Dituduh Penculik, Pengepul Petai Dihajar Hingga Tewas

Senin, 27 Maret 2017 – 07:40 WIB
Korban. Ilustrasi Foto: Pixabay

jpnn.com, MEMPAWAH - Isu penculikan anak dampaknya sudah sangat mengerikan.

Kali ini korbannya seorang pengepul petai, yang akhirnya tewas dikeroyok massa, Minggu (26/3) sekitar pukul 15.40 WIB di Desa Am awang, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

BACA JUGA: Teror Penculikan Anak, Diberi Minum, Tangan Dipotong

Korban tewas dengan sejumlah luka tusuk di bagian dada dan kepala. Hingga tadi malam, jenazah korban sedang di visum di RSUD Dr Rubini Mempawah.

Dari informasi yang dihimpun Pontianak Post (Jawa Pos Group), korban bernama Maman Budiman (50), warga Jalan Ahmad Mardzuki, Pontianak. Korban berangkat dari Pontianak menuju Desa Amawang, dengan tujuan menjemput anaknya.

BACA JUGA: Ya Ampun! Tukang Botot pun Diteriaki Penculik Anak

Rencananya, sepulangnya korban hendak mencari buah petai dari para petani setempat untuk dijual kembali ke pasar.

Rupanya, kedatangan korban menimbulkan kecurigaan dari warga setempat yang menduga korban adalah komplotan penculik anak yang saat ini sedang ramai dibicarakan.

BACA JUGA: Lagi-Lagi Orang Gila Dikira Penculik Anak

Tak pelak, warga yang termakan informasi hoaks penculikan anak itu langsung menangkap korban.

Tidak sampai di situ, warga yang semakin ramai berkumpul tersulut emosi dan membabi buta mengeroyok korban.

Alhasil, korban babak belur dalam penganiayaan yang tidak seimbang itu.

Korban yang sudah tak berdaya kemudian dibawa ke Kantor Desa Amawang, sembari menunggu kedatangan polisi untuk mengamankan.

SPK Polres Mempawah, yang mendapatkan informasi adanya kasus pengeroyokan itu berkoordinasi dengan jajaran Reskrim serta sejumlah personel menuju ke tempat kejadian perkara (TKP).

Sesampainya di Kantor Desa Amawang, massa semakin ramai dan tak terkendali. Massa semakin beringas dan membabi buta.

Upaya kepolisian mengevakuasi korban yang mengalami cidera parah dihalang-halangi warga.

Bahkan, barikade pengamanan polisi berhasil ditembus ratusan warga.

Kontan saja, korban yang sudah terkapar bersimbah darah di Kantor Desa Amawang kembali jadi bulan-bulanan warga.

Korban tewas dengan luka tusuk di bagian dada dan kepala serta luka di sekujur tubuhnya.

Ironisnya anak korban juga melihat aksi massa tersebut, namun tidak mengetahui kalau yang dikeroyok massa adalah orangtuanya.

Dirinya mengetahui kalau korban adalah bapaknya ketika berhasil diselamatkan polisi dari amukan massa yang tersulut isu penculikan anak.

Selanjutnya, diduga korban meninggal dalam perjalanan saat dilarikan ke RSUD Dr Rubini Mempawah guna mendapatkan penanganan medis.

Anak korban juga ikut mengantar ke rumah sakit. Kepolisian Polres Mempawah masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap para pelaku pengroyokan hingga menghilangkan nyawa warga Pontianak itu.

“Ketika kami tiba di Kantor Desa, korban sudah dalam kondisi babak belur. Sementara massa yang datang jumlahnya sangat ramai mencapai 600 orang. Sedangkan jumlah petugas tidak seimbang. Kami kesulitan meminta bantuan personel lantaran jaringan telekomunikasi di Desa Amawang kurang bagus,” aku Kapolres Mempawah, AKBP Dedi Agustono, S.Ik melalui Kapolsek Toho, Iptu Gatot Poerwanto.

Pihak Kepolisian telah berupaya menenangkan massa. Dirinya meminta massa agar tidak tersulut emosi dan menyerahkan permasalahan tersebut kepada pihak kepolisian.

Namun, massa enggan mendengarkan imbauan tersebut dan justru semakin beringas menghakimi korban hingga akhirnya tewas.

“Korban akhirnya meninggal dunia akibat penganiayaan yang dilakukan massa. Kita akan melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus ini,” tegas Gatot.

Tokoh perempuan Kalbar, Karolin Margret Natasa menyoroti teror dan isu penculikan anak yang terjadi di Kalimantan Barat. Kejadian yang berawal dari isu tak jelas tersebut telah memakan korban jiwa.

Teror isu penculikan ini sudah sangat meresahkan dan mulai mengganggu kehidupan masyarakat. Karolin khawatir nantinya isu seperti ini mengancam situasi keamanan di Kalbar.

"Isu ini tidak benar, harap semuanya tenang. Waspada boleh saja, tapi jangan main hakim sendiri. Diharapkan semua dapat menahan diri untuk tidak termakan isu. Percayakan semua kepada pihak kepolisian," imbau Karolin saat ditemui Pontianak Post. (wah/ndo)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bocah Kelas 3 SD Mengaku Hendak Diculik, Tapi...


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler