Edi Temukan Ayah dan Adiknya Berpelukan, tak Bernyawa

Jumat, 05 Oktober 2018 – 00:05 WIB
Edi Setiawan di Mpanau, Sigi. Foto: EDI SUSILO/JAWA POS

jpnn.com - Edi Setiawan berkomitmen terus terlibat dalam evakuasi korban gempa dan tsunami, sampai semua warga desanya bisa ditemukan. Tak lama setelah mendapati sang ayah meninggal, Edi berhasil menyelamatkan seorang pemuda yang nyaris tenggelam.

EDI SUSILO, Palu

BACA JUGA: Israel Kirim Bantuan untuk Korban Gempa Palu

DI rumah yang sebagian telah terendam lumpur itu, hati Edi Setiawan remuk redam. Sang ayah, Suryansyah, dan adiknya, The Friska Saskia, dia temukan tergolek berpelukan. Sama-sama tak bernyawa.

Guncangan gempa Jumat lalu (28/9) telah merobohkan rumah di Desa Mpanau, Sigi, Sulawesi Tengah, tersebut. Juga, memicu proses likuifaksi yang berbuntut tersemburkannya material bawah tanah ke permukaan.

BACA JUGA: Kasihan, Mengungsi ke Bone, Korban Gempa Sigi Kecelakaan

”Saya shock, nggak kuat melihat ayah dan adik saya,” kenangnya ketika ditemui Jawa Pos, Rabu (3/9).

Apalagi, hingga Sabtu lalu itu (29/9) atau sehari setelah gempa, dia juga tak tahu bagaimana nasib ibu, kakak, dan adiknya yang lain. Di mana mereka? Selamatkah mereka?

BACA JUGA: Pray For Sulteng, 1424 Korban Meninggal Dunia

Di tengah kedukaan mendalam itu, tiba-tiba dia mendengar teriakan minta tolong. Tak jauh darinya tampak seorang pemuda yang sudah terendam lumpur sampai seleher.

Dengan segera Edi melompat dari rumah yang dia tinggali bersama ayah, ibu, dan para adik tersebut. Lantas, mengambil kabel listrik yang telah terputus diterjang ombak. ”Langsung saya lemparkan ke orang itu,” tutur pria 32 tahun tersebut.

Sayang, saat tali sudah terlempar, orang itu tetap tidak tertarik. Dia terlalu lemas dengan tangan patah.

Edi lantas meminta pemuda itu melilitkan kabel listrik ke perut. Dan, langsung dia tarik perlahan kabel tersebut. Sampai pemuda itu akhirnya bisa diselamatkan.

Di Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong hari-hari ini, Edi hanyalah satu di antara sekian banyak ”pahlawan tak dikenal”.

Mereka yang sebenarnya juga jadi korban guncangan gempa dan terjangan tsunami. Kehilangan harta benda dan orang-orang tercinta. Tapi, tetap mengerahkan segala tenaga untuk menolong korban lain.

Tak lama setelah menyelamatkan pemuda tadi, kembali terdengar suara minta tolong. Kali ini seorang pria yang sudah agak sepuh. Yang juga tenggelam oleh lumpur.

Untuk menyelamatkannya, Edi menggunakan cara sama. Melemparkan kabel listrik. Menarik korban langsung ke tepi.

Edi selamat dari bencana karena pada Jumat nahas lalu itu, sebelum gempa pertama dirasakan, dia sedang berkunjung ke ladang tomat milik kawannya. Di Desa Sidera, Sigi. Dia memboncengkan Jiane Tarias (sang istri) dan tiga putri saat itu untuk pulang. Nah, dalam perjalanan pulang, mereka merasakan langsung guncanag gempa.

Motor yang dikendarai Edi sampai oleng. Hampir tersungkur. Edi pun lantas berhenti menepi di Desa Loru. Memerintah istrinya untuk tetap tinggal di desa itu bersama tiga putri mereka.

Edi menitipkan keluarganya bersama orang-orang yang mulai panik ke luar rumah. ”Pokoknya, saya minta istri untuk ikut warga dulu,” tuturnya.

Edi kemudiam tancap gas menuju rumah orang tuanya di Mpanau. Desa itu berbatasan dengan Petobo, kampung yang berada di bagian selatan Palu, ibu kota Sulawesi Tengah.

Saat sampai ke desanya, dia sangat kaget. Sebab, kondisinya telah hancur dilumat lumpur.

Tanah bergerak naik turun. Melumat dinding semen rumah. Sangat aneh. Dampak dari likuifaksi itu juga terjadi di Petobo.

Edi pun langsung mengajak warga desa yang selamat mencari keluarga atau tetangga yang hilang. Mantan karyawan honorer Pemprov Sulawesi Tengah itu pun berinisiatif membuat lokasi penyisiran berdasar area.

Jika sudah menemukan korban, warga yang mencari bisa menyampaikan ke semua yang bergerak. Untuk membantu mengangkat korban. Tapi, jika saat ditemukan lokasinya sulit, diminta memasang penanda di atas area penemuan. Berupa patok kayu dengan bendera putih.

Hasilnya, sehari setelah gempa, dia berhasil mengevakuasi delapan jenazah. Sementara hari berikutnya berhasil mengangkat empat orang. Di hari ketiga dua orang. ”Ayah dan adik saya ditemukan hari kedua,” jelasnya.

Dia bekerja siang-malam. Di Mpnau dan Petobo, Edi mengaku sudah mengangkut total 14 korban meninggal. Yang terjebak di rumah dan genangan lumpur.

Masing-masing dilalui lewat proses yang tak mudah. Kakinya, misalnya, sering menginjak paku rumah yang menganga. Belum lagi harus menahan bau mayat yang sudah membusuk karena sudah lebih dari 24 jam tidak dievakuasi.

”Ini kaki saya masih pincang karena tertusuk paku di lokasi pencarian,” terangnya.

Saking sibuknya, dia pun baru bisa menemukan sang ibu, kakak, dan dua adiknya setelah tiga hari gempa berlangsung. ”Saya baru tahu mereka juga selamat ketika mencari di tempat pengungsian,” jelasnya.

Tapi, Edi belum akan berhenti. Kepada Jawa Pos yang menemuinya di Mpanau, dia menunjuk gundukan lumpur seluas lebih dari 2 hektare. Banyak tanda mayat yang membusuk di sana.

Dia akan bergabung dengan tim Basarnas untuk mengevakuasi jenazah-jenazah tersebut. ”Saya akan membantu sampai warga desa ditemukan semua,” tutur lelaki yang setia mengenakan ikat kepala dari kain hijab sang istri itu. (*/c10/ttg)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Terbenam Lumpur Saat Gempa, Selamat karena Kabel Listrik


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler