Edukasi Gizi YAICI dan PP Muslimat NU Jangkau Locus Stunting Tertinggi di Indonesia

Kamis, 31 Maret 2022 – 15:43 WIB
Edukasi gizi YAICI dan PP Muslimat NU jangkau locus stunting tertinggi di Indonesia. Foto: Dok. YAICI

jpnn.com, JAKARTA - Lima kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) masuk dalam prevalensi sepuluh daerah dengan angka stunting tertinggi dari 246 kabupaten/kota yang menjadi prioritas percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Kelima kabupaten tersebut ialah Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Alor, Sumba Barat Daya, dan Manggarai Timur.

BACA JUGA: Mabuk Berat, Wanita Ini Enggak Terasa Diperkosa di Ruangan Karaoke, Berkali-kali

Studi Status Gizi Indonesia (SSGI)  2021 menyebutkan, kabupaten/kota dengan prevalensi stunting tertinggi ialah Timor Tengah Selatan (48,3%) dan menyusul Timor Tengah Utara (46,7%).

Sebanyak 48 dari 100 anak di Timor Tengah Selatan dan sebanyak 46 dari 100 anak di Timor Tengah Utara mengalami stunting. Angka ini lebih tinggi dua kali lipat dari ambang batas kejadian stunting yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 20%.

BACA JUGA: Pemuda Ini Pembunuh Berdarah Dingin, Buronan Polisi, Wanita 21 Tahun jadi Korban

Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), dalam rangka mendukung percepatan penurunan prevalensi stunting meningkatkan jangkauan edukasi gizi bersama mitra lembaga masyarakat maupun institusi pendidikan.

Salah satunya kemitraan dengan PP Muslimat NU, organisasi masyarakat berbasis keagamaan terbesar di Indonesia.

BACA JUGA: Siapa yang Memerkosa Wanita Pemandu Lagu Karaoke Saat Lagi Mabuk?

Edukasi dilakukan dengan memberikan pembekalan mengenai kebutuhan gizi keluarga, isi piringku serta makanan tinggi kandungan gula yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak seperti penyalahgunaan susu kental manis.

“Kami telah melakukan edukasi dengan memberikan pembekalan terhadap kader PP Muslimat NU di kota Kupang, di So’e di Timur Tengah Selatan dan juga di kota Kefamenanu , Timur Tengah Utara. Selain pembekalan, kami juga melakukan penelusuran langsung ke rumah-rumah penduduk yang memiliki balita yang terindikasi kurang gizi, gagal tumbuh maupun stunting untuk menggali faktor-faktor yang mempengaruhi dan bagaimana asupan gizi keluarga,” kata Ketua Harian YAICI Arif Hidayatt.

Dia mengatakan sebagai organisasi masyarakat YAICI bekerja sejalan dengan strategi yang ditetapkan pemerintah. Oleh karena itu, target wilayah yang menjadi sasaran edukasi YAICI pun mengacu pada locus stunting yang menjadi prioritas penanganan stunting yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang dilakukan pada 16–19 Maret 2022 kemarin.

Berdasarkan temuan lapangan tersebut, Arif menyimpulkan yang menjadi permasalahan adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap asupan anak sehari-hari.

“Di kota Kupang, banyak orang tua yang bekerja di daerah lain kemudian anak dititipkan ke nenek atau keluarga lainnya yang mereka juga minim edukasi. Sementara di Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan, memang ada faktor geografis wilayahnya serta akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Namun yang menarik adalah, meskipun masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan bahan pangan yang bergizi seperti ikan dan telur, namun anak-anak balita di sana sudah terbiasa mengkonsumsi makanan minuman ringan seperti teh kemasan dan juga sehari-hari minum susu kental manis,” papar Arif.

Lebih lanjut, dia mengingatkan bahwa mengatasi stunting tidak selesai hanya dengan bantuan pangan.

Masing-masing daerah memiliki karakteristiknya sehingga dalam mengatasi kejadian stunting diperlukan pendekatanan berbasis daerah dan sinergisitas dengan masyarakat setempat, salah satunya dengan menggerakkan kader-kader penyuluh kesehatan masyarakat di wilayah tersebut.

“Hingga saat ini, kami telah memberikan pembekalan terhadap lebih dari 10 ribu kader PP Muslimat NU, dimana mereka siap meneruskan lagi pengetahuan tersebut ke masyarakat dan lingkungan sekitarnya, melalui kegiatan-kegiatan berbasis sosial dan keagamaan yang rutin dilakukan Muslimat NU,” beber Arif Hidayat.

Ketua PCNU Kab Timor Tengah Selatan di Kota So’e Muhammad G.Arifudin mengakui sanitasi dan asupan gizi keluarga menjadi pemicu tingginya angka gizi buruk di wilayahnya.

“Kalau dilihat saat ini, memang NTT ini hijau, karena saat ini sednag musim hujan. Saat nanti musim kemarau, akan terlihat merah dan saat inilah masyarakat akan kesulitan air. Ini juga erat kaitannya dengan kemiskinan, anak makan seadanya termasuk minum susu kental manis di sini itulah susu yang dikonsumsi anak-anak,” kata ulama yang juga menjabat sekretaris MUI NTT ini.

Tingginya angka stunting di NTT menjadi perhatian khusus bagi Dinas Kesehatan Kota Kupang dalam penanganan stunting.

Dalam edukasi yang dilakukan di Kota Kupang, Riris Yunita Damanik dari Dinas Kesehatan Kota Kupang mengatakan sudah seharusnya edukasi gizi menjadi prioritas di NTT mengingat angka kejadian stunting di NTT masih sangat tinggi.

Selain itu kebiasaan-kebiasaan masyarakat terkait gizi anak memang memgkhawatirkan.

“Masih banyak anak yang belum 6 bulan tapi sudah diberi pisang dan bubur. Juga yang menjadi persoalan adalah ibu-ibu lebih suka memberi mpasi untuk anak berupa bubur instan, padahal banyak sumber pangan yang bisa diolah. Termasuk susu kental manis, masyarakat masih terbiasa menggunakannya sebagai minuman susu untuk anak,” kata Riris Yunita Damanik.

Lebih lanjut, Riris mengatakan akan mendorong institusinya agar perhatian terhadap edukasi mengenai cara konsumsi susu kental manis menjadi perhatian dinas setempat karena selama ini belum ada sosialisasi mengenai bahaya konsumsi kental manis.

Senada dengan itu, Erna Yulia Soefihara, Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU mengatakan PP Muslimat NU akan terus menyampaikan edukasi mengenai gizi kepada masyarakat terutama kader-kader NU. Sebab, pemahaman mengenai gizi berkaitan langsung dengan kesehatan anak dalam keluarga.

“Saat anak terkena stunting, yang pertama kali terganggu itu adalah otak anak. Begitu anak lahir, otak anak Tidak berkembang sebagaimana mestinya,” jelas Erna.

Sebelumnya, PP Muslimat NU bersama YAICI juga telah melakukan edukasi dan penelusuran lapangan di sejumlah kota di Indonesia, di antaranya kota-kota di Jawa Timur, Sulawesi Tenggara, Yogyakarta, Maluku hingga Kepulauan Riau.

Lebih lanjut, Erna juga menambahkan, selain di Kupang, NTT, PP Muslimat NU bersama YAICI juga telah melakukan edukasi di Jawa Timur, yakni di Banyuwangi dan Sidoarjo. Erna menegaskan edukasi ini untuk membatasi konsumsi gula harian.

“Gula adalah media yang paling disenangi sel-sel kanker. Jadi sebaiknya konsumsi makanan minuman tinggi gula ini sebaiknya dihindari. Makanya, penderita kanker sebaiknya membatasi konsumsi gula, apalagi susu kental manis, ini sangat disukai oleh sel-sel kanker untuk tumbuh,” kata Erna. (rhs/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... AKBP Komang Sebut Prada Yotam Gabung KKB, Jawaban Brigjen TNI Izak Pangemanan Tegas


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Gizi   Muslimat NU   stunting   YAICI  

Terpopuler