Dua Tahun Maute Pergi, Ratusan Ribu Warga Marawi Masih Mengungsi

Senin, 05 Agustus 2019 – 03:05 WIB
Pertempuran di Kota Marawi. Foto: AFP

jpnn.com, MARAWI - Bom berjajar di Barangay Moncado Colony, Marawi, Lanao Del Sur, Filipina, Sabtu (3/8). Itu adalah sisa-sisa bom yang gagal meledak saat pasukan Filipina menggempur kota tersebut untuk membebaskannya dari militan Maute dan Abu Sayyaf.

Bahan peledak itu ditemukan di antara reruntuhan bangunan dan rumah-rumah penduduk. Bom yang berukuran kecil hingga 117 kilogram itu akan diledakkan. Sejak pagi tentara sudah bersiap menggali tanah dan mensterilkan lokasi. Semua bom akan dikumpulkan di satu lubang dan diledakkan sekalian.

BACA JUGA: ISIS Runtuh, Asia Tenggara Kembali Dihantui Teroris

''Militer sengaja melakukannya Sabtu agar ledakan tak mengganggu kelas dan kantor-kantor,'' ujar Komandan Satgas Pembangun Tugas Bersama Bangon Marawi Kolonel Ireneo Sebastian kepada Inquirer.

BACA JUGA: Habis Sudah, Duterte Nyatakan Marawi Bebas dari Teroris

BACA JUGA: Bom Pingpong Meledak Dekat Lokasi KTT ASEAN

Dua tahun sudah berlalu sejak serangan di Marawi, tapi kota itu masih belum kembali normal. Sekitar 100 ribu penduduk masih tinggal di kamp penampungan. Itu setara dengan separo jumlah penduduk Marawi.

Sisanya memilih pulang dan tinggal di rumah-rumah yang masih bisa dihuni. Rumah itu tentu tak layak. Lubang peluru di mana-mana. Penduduk hanya memperbaiki seadanya.

BACA JUGA: Kejam, Taliban Ledakkan Bus Berisi Puluhan Anak dan Perempuan

Hingga saat ini Marawi masih porak-poranda. Kucuran bantuan dari pemerintah pusat tersendat. Janji pembangunan belum terealisasi sepenuhnya.

''Kami sudah bicara kepada penduduk. Kami sedang mencoba menyelesaikan proses mendapat izin sebelum mereka bisa membangun atau memperbaiki rumahnya,'' ujar Manajer Lapangan Satgas Rehabilitasi Bangon Marawi Felix Castro. Itu dilakukan untuk memastikan setiap rumah kembali ke pemiliknya yang asli.

Skala kerusakan di Marawi memang luar biasa besar, satu kota hancur. Tidak seperti serangan-serangan di Thailand, Sri Lanka, Malaysia, dan Indonesia yang berskala "kecil". Yaitu, di satu atau beberapa bangunan, tidak sampai satu kota.

Setiap negara di Asia Tenggara memiliki cara sendiri-sendiri untuk melawan ekstremisme. Mulai bekerja sama dengan militer asing hingga membentuk unit pasukan khusus. Uni Eropa dan India, misalnya. Mereka siap membantu Sri Lanka untuk melawan terorisme. (sha/c10/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Putra Kesayangan Osama bin Laden Dikabarkan Tewas, Dibunuh Amerika?


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler