Diselamatkan Pabrik Jamu, tapi Kehilangan Ibu Selamanya

Sabtu, 27 Desember 2014 – 10:07 WIB
Surliyadin (kiri ) berusaha melewati point guard CLS Knights Dimaz Muharri pada Speedy NBL Indonesia Preseason Tournament Mangupura Cup 2014 di GOR Purna Krida Kerobokan, Badung, Bali, 13 Oktober lalu. Foto: Boy Slamet/Jawa Pos/JPNN.com

jpnn.com - BENCANA memang membawa kepedihan. Tapi, selalu ada hikmah di baliknya. Misalnya, yang dialami Surliyadin, salah seorang korban tsunami Aceh yang kini sukses menjadi pemain basket profesional. Sekarang dia menjadi pemain inti JNE BSC Bandung Utama, salah satu klub kontestan NBL Indonesia.

Laporan Bagus Dimas, Jakarta

BACA JUGA: Terinspirasi Nasib Tragis Teman, Dapat Apresiasi dari BNN

Sepuluh tahun telah berlalu. Namun, detik-detik bencana dahsyat tsunami Aceh masih terekam dengan jelas dalam ingatan Surliyadin. Itun, panggilan akrab Surliyadin, masih tidak percaya, Minggu pagi, 26 Desember 2004, itu merupakan momen terakhir dirinya bersama sang ibu, Anawiyah, di rumah sederhana di Jalan Paya Lhok, Pungo Jurong, Banda Aceh.

"Waktu itu enggak kepikiran sama sekali akan terjadi bencana besar. Kami sekeluarga berkumpul di rumah," ujar Itun ketika dihubungi kemarin (26/12), tepat sepuluh tahun bencana tsunami yang memorak-porandakan Aceh.

BACA JUGA: Asyiknya Lihat Sekolah Meliarkan Orang Utan

Gempa dahsyat 9,3 skala Richter yang mengguncang Bumi Serambi Makkah sontak membuat dirinya beserta seluruh keluarga –orang tua dan tiga kakaknya– berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Awalnya, Surliyadin dan keluarga mengira guncangan itu hanya gempa biasa. Mereka belum berpikir untuk mencari perlindungan ke tempat yang lebih tinggi.

Tapi, beberapa menit kemudian, kepanikan terjadi. Orang-orang berteriak-teriak ’’Awas air, awas air’’ sambil berlari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri. Itun bersama keluarga pun sontak semburat mencari tempat perlindungan. Sebab, air bah datang begitu cepat dan langsung menenggelamkan daratan di sekitar rumah Itun.

BACA JUGA: Agus Sutikno, Pendeta Bertato Pendamping Orang-Orang Pinggiran

"Kami sekeluarga langsung lari semua menyelamatkan diri. Kami benar-benar panik," kenang pria kelahiran Aceh, 19 Agustus 1990, tersebut.

Semula, Itun masih bersama orang tuanya, Zulkifli dan Anawiyah, serta tiga kakaknya, Tina Julia (saat itu hamil tujuh bulan) dan suaminya Yusrizal; Andriansyah; serta Fariati. Namun, sesampai di persimpangan jalan, keluarga itu berpencar. Itun dan Andriansyah berlari ke kiri, sedangkan yang lain ke kanan.

"Saya dan Andriansyah memilih ke kiri karena kalau ke kanan arah ke laut. Tapi, ternyata sama saja, semua sudah dikuasai air yang datang begitu dahsyatnya," ujar pria yang saat tsunami terjadi masih berusia 14 tahun itu.

Panik dan tidak tahu harus bagaimana, Itun dan beberapa orang yang juga berusaha menyelamatkan diri langsung naik ke atas pagar rumah orang di pinggir jalan. Nahas, karena derasnya air, pagar tersebut akhirnya roboh. Itun dan kakaknya tenggelam digulung gelombang tsunami.

"Semua orang yang naik pagar, termasuk saya, tenggelam dan mulai nggak sadar."

Tapi, itu tidak berlangsung lama. Sebab, tiba-tiba kepalanya terbentur material bangunan rumah yang membuat dirinya tersadar. Saat itulah, Itun langsung kepikiran untuk mencari tempat yang lebih tinggi dari permukaan air. Kebetulan, tidak jauh dari tempat dia terdampar, ada bangunan berlantai dua. Dengan sekuat tenaga, Itun pun berusaha menjangkau bangunan tersebut.

Dia terus mencari tempat pijakan untuk mencapai lantai dua bangunan itu. Suasana makin panik karena gelombang kedua tsunami datang lagi. Kali ini lebih besar daripada gelombang pertama.

"Saya teriak minta tolong kepada orang-orang yang ada di bangunan itu. Sebab, air lebih besar akan kembali menerjang. Untungnya, saya akhirnya bisa naik ke atas. Yang menarik tangan saya ternyata paman saya," ungkapnya.

Bangunan tinggi yang ternyata pabrik jamu itulah yang menyelamatkan Itun bersama kakaknya, Ardiansyah, serta pamannya, Mulyadi, dari ganasnya gelombang tsunami.

Saat itu, mereka belum tahu nasib orang tua dan kakak-kakaknya yang lain. Begitu air surut, Itun dan Ardiansyah pergi ke rumah pamannya, Mulyadi, yang ternyata kondisinya tidak begitu parah karena terletak di daratan yang lebih tinggi. Mereka pun bermalam di situ.

Hari kedua, Itun bisa bertemu dengan satu per satu anggota keluarganya yang sempat terpisah. Yang pertama adalah sang ayah, Zulkifli, yang bermaksud mengabari paman Itun bahwa dirinya selamat. Tidak lama berselang, kakaknya, Tina Julia yang sedang hamil tujuh bulan beserta suaminya, Yusrizal, menyusul. Ikut pula kakak Itun yang lain, Fariati.

Namun, keluarga itu belum lengkap. Sang ibu, Anawiyah, yang ditunggu-tunggu kabarnya tidak kunjung ditemukan. Mereka terus mencari sang ibu. Bahkan, sampai dua tahun lamanya mereka berusaha menemukan bunda mereka. Siapa tahu ada keajaiban seperti halnya sejumlah korban tsunami yang berhasil bertemu dengan keluarga setelah sekian lama berpisah.

"Akhirnya, kami mengikhlaskan ibu. Yang terpenting, kami terus mendoakan beliau," ucapnya.

Bagi Itun, bencana tsunami memang membawa kepedihan mendalam. Namun, di sisi lain, hal itu menuntunnya ke jalan hidup baru yang selama ini tidak pernah dibayangkan. Dalam kondisi tempat tinggal yang tidak bisa ditempati lantaran fasilitas air bersih dan aliran listrik mati, keluarga Itun memutuskan untuk pindah ke Aceh Besar.

Itun pun harus pindah sekolah dari SMPN 1 Banda Aceh ke SMPN 2 Aceh Besar. Di situlah dia mulai mengenal dan mencintai basket. Padahal, sebelumnya, dia lebih senang bermain voli. Namun, keluarga Itun hanya dua tahun di Aceh Besar. Mereka lalu kembali ke Banda Aceh.

Lagi-lagi, nasib membawa Itun untuk terus menekuni basket. Saat duduk di kelas 2 SMAN 3 Banda Aceh, bakat Itun yang di atas rata-rata mulai dilirik klub basket untuk direkrut. Kala itu, dia tampil cemerlang dalam kejuaraan daerah basket kelompok umur (KU)-18 di Banda Aceh.

Akhir 2008, klub basket Pimnad Tanah Air (salah satu klub Kobatama) pun menawari Itun untuk bergabung sekaligus memberikan beasiswa kuliah di Fakultas Bisnis dan Manajemen Universitas Widyatama Bandung. Tanpa pikir panjang, Itun menyanggupi tawaran itu.

"Untuk semester pertama dan kedua, saya mendapat beasiswa dari Pimnad. Untuk semester tiga, saya ikut tes beasiswa akademik dari kampus dan alhamdulillah terpilih. Jadi, biaya kuliah sampai sekarang semuanya free," ujarnya.

Selama empat tahun sejak 2008 hingga 2012, Itun berkiprah di Pimnad. Dia juga memperkuat Aceh saat berlaga di PON Riau 2012. Nah, saat mengikuti training center menjelang PON itulah, Garuda Kukar Bandung, salah satu tim NBL, menawarinya untuk bergabung. Kesempatan itu pun dimanfaatkan Itun untuk mencari pengalaman berlaga di liga profesional.

Namun, dia hanya setahun di Garuda. Pemain bertinggi 187 cm itu akhirnya memutuskan untuk pindah ke klub Bandung lainnya, JNE BSC Bandung Utama, pada musim 2013–2014. Di Bandung Utama itulah Itun mulai bersinar. Pemain yang doyan melakukan slam dunk tersebut menjadi salah satu bintang andalan serta mesin poin tim asal Kota Kembang itu.

Itun menyadari, tidak mudah bangkit dari bencana tsunami yang memaksa dirinya berpisah dari sang ibu untuk selamanya. Namun, bagaimanapun, dia harus bangkit. Hidup harus terus berjalan.

"Sepuluh tahun setelah tsunami Aceh, kami memang tidak bisa melupakan bencana itu. Tapi, buat warga Aceh, yang terpenting, kita terus berdoa dan membangun Aceh yang lebih baik dari yang sebelumnya," tuturnya.

"Saya percaya, di balik musibah, pasti ada hikmahnya. Buktinya, saya yang sebelumnya tidak mengenal basket kini bisa seperti ini berkat basket,’’ tandasnya.

Saat ini, Itun menjadi salah satu pemain bintang Bandung Utama. Musim lalu, dia menjadi pemain tersubur kedua di Bandung Utama dengan total mencetak 332 poin dari 31 pertandingan dengan persentase 10,7 poinper game.

Di luar lapangan, Itun menjadi salah satu figur yang dikenal banyak fans, khususnya para perempuan. Bahkan, wajahnya sempat menghiasi cover majalah kesehatan pria ternama, Men’s Health, edisi Maret 2014. (*/c5/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jutaan Akrilik Simbolkan Hati Umat Manusia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler