Dirgahayu TNI AU, Catatan soal Alutsista Masa Kejayaan AURI Tempo Dulu

Sabtu, 09 April 2022 – 21:32 WIB
Tim Aerobatik Jupiter TNI Angkatan Udara saat memamerkan kemampuannya dalam perayaan hari ulang tahun (HUT) TNI AU ke-71 di Lanud Hali Perdana Kusuma, Minggu (9/4). Ilustrasi. Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Hari ini (9/4) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) berulang tahun ke-76.

Indonesia merupakan negara dengan angkatan bersenjata yang cukup diperhitungkan.

BACA JUGA: Pimpin Upacara HUT TNI AU, Marsekal Fadjar Ingatkan Pesan Jokowi

Data GlobalFirePower (GFP) 2022 menempatkan kekuatan militer Indonesia di peringkat ke-15 dari 142 negara. Posisi itu naik satu peringkat dibandingkan data GPF 2021.

GFP 2022 mencatat military strength power index TNI di angka 0,2251. Power index itu lebih baik dibandingkan di GFP 2021, yakni 0,2684.

BACA JUGA: Marsekal Fadjar Prasetyo: TNI AU Makin Modern dan Dicintai Rakyat

Skor itu disusun dengan memperhitungkan kekuatan militer, dukungan keuangan untuk belanja alutsista, kemampuan logistik, dan geografi. Skor yang mendekati 0,00 dianggap kian sempurna. 

Indonesia pernah tercatat sebagai negara dengan alutsista paling kuat di belahan bumi bagian selatan.

BACA JUGA: Marsekal Fadjar Mengingatkan Soal Ancaman Perang Generasi Kelima

Wartawan senior Hendro Subroto melalui bukunya yang bertitel 'Operasi Udara di Timor Timur' mendedahkan air power Indonesia menjelang pembebasan Irian Barat pada 1962 merupakan yang terkuat di Asia Tenggara.

Saat itu, Indonesia membeli berbagai alutsista buatan Uni Soviet. Nilai kontrak belanja berbagai senjata itu mencapai USD 2,5 miliar dengan sistem kredit jangka panjang.

Menurut laman in2013dollars.com, USD 1 pada 1960 berarti setara dengan USD 9,8 pada 2022.

Artinya, kontrak pembelian alutsista sebesar USD 2,5 miliar pada 1962 itu hampir setara dengan USD 24,5 miliar (sekitar Rp 350 triliun) pada 2022.

Pada 1960-an, TNI AU yang masih bernama Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) memiliki berbagai alutsista untuk pengintaian (air reconaissance), patroli (air patrol), penyekatan (air interdiction),perlindungan (air cover), serangan (air strike), serbuan (airborne), dan pertahanan (air defence).

Lantas, apa saja yang dimiliki AURI saat itu? Hendro memerinci Komando Operasi maupun Komando Pertahanan Udara Nasional AURI saat itu memiliki pesawat MiG-17F (Fresco-C) untuk ground attack, Lim-5 atau MiG-17F dan Lim-6 atau MiG17PF buatan Polandia, MiG17F buatan Tiongkok, MiG-19SF, dan MiG-21F-13.

AURI juga memiliki pesawat latih untuk pendidikan penerbang tempur, yakni jet CS-102 atau MiG-15UTI/bis buatan Chekoslovakia. 

Selain itu, AURI masih memiliki pesawat tempur taktis P-51D/K Mustang. Adapun bomber yang memperkuat AURI saat itu ialah B25D/J Mitchell, B-26B Invader, dan Ilyushin Il-28B.

AURI juga memiliki jet pengebom menakutkan. "... berupa Tupolev Tu-16B dan Tu-16KS yang dipersenjatai dengan peluru kendali air to surface AS-1 Kennel," demikian Hendro menulis dalam buku terbitan Pustaka Sinar Harapan itu.

Pada saat Operasi Trikora, jet bermesin ganda itu punya pengaruh besar dalam mengusir Belanda dari Irian Barat.

Kapal induk milik Angkatan Laut Kerajan Belanda HNLMS Karel Doorman yang mengangkut 12 pesawat tempur Hawker Hunter pun keder dengan kekuatan AURI saat itu, sehingga memilih menyingkir ke Samudra Pasifik.

Pada waktu itu, AURI juga memiliki pesawat angkut berat berupa 10 C-130B/BT Hercules (10 unit) dan satu skuadron Antonov An-12 B. Adapun pesawat angkut ringan di jajaran AURI ialah Avia-14 atau Ilyushin Il-14 buatan Chekoslovakia.

Helikopter juga melengkapi alutsista AURI saat itu. Koleksinya, antara lain, Mil Mi-1 dan SM-2 buatan Polandia, Mil Mi-4, dan Mil Mi-61 dengan kemampuan angkut 12 ton dan 64 pasukan beserta peralatan tempur.

Alutsista AURI itu masih dilengkapi radar. Korps dengan semboyan Swa Bhuwana Paksa itu menempatkan radar Nysa B/C P-30 buatan Polandia di Maluku. 

AURI juga memiliki dua Wing Radar dari 14 skuadron yang tersebar di Jawa, Sumatra, Kalimantan, hingga Natuna.

Pada saat itu, Kohanudnas AURI menempatkan radar ground control interceptor untuk menuntun MiG-17PF dan MiG-21F-13 memburu sasaran yang mengancam Jakarta sebagai ibu kota negara.

Di samping itu, AURI memiliki skuadron rudal SA-2 Guideline.

"Penyiapan peluru kendali SA-2 berada di Pondok Gede," tutur Hendro.

Namun, kekuatan sebesar itu susut setelah negara-negara Blok Timur menghentikan pasokan suku cadang untuk pesawat AURI.

Keputusan itu merupakan reaksi atas langkah ABRI menyikat pihak-pihak yang dianggap terlibat G30S/PKI.

Hendro menjelaskan pesawat buru sergap MiG-21F-13 yang mampu terbang dengan kecepatan melebihi 2 Mach pada ketingian 60 ribu kaki mengalami akhir pengabdian yang memilukan.

Pada 1970, pesawat yang dilengkapi rudal K-13A atau AA-2 Atoll dan kanon NR-23 itu melakukan penerbangan perpisahan atau farewell flight.

Menurut Hendro, 4 Maret 1974 merupakan hari berkabung bagi Skadron 11.

Saat itu, skuadron yang bermarkas di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, tersebut dibubarkan.

Skuadron itu memiliki 30 pesawat latih MiG-15/UTI/bis dan 65 pesawat tempur MiG-17F, F-4, MiG-17FP maupun Lim-5/P. Namun, semuanya dalam kondisi grounded.

Adapun saat ini, air power Indonesia di peringkat ke-27 dari 142 negara. GFP mencatat alutsista kekuatan udara TNI AU meliputi 41 pesawat tempur pencegat, 23 jet serang, 126 pesawat latih, 66 pesawat angkut, 17 pesawat bermisi khusus, 1 tanker fleet untuk pengisian bahan bakar di udara (air refueling), 173 helikopter, dan 15 helikopter serang.

Selamat ulang tahun ke-76 TNI AU. Dirgahayu sang sayap tanah air. (boy/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler