Dikira Sakit Mag, Ternyata Mawar Hamil 7 Bulan

Sabtu, 29 Juli 2017 – 01:48 WIB
Hamil. Foto: Health

jpnn.com, JAKARTA - Orang tua siswi SMP korban pencabulan oleh tukang kebun sekolah di Kenjeran, Surabaya ternyata tidak mengetahui kejadian yang dialami sang anak.

Mawar (bukan nama sebenarnya) memang tidak terlihat seperti perempuan hamil.

BACA JUGA: Saat Istri tak di Rumah, Putri Kandung Masih SMP Diperkosa, Biadab!

Karena badannya gemuk, dia tidak tampak sedang berbadan dua.

awa Pos menemui SN, ayah korban. Di rumah yang berlantai dua dengan dinding berwarna biru itu, dia menceritakan keresahannya selama ini.

BACA JUGA: Yang Mulia, Mohon Saipul Jamil Dihukum Empat Tahun Penjara

Maklum, Mawar merupakan anak satu-satunya. Harapannya, Mawar bisa meneruskan perjuangan orang tua dan menjadi anak yang sukses.

Dengan begitu, dia bisa mengangkat derajat orang tuanya.

BACA JUGA: Istri tak di Rumah, Pria Bejat Ini Garap Keponakannya

Perasaan SN hancur berkeping-keping setelah mengetahui anaknya dicabuli hingga hamil tujuh bulan.

"Rasanya mangkel ning ati. Yok opo maneh, anak saya perempuan, satu-satunya," ucapnya sedih.

Pria 48 tahun tersebut mengatakan bahwa dari segi fisik, Mawar biasa-biasa saja.

Namun, mulai 27 Juni (seminggu sebelum korban diketahui berbadan dua), perilaku Mawar aneh.

"Dia tidak lagi mau keluar. Padahal, sehari-hari dia biasa main-main dengan tetangga di depan rumah sepulang sekolah. Terus kok gampang tidur," lanjutnya.

Karena penasaran, SN pun bertanya kepada istrinya. Menurut sang istri, mag yang diderita Mawar sedang kambuh.

Karena itu, dia lebih memilih tidur untuk beristirahat. Pada Senin (3/7) SN memeriksakan anaknya ke poliklinik di Kenjeran. Dia mengajak HP, paman Mawar.

Setelah diperiksa, ternyata bukan mag yang membuat perempuan kelas VIII SMP itu lemas dan pucat.

Namun, dia sedang mengandung 28 minggu. HP dan SN shock saat mendengar pernyataan dokter berdasar hasil pemeriksaan.

Setelah itu, mereka pulang. Di dalam kamar, Mawar dicecar beberapa pertanyaan oleh pamannya.

SN hanya bisa terdiam sambil mendengar setiap tanya dan jawaban yang keluar dari mulut keduanya.

Mawar mengaku telah diperkosa beberapa kali oleh Agustinus Joko Purnomo, tukang kebun di tempatnya bersekolah.

Dia dipaksa ke gudang sekolah. Berteriak dan meminta tolong pun sudah dilakukan.

Namun, karena para siswa dan guru sudah pulang, tidak ada yang merespons teriakannya.

HP dan SN hanya bisa menangis sedih bercampur marah karena kasihan dengan Mawar.

Apalagi, peristiwa tersebut terjadi di lingkungan sekolah yang notabene tempat para orang tua menitipkan anak-anak mereka untuk menuntut ilmu.

Tidak terima, HP melapor ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak pada 4 Juli 2017.

Dua puluh hari berselang, pelaku cabul ditangkap polisi dan dijebloskan ke tahanan.

Hasil pemeriksaan kepolisian, pelaku mengaku hanya melakukan perbuatan cabul kepada Mawar.

Apakah ada korban selain Mawar? Hingga kini, polisi belum membongkarnya.

Tidak diketahui apakah tersangka merupakan pelaku pedofilia ataukah bukan.

Saat ditanya mengenai keberadaan Mawar, SN menuturkan bahwa anaknya tidak ada di rumah. "Tapi, saya tidak tahu di mana tempatnya. Kakak saya (HP, Red) yang lebih tahu. Semuanya yang mengurus Mawar, ke sekolah, dan ke polisi adalah kakak saya," jelasnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Jawa Pos Rabu (26/7), pihak sekolah tidak bisa memberikan banyak keterangan.

"Kepala sekolah saat ini berada di Tuban. Baru pulang tiga hari lagi (hari ini, Red). Selama beliau belum pulang, kami tidak bisa memberikan keterangan," kata Moch. Noor Arifin, salah seorang petugas keamanan sekolah.

Meski begitu, Arifin membenarkan bahwa pencabulan tersebut terjadi di sekolahnya.

Menurut dia, kasus tersebut sudah lama terjadi dan telah diselesaikan pihak sekolah. "Sudah selesai kok," ujarnya.(han/elo/c7/git)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ayu Jalan Mengangkang, Ternyata Pelakunya Om Agus


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler