Dua Perempuan Ini Hilang setelah Diperistri Anggota Gafatar

Senin, 18 Januari 2016 – 12:35 WIB
Dua warga Muaro Jambi hilang Diduga gabung Gafatar. Foto: Jambi Independent/JPNN

jpnn.com - JAMBI - Korban terduga ikut Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ternyata juga ditemukan di Muaro Jambi, tepatnya Desa Kumpe Ulu RT 26 dan Desa Kasang Pudak RT 22. 

Dua orang yang hilang itu adalah Sri Wulandari (20), putri ketiga dari pasangan Poniati (50) dan Alm Toro (55), warga Lorong Batanghari Desa Kasang Pudak Kecamatan Kumpe Ulu, Kabupaten Muaro Jambi dan anak ketua RT 26 Sunadi (60) atas nama Mardiah (23). Keduanya sudah enam bulan hilang dan tidak tahu kabar rimbanya. 

BACA JUGA: Gara-gara Bercanda, John Wakatobi Diamankan Gegana

Ketua Pemuda Kasang Pudak, Janiarto mengatakan, keduanya hilang hampir dalam waktu bersamaan tepatnya bulan Agustus setelah Lebaran Idul Fitri. Disebutkan Janiarto, semenjak itu kedua orang tua korban hilang kontak. Pihak keluarga sudah mencari kemana-mana, namun tidak melaporkan ke polisi. Keduanya hilang kontak setelah dibawa pergi oleh suaminya masing-masing. 

Namun kemudian pihak keluarga menjadi panik setelah melihat di media-media terkait bahayanya organisasi Gafatar. “Kedua orang tua korban panik karena tahu anaknya ikut organisasi itu diajak oleh suaminya masing-masing,” jelas Janiarto. Lebih lanjut kata Janiarto, masing masing suami dari korban bukanlah warga asli Kumpe Ulu.

BACA JUGA: ANEH! Tak Anjurkan Salat, Bayar Rp 800 Ribu Bisa Masuk Surga

Babinsa Kumpe Ulu, Syamsori mengatakan, dirinya tidak menyangka bahwa ada warganya yang ikut organisasi Gafatar di sana. Dijelaskannya, dirinya memang sudah mendapat intsruksi dari atasan untuk mewaspadai organisasi tersebut. Namun cara Oorganisasi tersebut merekrut anggota memang terbilang sulit diketahui. “Mereka sepertinya menikahi dulu, untuk akhirnya diajak bergabung,” ujar Syamsori.

Poniati, ibu dari Sri Ulandari saat dikonfirmasi mengatakan, sangat menyesal karena tidak keras melarang anaknya gabung Gafatar. Dikatakan Poniati, anaknya sempat Izin terlebih dahulu kepadanya saat diajak gabung menjadi anggota Gafatar oleh Ade Rahman (24) yang merupakan warga Desa Sembubuk, Muarojambi suami dari Sri. 

BACA JUGA: Api Hanguskan Lima Kelas SMPN 1 Ini

”Anak saya itu, izin ikut Gafatar sudah lama pak, dari tahun 2013 lah kalau gak salah. Yang ngajak ya suaminya itu Ade, dulu tapi belum nikah masih pacaran,” jelas Poniati.

Diceritakan Poniati, anaknya menikah dengan Ade pada sekitar tahun 2014 akhir. Semenjak nikah, anaknya mengalami perubahan yang aneh. Saat Ramadan anaknya tidak lagi puasa dan ikut salat. Selain itu, anaknya beserta manantunya itu tidak mau lagi makan daging. 

Dalam sehari mereka juga hanya makan satu piring nasi tidak kurang tidak lebih. “Sering lah saya tanyain, tapi dak pernah mau jawab. Tahun 2015 kemarin habis lebaran lah, anak saya izin mau pergi ke Kalimantan sama suaminya buka lahan. 

Tapi dari semenjak pergi sampai sekarang, dak pernah lagi ada kabar. Nomor Hp nya gak aktif, suaminya juga pihak keluarga suaminya juga gak tahu pak,” ujar Poniati terisak saat meceritakan kisah anaknya. 

Terpisah, Sunadi orang tua dari Mardiah yang juga merupakan korban terduga kelompok Gafatar lainnya menyebutkan bahwa anaknya (Mardia) dan menantunya juga menjadi korban Gafatar. "Anak saya itu bernama Mardiah (21) dan menantu saya, namanya Muhammad (32), mereka korban dari Gafatar itu mas," terang Sunadi.

Dikatakan Sunadi, dirinya yakin bahwa menantuya itulah yang mengajak anaknya gabung Gafatar. Dirinya mengenal menantunya memang hanya dua bulan saja karena waktu itu, Ahmad seperti sangat serius ingin menikahi anaknya. 

Namun saat sudah menikah, anaknya yang tadinya memakai jilbab melepas jilbabnya serta jarang salat. Menantunya pun kerjaanya tidak jelas, pergi pagi pulang malam. "Mereka ikut gerakan itu tidak ada baik-baiknya mas, mana sekarang anak dan menantu saya sudah pergi,” terangnya.

Setelah kurang lebih satu tahun menikah, menantunya izin untuk pindah rumah karena ingin mandiri. Setelah pergi itulah anak dan menantunya hilang kabar dan tidak pernah lagi terdengar kabarnya. 

"Dirinya pergi saat itu dengan alasan nyewa rumah di daerah beringin Kota Jambi, namun setelah satu hari mereka nyewa, setelah saya dapat kabar dari masyarakat sekitar, anak dan menantu saya ikut Gafatar, saya cek ke rumah mereka, ternyata mereka telah pergi entah kemana," tambahnya.

Sementara itu, Kapolsek Kumpe Ulu Kabupaten Muaro Jambi AKP Eko Budi Lestiono, membenarkan hal tersebut. Namun dikatakannya, terkait hilangnya mereka alasan bergabung dengan Gafatar masih belum bisa dipastikan. 

Namun indikasi arah ke sana memang besar, karena barang bukti berupa baju dan buku-buku ada diserahkan oleh orang tua korban. 

”Memang Indikasinya ada ke sana, tapi kita belum bisa pastikan apakah benar mereka ini pergi gabung Gafatar. Pihak kami masih melakukan investigasi, kalau barang bukti memang benar ada baju-baju Gafatar di serahkan orang tua korban untuk barang bukti,” ujar Kapolsek. (ano/ray)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hehehe... Pembalap Liar Menangis saat Digelandang ke Kantor Polisi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler