Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan satuan tugas virus corona Gedung Putih akan dikurangi perannya karena negara itu akan memasuki fase kedua penanganan pandemi. Sementara Ratu Inggris menyampaikan ucapan selamat atas keberhasilan Australia mencegah terjadinya kematian massal.

"Mike Pence dan satgas ini telah bekerja dengan baik," kata Trump saat berkunjung ke salah satu pabrik APD Arizona.

BACA JUGA: Ini Pesan Dubes RI di Korsel untuk WNI

Ia berdalih perhatiannya sekarang lebih tertuju pada upaya membuka kembali pembatasan, namun di saat yang bersamaan tetap menjaga keselamatan.

"Mungkin kami akan membuat kelompok tugas baru untuk itu," ujarnya.

BACA JUGA: Banyak Pemilik Toko Non-pangan di Karawang Langgar PSBB

Tapi saat ditanya apakah dia akan mengumumkan "misi tercapai" dalam perang melawan virus ini, Trump menjawab, "Tentu saja tidak. Misi tercapai ketika semua sudah berakhir." Photo: Donald Trump tidak menjelaskan kapan laporan mengenai asal-usul COVID-19 akan diumumkan. (Reuters: Tom Brenner)

 

BACA JUGA: 2 Perawat Positif Corona, Perempuan dan Pria

Trump kembali "sesumbar" pihaknya akan merilis laporan yang merinci asal-usul virus corona ini. Namun, dia tidak memberikan detail mengenai kapan pengumuman itu akan disampaikan.

Seperti diberitakan sebelumnya, tadinya Trump sempat memuji penanganan yang dilakukan Pemerintah China terhadap pandemi ini.

Namun belakangan dia mulai menyerang dan menyalahkan Beijing ketika penyebaran virus semakin parah dengan jumlah korban yang terus bertambah.

Pada hari Minggu (3/05), Menlu AS Mike Pompeo mengatakan ada banyak bukti bahwa virus corona berasal dari Institut Virologi Wuhan. Tapi ia juga tidak mau membantah pernyataan badan intelijen AS bahwa virus ini bukan buatan manusia.

Kebanyakan ahli percaya virus itu berasal dari sebuah pasar di Wuhan yang menjual satwa liar dan berpindah dari hewan ke manusia. 'Profesor lockdown' mundur Photo: Pakar epidemiologi Inggris Neil Ferguson yang dijuluki "profesor Lockdown" disoroti karena dinilai melanggar aturan pembatasan sosial tersebut. (Imperial College)

 

Di Inggris, pakar epidemiologi Neil Ferguson yang dijuluki 'profesor lockdown' telah mengundurkan diri dari perannya sebagai penasehat pemerintah untuk penanganan COVID-19.

Suratkabar setempat melaporkan Profesor Ferguson, yang menyarankan pemerintah untuk melakukan lockdown, justru melanggar aturan itu ketika menerima kunjungan seorang wanita dalam dua kesempatan.

Aturan yang berlaku melarang warga Inggris keluar rumah kecuali untuk berbelanja makanan, berolahraga, kebutuhan medis, atau jika mereka tidak dapat bekerja dari rumah.

Profesor Ferguson, yang bekerja di Imperial College di London mengatakan mundur dari posisi penasehat yang berperan penting dalam merumuskan kebijakan pemerintah terkait COVID-19.

Pemodelan yang dilakukan tim-nya dipandang sebagai titik balik dalam respons Pemerintah Inggris terhadap pandemi ini.

Pemodelan itu memproyesikan skenario terburuk di Inggris dengan kematian hingga 500.000 orang. Inilah yang mendorong pemerintah segera berlakuan aturan lockdown.

"Tindakan saya didasari atas keyakinan bahwa saya imun setelah dites positif corona dan telah menjalani isolasi hampir dua minggu setelah mengalami gejala," katanya.

"Saya sangat menyesalkan jika pesan yang jelas soal perlunya menjaga jarak untuk mengendalikan epidemi ini jadi terganggu," katanya.

Jumlah korban meninggal di Inggris saat ini sebanyak 32.313 orang, sekitar setengah dari jumlah korban di AS sebanyak 70.646 orang. Selamati keberhasilan Australia

Ratu Elizabeth II dari Inggris menelepon Perdana Menteri Scott Morrison untuk menyampaikan selamat atas keberhasilan Australia mencegah dampak mengerikan dari COVID-19.

PM Morrison mengungkapkan mereka juga membahas upaya pemulihan dampak kebakaran hutan serta kemarau di Australia.

"Yang Mulia juga senang mendengar bahwa pacuan kuda masih berlangsung di Australia," katanya.

Sementara itu, bentuk bantuan yang diluncurkan Pemerintah Australia yaitu program bernama JobKeeper, sejauh ini sudah diikuti 728.000 perusahaan yang mencakup 4,7 juta pekerja.

Pemerintah menyiapkan dana sebesar AU$130 miliar untuk program ini, di mana setiap pekerja yang terdampak COVID-19 akan mendapatkan pembayaran dari pemerintah.

Namun program yang diperkirakan akan diikuti sekitar 6 juta pekerja ini tidak akan diperluas ke mereka yang berstatus pekerja lepas.

Pihak oposisi telah mendesak pemerintah untuk memasukkan para pekerja lepas yang telah berganti pekerjaan dalam 12 bulan terakhir. 250.000 kasus di Asia Photo: India mengalami kenaikan jumlah kasus infeksi virus corona dan sejauh ini mencatat 200 kematian. (Reuters: Rupak De Chowdhuri)

 

Menurut hitungan kantor berita Reuters, kasus virus corona di negara-negara Asia telah mencapai seperempat juta pada hari Selasa (5/05), terutama didorong adanya pertambahan kasus di Singapura, Pakistan dan India.

Sementara China, Korea Selatan dan Jepang mulai memperlambat penyebaran penyakit ini.

Diperlukan hampir empat bulan untuk mencapai jumlah infeksi 250.000 orang di Asia, sementara untuk jumlah yang sama di Spanyol dicapai dalam dua bulan.

Secara global, Asia hanya menyumbang 7 persen dari total kasus, Eropa 40 persen, dan wilayah Amerika Utara 34 persen.

Namun banyak kalangan meniai bahwa banyak negara Asia yang menutup-nutupi angka sebenarnya dari pandemi ini.

Infeksi virus corona menyebabkan gejala ringan sehingga tidak semua orang dites.

Di sisi lain, sebagian besar negara di Asia hanya mencatat kematian di rumah sakit, yang berarti kematian di rumah dan panti-panti jompo tidak dihitung. KDRT meningkat di Rusia

Jumlah kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Rusia dilaporkan meningkat selama berlakunya aturan tinggal di rumah.

Kasus KDRT selama bulan April dilaporkan mencapai 13.000 atau naik tajam dibandingkan 6.000 kasus di bulan Maret.

KDRT banyak terjadi di Rusia dan menurut data polisi 40 persen dari semua tindak kekerasan terjadi di dalam lingkungan keluarga.

Rusia pada tahun 2017 mendekriminalisasi serangan ringan terhadap anggota keluarga dan menurut pegiat HAM, inilah yang mendorong meningkatnya KDRT. Photo: Tidak ada jaminan bahwa lomba balap Tout de France akan tetap digelar tahun ini. (AP: Thibault Camus)

 

Di Prancis, Menteri Olahraga Roxana Maracineane menyataan tidak ada jaminan balap sepeda tahunan Tour de France akan berlangsung tahun ini karena adanya pandemi COVID-19.

Tur yang telah dijadwalkan ulang pada 29 Agustus - 20 September, tampaknya akan menghadapi kendala larangan kerumunan yang berlaku di Prancis hingga akhir Agustus.

"Banyak orang meminta saya untuk tetap menggelar tur," ujar Maracineanu. "Saya berharap tetap terlaksana tapi saya tidak yakin."

ABC/wires

BACA ARTIKEL LAINNYA... Yuri Ajak Masyarakat Mewujudkan Agustus Merdeka dari Covid-19

Berita Terkait