Digitalisasi Mendorong Investasi Makin Diminati Kaum Muda

Selasa, 04 Oktober 2022 – 06:29 WIB
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendampingi Presiden Joko Widodo dalam acara "Peluncuran Gerakan Kemitraan Inklusif Untuk UMKM Naik Kelas" yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia di Wisma Smesco Jakarta, Senin (3/10). Foto: Kemenko Perekonomian

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan generasi muda sekarang ini banyak terjun ke dunia investasi.

Namun, dia mengingatkan mereka aga lebih berhati-hati dalam memilih instrumen investasi tersebut.

BACA JUGA: Hafisz Tohir Dorong Masyarakat Siap Hadapi Era Digitalisasi

“Generasi muda hendaknya tetap menyeimbangkan antara investasi yang agresif dan investasi konservatif. Hal itu penting karena investasi konservatif tetap memiliki faktor keamanan lebih tinggi,” tegas Airlangga Hartarto, Senin (3/10).

Menanggapi hal tersebut, Ekonom INDEF Nailul Huda mengatakan meningkatnya jumlah investor muda di Indonesia adalah ‘blessing in disguise’ kencangnya digitalisasi pada masa pandemi.

BACA JUGA: Olsera dan Paskomnas Ajak Ribuan Pedagang Pasar Go Digital

“Pilihan investasi juga makin banyak karena didorong oleh digitalisasi di sektor jasa keuangan. Makanya, banyak anak muda yang berinvestasi di masa pandemi, baik di pasar saham dan aset kripto. Kemudahan berinvestasi menjadi salah satu alasan mereka untuk berinvestasi,” kata Nailul Huda, Senin (3/10/2022).

Namun, kata dia, pemilihan jenis investasi akan sangat mempengaruhi kemakmuran investornya dan perlu berhati-hati.

BACA JUGA: IMX 2022 Digelar, Menko Airlangga: Modifikator Punya Pasar yang Besar

“Zamannya sekarang sudah berubah juga. Dengan hanya mengandalkan gadget, sekaragn anak-anak muda ini bisa menghasilkan bahkan bisa lebih banyak dibandingkan dengan investasi di sektor riil,” kata Nailul.

Investasi ‘zaman now’ dilakukan secara digital, melalui Fintech terdaftar di OJK. Data KSEI menunjukkan bahwa per April 2022, 60,29 persen investor pasar modal berusia di bawah 30 tahun, yang rata-rata masih berada di awal dan pertengahan karir profesionalnya.

Dalam sebuah survei yang dilakukan CELIOS beberapa waktu lalu, disebutkan bahwa berinvestasi di platform investasi digital dianggap sebagai aksi berkontribusi terhadap peningkatan sektor teknologi informasi, membantu pendanaan perusahaan, dan efek penciptaan tenaga kerja dari investasi.

Hal ini menjadi indikasi positif bahwa platform investasi digital mampu mendorong terciptanya investment-oriented society atau masyarakat yang melek investasi. Dunia memang tengah bergerak lebih dalam ke arah digitalisasi.

Nailul mengatakan Menko Airlangga sendiri menyebutkan hampir seluruh negara, termasuk Indonesia menggunakan digitalisasi sebagai akselerator pertumbuhan ekonomi dan menggunakan digitalisasi sebagai tempat untuk penciptaan lapangan pekerjaan.

“Jadi, memang kalau kita melihat dalam masa pandemi seperti ini, digitalisasi menjadi salah satu penyelamat konsumsi masyarakat. Dengan digitalisasi kegiatan usaha masih cukup berjalan bak di masa pandemi. Bahkan di bidang perdagangan online, kenaikan transaksi bisa dua kali lipat ketika pandemi,“ tegas Nailul.

Peluang

Pakar teknologi informasi dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) Agung Harsoyo mengungkapkan LEO merupakan peluang Indonesia untuk bisa melakukan transformasi digital di seluruh pelosok Indonesia.

"Ini adalah satu peluang untuk dapat melakukan transformasi digital di seluruh wilayah Indonesia," terang Agung.

Menurut Agung, kendala yang dihadapi Indonesia selama ini adalah jangkauan internet.

Dia menyebut masih banyak daerah yang tidak mendapat akses internet terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Agung mengatakan teknologi konvensional tidak cukup mampu untuk mengejar ketertinggalan dan kesenjangan digital yang terjadi di Indonesia.

"Ini adalah peluang karena selama ini kendala kita adalah terkait dengan coverage," tegas Agung.

Agung menjelaskan negara ini sulit untuk menjangkau keseluruhannya dengan teknologi yang konvensional. Dengan adanya Starlink, maka ada peluang buat industri dan bisa menggelar infrastruktur dengan relatif cepat guna melayani sampai ke pelosok-pelosok, daerah 3T.

Dia mengungkapkan selama dua tahun pandemi Covid-19 telah membuka mata akan kebutuhan konektivitas yang mumpuni.

Agung menyebut para pelajar bisa belajar daring, mengakses materi pembelajaran bermutu, dan layanan kesehatan juga meningkat.

“Artinya dengan layanan internet, 2 tahun ini merasakan manfaatnya,” ujar Agung.

Agung berharap program transformasi digital Indonesia menjangkau ke pelosok-pelosok dan seluruh rakyat Indonesia sehingga bisa menikmati internet. Dengan demikian, SPBE bisa efektif.

"Kesenjangan digital kita bisa ditutup dengan relatif cepat dan relatif murah. Kemudian mendukung one map policy," pungkas Agung.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler