

Maka, kehadiran Partai Gelora yang digawangi sejumlah eks kader PKS, tidak begitu mengganggu basis suara PKS. PAN tampaknya mengalami penurunan elektabilitas karena perselisihan antara Amien Rais dan Zulkifli Hasan.

PPP lebih tragis lagi, di mana sekarang terjadi konflik internal, semenjak Suharso Monoarfa diberhentikan sebagai ketua umum, dan juga tren elektabilitasnya makin meredup.

Melihat penampilan politisi yang mempertotonkan konflik, sementara selalu membawa nama agama, maka tak salah Nurcholish Madjid pernah melakukan otokritik dengan mengatakan ”Islam Yes, Partai Islam No.” Kritik Cak Nur mengacu pada tabiat pemuka partai Islam yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mantan ketua umum PB HMI dua periode itu dikenal sebagai cendekiawan muslim bahkan simbol moral.

Kita merindukan politisi Islam dari lapisan Partai Masyumi sekaliber M. Natsir. Kita juga mengharapkan lahir kembali tokoh sekelas Buya Hamka, Burhanuddin Harahap, Prawoto mangkusasmito, Kasman Singodimedjo, dan sebagainya. Mereka dikenal bersahaja, intelektual yang konsisten. Praktik politiknya dilandasi oleh nilai-nilai luhur dan pemikiran yang bernas.

Keteladanan memimpin dapat kita serap dari Agus Salim yang tegar, sederhana dan tahan banting. Secara materi juga terbatas, jauh dari kemewahan. Leiden is lijden, memimpin itu menderita. Begitu pepatah kuno Belanda yang dikutip Mohammad Roem dalam karangannya berjudul Haji Agus Salim, Memimpin Adalah Menderita (Prisma No 8, Agustus 1977). Bung Karno juga pernah mengatakan: “Tuhan bersemayam di gubuknya si miskin”. Maka, politik praktis itu bukan melulu bicara tentang pembagian kue kekuasaan, tetapi bagaimana keberpihakan yang jelas terhadap kaum lemah dan marginal (mustad'afin).

Meskipun parpol Islam tidak begitu cemerlang dalam lanskap politik nasional, tetapi kemunculan parpol baru berhaluan Islam seperti Masyumi “reborn”, Partai Ummat tetap mengemuka. Elite parpol Islam itu seolah terjebak pada teori klasik Clifford Geertz (santri, priyayi, dan abangan) dalam bingkai aspirasi politik kala itu. Teori Geertz mengacu pada preferensi politik bercorak politik aliran sebagaimana hasil Pemilu 1955, dengan akumulasi perolehan suara parpol Islam (Masyumi, NU, PSII, Perti) sekitar 45 persen.

Lain dulu beda dengan sekarang. Maka partai Islam zaman dulu dengan partai Islam zaman sekarang sangat jauh berbeda, termasuk perilaku pemilih saat ini yang semakin rasional.

Selain itu, problem yang dihadapi parpol Islam yakni krisis figur yang bisa menjadi perekat umat. Di sisi lain, konflik internal dan faksionalisme senantiasa marak di parpol di Tanah Air, lebih-lebih partai Islam, misalnya, PPP belakangan ini.

Oleh karenanya, parpol Islam dan parpol berbasis Islam mesti taubat nasuha, mengembalikan jati diri partai berhaluan Islam yang sesungguhnya. Begitu pula program dan mazhab pemikiran, serta visi-misi agar berorientasi konkret menyangkut hajat hidup umat dan rakyat.

Misalnya perbincangan soal bagaimana mengurangi kemiskinan, mengatasi pengangguran, pendidikan dan kesehatan yang layak, lingkungan hidup, mengatasi krisis pangan dan energi, dan sebagainya.  Pada saat yang sama, kaderisasi diperkuat, termasuk merekrut SDM politik yang penuh dedikasi untuk umat dan bangsa. (*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Perempuan PNS Bikin Geger Gedung Wakil Rakyat, Mobil Terparkir di Basemen


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Diaspora   Partai   Partai Islam   Pemilu 2024   NU   Muhammadiyah   HMI  

Terpopuler