Dorong Pertumbuhan Pendapatan, Indocement Naikkan Harga Jual Semen

Jumat, 19 Agustus 2022 – 15:45 WIB
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Foto dok INTP

jpnn.com, JAKARTA - PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (Indocement) membukukan volume penjualan domestik (semen dan klinker) secara keseluruhan sebesar 7,5 juta ton, pada Semester 1/2022, turun 448 ribu ton atau -5,6% dari volume Semester 1/2021.

Volume penjualan semen domestik (tanpa klinker) tercatat sebesar 7,1 juta ton, turun 302 ribu ton atau -4,1% dibandingkan volume pada Semester 1/2021 yang menyebabkan pangsa pasar domestik Perseroan menjadi 24,3%.

BACA JUGA: Kenaikan Tarif Ojol Diundur, Jadi Momentum Baik Untuk Menampung Aspirasi Publik

"Penjualan ekspor menurun -25,9% dari 222 ribu ton pada Semester 1/2021 menjadi 165 ribu ton di Semester 1/2022. Pendapatan Neto Perusahaan meningkat +3,7% menjadi Rp6.911,1 miliar dari Semester 1/2021 sebesar Rp 6.666,9 miliar yang disebabkan oleh kenaikan harga jual pada tahun ini di Maret dan Juni," ujar Antonius Marcos – Direktur & Corporate Secretary.

Antonius menjelaskan beban pokok pendapatan pada semester 1/2022 naik 12,5% dari Rp 4.572,9 miliar menjadi Rp5.142,3 miliar yang disebabkan oleh kenaikan biaya energi, terutama dari melonjaknya harga batu bara dan harga BBM Industri.

BACA JUGA: Menaker Apresiasi Penandatanganan PKB antara Manajemen dan SP BTN

Marjin Laba Bruto turun menjadi 25,6% di Semester 1/2022 dari 31,4% di Semester 1/2021.

Beban Usaha juga naik sebesar 1,2% dari Rp 1.485,6 miliar menjadi Rp1.503,4 miliar disebabkan oleh kenaikan biaya transportasi dan penyusutan dari penambahan aset-aset sewa pada 2022.

BACA JUGA: Ribuan Orang Antusias Meriahkan HUT ke-77 RI di Kecamatan Insana Utara

"Untuk mengurangi biaya energi, perseroan terus meningkatkan pemakaian konsumsi bahan bakar alternatif dari 12,2% pada akhir 2021 menjadi 17,6% pada Juni 2022, termasuk peningkatan penggunaan batu bara berkalori rendah (LCV) dari 88% menjadi 90%.

Akibatnya, marjin Laba Usaha turun dari 9,6% menjadi 4,8% dan marjin EBITDA berkurang dari 19,2% menjadi 13,3% pada Semester 1/2022.

Perseroan mencatatkan Pendapatan Keuangan–Neto yang lebih rendah yaitu Rp76,8 miliar di Semester 1/2021 menjadi Rp25,6 miliar, atau lebih rendah 66,7% yang disebabkan oleh suku bunga keseluruhan yang lebih rendah di Semester 1/2022 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Beban Pajak Penghasilan–Neto turun 47,2% dari Rp144,3 miliar menjadi Rp76,1 miliar disebabkan oleh penurunan laba.

Sehingga dari angka keuangan di atas, Laba Periode Berjalan turun 50,3% dari Rp586,6 miliar menjadi Rp291,5 miliar untuk Semester 1/2022.

Biaya energi menjadi perhatian utama di industri semen sejak tahun lalu.

Konflik yang sedang berlangsung dari perang di Eropa Timur telah membuat situasi menjadi lebih tidak terduga dengan rekor harga batu bara terjadi kembali di Juni 2022.

Harga energi diperkirakan tetap tinggi dengan mengingat permintaan akan meningkat dari musim dingin yang akan datang.

"Kami telah menaikkan harga jual semen kantong pada Maret dan Juni tahun ini untuk meneruskan sebagian dari kenaikan biaya energi tersebut. Diperkirakan volume penjualan semen curah akan tetap tinggi sebagai akibat cuaca panas dan telah dimulainya beberapa proyek komersial dan pengeluaran anggaran akhir tahun untuk proyek infrastruktur di Semester 2/2022 ini. Perkiraan kami untuk pertumbuhan semen secara keseluruhan pada 2022 sekarang berada di kisaran 2~4%," jelasnya.(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... APVI Minta Pemerintah Beri Perlindungan bagi Industri Produk Tembakau Alternatif


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler