Dulu Office Boy, Kini Ubah Limbah Pelepah jadi Rupiah

Minggu, 12 Maret 2017 – 00:07 WIB
Abdul Hakim sedang mengerjakan pembuatan kerajinan kaligrafi berbahan kayu, di kediamannya di Kaujopn, Kota Serang, Jumat (10/3). Foto: Supri/Radar Banten/JPNN.com

jpnn.com, SERANG - jpnn.com - Abdul Hakim sempat tertatih-tatih merintis usaha. Tak hanya kayu, limbah pelepah pisang pun disulap menjadi kerajinan yang mendulang rupiah.

Supriyono – SERANG

BACA JUGA: Karya Pria Bertato Ini Sudah Mendunia, Omzetnya? Wow!

“Pahit kalau diingat, tapi indah kalau dirasakan,” ungkapan ini muncul saat Abdul Hakim berkisah pengalamannya membangun usaha kerajinan tangannya kepada Radar Banten (Jawa Pos Group) yang mengunjungi kediamannya di Kaujon Buah Gede, Kota Serang, Jumat (10/3) siang.

Bagaimana tidak, usahanya yang dimulai hanya bermodal ide dan limbah pelepah pisang dari kebunnya, sempat tak menghasilkan uang sepeser pun selama tiga bulan lamanya.

BACA JUGA: DPR: Wirausaha Baru Hadapi Kendala Pembiayaan

Padahal, di awal 1996 saat memulai usaha mandirinya itu, ia sudah memutuskan berhenti dari pekerjaan lamanya sebagai office boy di salah satu perusahaan swasta di Jakarta.

Sementara, pada masa itu, Ismawati, istri Abdul Hakim, baru saja melahirkan buah hati pertamanya.

BACA JUGA: Lama Terbelit Utang, Lunas Berkat Cabai

Namun, kegigihan langkahnya menggeluti usaha itu secara mandiri membuatnya bertahan hingga berjalan 22 tahun lamanya.

“Tiga bulan awal belum ada hasil sama sekali. Tapi, dijalani terus sampai setelah tiga tahun di Jakarta, kita pindah ke sini (Kota Serang, red),” kenang Hakim.

Masa-masa sulit itu juga dibenarkan Ismawati yang ikut menemani Hakim dari nol.

Dengan penuh bangga, perempuan kelahiran Serang 42 tahun silam ini merasa bahagia memiliki suami yang pantang menyerah.

“Kalau pertamanya ya pahit, tapi sekarang mah senang saja,” katanya sambil mengayunkan si bungsunya yang baru berusia satu tahun di pangkuannya.

Lantaran tak punya banyak modal, Ismawati menceritakan perjuangan suaminya yang sempat menggunakan lem perekat dari nasi dan tepung aci yang diolah sendiri. “Bahannya saja mengandalkan dari kebun,” katanya tersenyum.

Setelah mulai ada keuntungan, perlahan Hakim memperbaiki kualitas kerajinannya. Awalnya, yang hanya dikerjakan seadanya, ia terus memperbaiki.

Bahkan menambah ornamen-ornamen pemanis dan memberi pengilat menggunakan pernis.

“Kalau sekarang ya harus buat dengan sebaik mungkin. Karena kalau pembeli senang, kita ikut senang,” kata Ismawati.

Sembari menyuguhkan kopi hitam tanpa gula, penuh antusias Hakim menyambut cerita pengalaman yang dituturkan istrinya.

Beberapa karyanya ia tunjukkan, mulai dari pernak-pernik berbahan pelepah pisang, celengan bambu, pernak-pernik badak bercula satu, dan kerajinan kaligrafi berbahan kayu.

Awalnya, Hakim memang mengandalkan bahan utama pelepah pisang. Belakangan, ia mengembangkan kerajinan lain dari limbah kayu dan bambu.

“Sekarang saya tambah limbah peti (kayu palet, red) dijadikan kerajinan,” katanya sembari memperlihatkan kaligrafi bertuliskan Ayat Kursi yang masih sedikit basah setelah dipernis.

Ia tak menarget harus berapa banyak dalam sekian waktu. Dibantu oleh istri dan ketujuh anaknya, Hakim dapat membuat celengan sebanyak 20 biji dalam sehari.

Sedangkan kaligrafi, ia hanya bisa membuat dua buah dalam sehari. “Itu mulai nulis, menempel, sampai pernis,” ujar Hakim.

Karena membuatnya cukup rumit, untuk kaligrafi kayu seukuran 50 sentimeter kali 40 meter ia patok dengan harga Rp 350 ribu.

Sedangkan pernak-pernik lain ia patok harga mulai Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu, sesuai besar kecilnya ukuran.

Perlahan-lahan dan telaten, Hakim memasarkan kerajinan tangannya dari kampung ke kampung mengenakan sepeda ontel.

“Dijual di sekitar Serang saja. Keliling pakai ontel,” kata Hakim memperlihatkan sepeda bututnya yang terpakir di depan rumahnya yang terletak di sudut gang tak jauh dari SD Negeri 7 Serang di Kaujon. Hakim juga memasarkan barangnya ke daerah Jakarta, Bekasi, dan Depok.

Bukan soal uang yang didapat untuk memperbaiki taraf ekonominya, pria kelahiran Jakarta 48 tahun silam ini mengaku bangga bisa membuat kerajinan.

Terlebih, bisa menjadi mandiri tanpa harus bergantung dengan bantuan pemerintah.

“Selama ini resep saja. Ada kebanggan, dagang dari usaha sendiri dan bikin pembeli puas,” ujarnya tersenyum.

Setelah menceritakan pengalamannya, Hakim mengajak Radar Banten melihat proses pengerjaan kerajinannya.

Di atas saung bambu seukuran tiga meter persegi berbahan bambu di depan rumahnya, Hakim memperkenalkan bahan-bahan dan perkakasnya. Mulai dari gergaji, pahat, ukuran, ampelas, dan lain-lain.

Saung bambunya memang masih kecil, tapi di balik itu, Hakim punya cita-cita besar yang tercapai.

Di saat pemerintah baru berwacana mengembangkan industri kreatif, Hakim dengan kemandiriannya secara nyata melakukannya. Bahkan, dengan tekadnya itu, ia ingin mengubah saung bambunya menjadi sanggar kerajinan.

Mengenakan nama Sumber Utama Craft Indonesia (Suci), ia sudah mulai merintis pelatihan-pelatihan kerajinan.

“Saya bermimpi punya sanggar kerajinan dan itu yang belum kesampaian,” ujar Hakim. (*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Saipul Si Setrika Arang, Punya Pelanggan Anggota Dewan


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler