Dukacita bagi Guru, Sahabat dan Cendekiawan Soekarnois: Bung Cornelis Lay

Oleh Hasto Kristiyanto*

Rabu, 05 Agustus 2020 – 09:31 WIB
Prof. Dr. Cornelis Lay, M.A saat menyampaikan pidato dalam pengukuhannya menjadi guru besar FISIPOL UGM, 6 Februari 2019. Foto: dokumentasi pribadi Hasto Kristiyanto

jpnn.com - Pagi ini saya menerima kabar dari Mas Pratikno, Menteri Sekretaris Negara. Isi kabarnya tentang dipanggilnya Prof. Dr. Cornelis Lay, M.A ke hadirat Ilahi.

Sebuah berita yang begitu mengejutkan saya. Seluruh perasaan campur aduk: kesedihan, dukacita, sekaligus terbentanglah seluruh rekam jejak sejarah perjalanan bersama Sosok Cendekiawan Soekarnois yang begitu saya kagumi.

Mas Cony -begitulah saya memanggilnya- merupakan sosok akademisi yang mampu membuat sintesis tepat antara pemikiran Bung Karno dan jalan politik Megawati Soekarnoputri. Sintesis pemikiran yang lahir dari kesadaran untuk menjadikan politik sebagai keyakinan ideologis; politik sebagai dedikasi bagi kepentingan umum; politik sebagai kesabaran revolusioner untuk memperjuangkan sebuah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bebas dari berbagai belenggu penjajahan.

BACA JUGA: Prof Cornelis Lay Meninggal Dunia, Selamat Jalan, Guru

Melalui sosok seperti Cornelis Lay, Ibu Megawati Soekarnoputri dapat berdialog berjam-jam, melakukan recalling keseluruhan ide, gagasan, cita-cita dan perjuangan Bung Karno yang dibumikan dalam alam kekinian. Keduanya secara intens membaca apa yang tidak tertulis, merasakan apa yang tidak tampak, dan mencari makna atas setiap peristiwa politik dengan “terang” dari pemikiran Bung Karno.

Ibu Megawati Soekarnoputri dan Mas Cony menjadi sahabat justru karena “sikap bebas” almarhum yang semasa hidupnya terus hadir sebagai sosok pemikir-intelektual. Ia tidak melibatkan diri dalam jabatan kekuasaan politik praktis. Ia lebih memilih berdedikasi mengurai dan memformulasikan sintesis setiap gagasan Bung Karno dalam praktik politik Megawati Soekarnoputri.

BACA JUGA: Siapa Saja Pembuat Pidato Pelantikan Jokowi

Tak heran, Ibu Megawati sering kali menempuh jalan diam kala kala berhadapan menghadapi setiap langkah hingga jebakan politik yang sering diciptakan pemerintahan otoritarian Orde Baru. Diam sebagai strategi, sekaligus membangun ruang kontemplasi dan menempa kesabaran diri.

Dalam jalan diam itulah Mas Cony hadir dan menjadi teman, sahabat, sekaligus sparring-partner diskusi bagi Ibu Megawati. Dalam diam itulah sosok Cornelis Lay bersama Megawati menggali pemikiran banyak tokoh, merasakan pemikiran itu dalam kesatuan akal budi dan hati.

BACA JUGA: Profil Pratikno, Si Anak Kampung dari Bojonegoro yang Dekat dengan Joko Widodo

Selama periode 1998 hingga 2014, saya sering mendampingi atau tepatnya mengantar Mas Cony ke Kebagusan, Teuku Umar dan di berbagai tempat. Di situlah saya menjadi saksi atas dialog politik yang selalu terjadi dalam keheningan, sebab yang dibahas adalah masa depan negeri.

Dalam keseluruhan perjalanan politik, saya sungguh bersyukur telah berkesempatan mendapatkan “mutiara gagasan” yang ikut membentuk seluruh kesadaran ideologi, kesadaran politik, dan kesadaran berorganisasi, serta kesadaran berkebudayaan, yang di belakang hari begitu berguna dalam seluruh perjalanan politik saya di PDI Perjuangan.

Melalui Prof DR Cornelis Lay pula saya memahami keteguhan sikapnya untuk tetap berdiri pada jalan intelektual, sebuah jalur yang menjaga jarak dengan politik, namun menceburkan diri dengan sikap “lepas-bebas” agar tetap bertahan pada objektivitas dan mengawal kebenaran dalam politik.

Apa yang dilakukan Mas Cony ini sejalan dengan sikap intelektual, yang berangkat dari makna ilmu pengetahuan yang digagas Bung Karno untuk diterapkan guna mengabdi pada perjuangan kemanusiaan. Perjuangan politik kemanusiaan inilah yang terus digagas dan ditekuni oleh Mas Cony.

Dengan demikian, penemuannya terhadap Jalan Ketiga Peran Intelektual sebagai Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan tidak terlepas dari dialog panjang dan koneksitas gagasan Bung Karno yang dipraktikkan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri.

Interaksi ilmu pengetahuan dan kekuasaan sebagaimana digagas Mas Cony pernah disampaikan Bung Karno ketika menerima gelar doktor honoris causa ilmu hukum dari Unversitas Gadjah Mada pada 19 September 1951. Ilmu pengetahuan hanya berharga penuh jika dipergunakan untuk mengabdi pada praktik hidupnya manusia, praktik hidupnya bangsa, atau praktik hidupnya kemanusiaa.

Itulah sebabnya mengapa Bung Karno selalu mencoba menghubungkan ilmu dengan amal, menghubungkan pengetahuan dengan perbuatan, sehingga pengetahuan untuk perbuatan dan perbuatan dipimpin oleh pengetahuan. Buatlah ilmu berdwitunggal dengan amal!

Ilmu dan amal yang digaungkan Bung Karno, dalam praktik politik tidak mudah diimplementasikan. Apalagi ketika selama pemerintahan Orde Baru, dunia akademis sering digunakan untuk melegalisasi kebijakan pemerintah sehingga terjadi “kebekuan” antara dunia akademis dan politik pemerintahan.

Kejernihan Mas Cony terlihat ketika menyintesis pemikiran Bung Karno dengan praktik politik Megawati Soekarnoputri yang berupaya menegakkan prinsip bahwa ilmu pengetahuan dan kekuasaan politik harus berjalan seiring dalam bahasa kemanusiaan.

Ibu Megawati menghadapi praktik-praktik politik kotor, homo homini lupus. Manusia dilihat sebagai serigala bagi sesamanya.

Bahkan di era politik kontemporer saat ini, praktik menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan masih terus dilakukan. Banyak aktor politik melakukan pembunuhan karakter, fitnah, sampai pada penghilangan nyawa politikus lawan sebagai satu hal yang biasa.

Refleksi kritis atas berbagai praktik politik kotor yang dialami Ibu Megawati dan PDI Perjuangan, bagi sosok Cornelis Lay menjadi api harapan bahwa jalan politik bukan semata-mata meraih kekuasaan, tetapi bersatu dengan rakyat dalam bahasa kemanusiaan, karena politik itu berkeadaban. Politik berkeadaban dan jalan kemanusiaan itulah buah ‘dialog batin’ antara Ibu Megawati dan Mas Cony.

“Sebagai politisi, setiap kader PDI Perjuangan harus mengedepankan politik kemanusiaan, politik humanis, sebagai perwujudan ilmu dan amal,” ujar Mas Cony suatu ketika.

Dalam suatu perjalanan pulang pasca-momen Sidang Umum MPR 1999, ketika saya masih awam terhadap berbagai bentuk ‘penjegalan politiik’, saya mencatat kata bijak sosok pemikir pejuang tersebut:

“Antara pemilu legislatif dan apa yang terjadi di Sidang Umum MPR 1999 seharusnya merupakan satu napas kehendak rakyat, one electoral process. Etika dan moral kekuasaan politik inilah yang harus dipegang. Untuk apa sebuah kemenangan dalam kontestasi politik bila harus mengoyak rasa keadilan dan rasa kemanusiaan serta mengabaikan kehendak rakyat yang disuarakan melalui pemilu. Maka politik tidak boleh kehilangan watak kemanusiaan itu.”

Jalan kemanusiaan adalah esensi pokok semangat pembebasan yang dikumandangkan oleh Bung Karno. Suatu jalan yang dipraktikkan dalam politik melaui cara berpikir dialektis dan kritis. “Sebab yang diubah bukan hanya tatanan hidup, tetapi juga mentalitet, dan struktur sosial yang tidak adil,” ucap Mas Cony yang kata-katanya selalu merasuk ke dalam pikiran saya.

Karena itulah, saya tidak heran atas gagasan jalan ketiga peran intelektual yang digagas Prof. Dr. Cornelis Lay, M.A dalam pidato pengukuhannya sebagai guru besar UGM. Semuanya bertopang dari daya kritisnya.

Melalui daya kritis dan tradisi intelektual yang sama, Mas Cony memberikan pemaknaan secara akademis atas label melekat yang ditujukan ke PDI Perjuangan seperti demokrasi arus bawah, mimbar demokrasi, posko gotong royong, penggembira politik, hingga label PDI Perjuangan sebagai Partai Wong Cilik. Pemaknaan secara akademis tersebut menjadi basis intelektual atas proses konsolidasi demokrasi dan kristalisasi ideologi.

Melalui dialog intens dengan Megawati pula Mas Cony mampu mengurai kegelisahannya ketika berkiprah di dua bidang yang dihadap-hadapkan. Ia adalah ilmuwan yang akrab dengan dunia politik. Penghayatannya pada ajaran-ajaran Bung Karno serta pengalaman empiris selama berinteraksi dengan Ibu Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan membuktikan bahwa peran intelektual sangat dibutuhkan dalam melaksanakan kekuasaan.

Akan tetapi, watak dan cara kekuasaan yang terbentuk harus berinti pada kemanusiaan. Di situlah pemikiran Mas Cony sangat kontekstual. Harus ada ruang tradisi intelektual dalam kekuasaan agar terjadi konvergensi antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang dipertemukan dalam bentuk pengabdian pada kemanusiaan.

Jalan ketiga dalam politik Indonesia kontemporer bagi kaum intelektual sebenarnya mewujud pada diri Mas Cony sendiri. Ia mampu memberikan warna intelektualitas pada praktik politik di PDI Perjuangan.

Di sisi lain, ia juga tidak kehilangan kekritisan akademis ketika berada di antara para politisi. Kebebasan ruang gerak kaum intelektual ke dalam praktik politik Indonesia tanpa meninggalkan daya kritis keilmuan atau pun menggadaikan pemikiran demi kekuasaan akan menjadi gerbang bagi kebangkitan bangsa di masa depan. Sebab bangkitnya sebuah bangsa sangat ditentukan pada kemampuan mensinergikan kekuatan politik, kekuatan kaum intelektual, dan kekuatan masyarakat.

Kepada Mas Cony, seluruh kader PDI Perjuangan ikut menghayati apa yang menjadi pesan Bung Karno bahwa dalam setiap perjuangan, pahit getirnya perjuangan, seluruh romantika, dinamika, dan dialektika perjuangan, semua itu tidak ada yang sia-sia. Terlebih ketika perjuangan itu didedikasikan bagi kepentingan bangsa dan negara; kepentingan ilmu pengetahuan, dan kepentingan umat manusia pada umumnya.

Maka tidak ada perjuangan yang sia-sia, no sacrife is wasted!!!

Mas Cony, Bung telah memberikan cahaya terang bagi kehidupan politik yang mengedepankan jalan kemanusiaan. Terimalah rasa terima kasih kami, rasa hormat kami dari seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDI Perjuangan.

Selamat jalan, Mas Cony. Engkau telah pergi, namun pemikiranmu akan makin bersemi.(***)

*Penulis adalah Sekjen PDI Perjuangan

 

 

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler