Ekonomi Ada Perbaikan, tapi...

Sabtu, 30 April 2016 – 00:18 WIB
Foto ilustrasi dok.Jawa Pos

jpnn.com - JAKARTA - Head of Analyst PT MNC Securities, Edwin Sebayang, melihat tanda-tanda pertumbuhan perekonomian mencapai 5,15 persen pada awal tahun semakin terlihat. 

Namun belum berimbas pada sektor yang selama ini menjadi indikator sekaligus bagian dari kekuatan ekonomi Indonesia yaitu produk consumer seperti kendaraan termasuk properti.

BACA JUGA: Bank Umum Layani Pembukaan Rekening Efek

”Ekonomi ada perbaikan dan kalau kita perkirakan sejak awal tahun tumbuh 5,15 persen di kuartal pertama. Jadi harapan kami bisa tumbuh segitu. Kalau itu terjadi, on track,” ucapnya, seperti diberitakan Jawa Pos.

Meski begitu, dari indikator yang ada, kecepatan perbaikan ekonomi belum sesuai harapan. Sebab penjualan otomotif terutama mobil yang selama ini menjadi proksi (perwakilan) pertumbuhan ekonomi, lalu penjualan properti, semen, dan barang konsumsi harian masih lambat. 

BACA JUGA: Rabobank Lirik Potensi Kredit Perikanan

”Kita lihat kinerja PT Unilever Tbk (produsen barang kebutuhan harian) masih flat,” ujarnya.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil secara nasional menurun sebesar 5 persen menjadi 267 ribu unit pada kuartal pertama 2016. 

BACA JUGA: Realisasi Penjualan Honda di Bawah Target

Sedangkan Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) melaporkan pasar kendaraan roda dua secara nasional turun 6 persen menjadi 1,5 juta unit.

”Jadi dari situ memang belum bisa terdorong besar untuk tingkatkan konsumsi. Padahal konsumsi kita harapkan bisa mendorong pertumbuhan PDB (produk domestik bruto),” kata Edwin.

Barang konsumsi yang mencatatkan kenaikan justru datang dari produk yang diistilahkan tidak riil seperti pulsa baik untuk telepon maupun data. Tercermin dari cemerlangnya kinerja industri telekomunikasi yang terepresentasi oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

”Ya itu juga baik. Tapi seberapa lama dan kuat pertumbuhan di sektor tersebut? Bagaimanapun yang kita harapkan pertumbuhan dari sektor riil yang tahan lama; mobil, motor, properti, itu yang bisa confirmed (mengonfirmasi) bahwa akan ada pertumbuhan ekonomi lebih kuat,” ulasnya.

Maka yang dibutuhkan saat ini adalah komtmen pencairan anggaran pemerintah untuk infrastruktur dalam jumlah lebih besar dan sesegera mungkin. Pembangunan infrastruktur diyakini akan memiliki efek berantai terutama terhadap sektor konsumer yang lebih riil itu.

Belanja pemerintah itu pula yang diyakini akan tetap menjaga keberlanjutan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada kuartal kuartal berikutnya sampai akhir 2016. ”Jadi kita butuh komitmen anggaran pemerintah, Komitmen instansi-instansi di luar itu yang mendukung birokrasi dan perekonomian, lalu komitmen tax amnesty,” terangnya.

Edwin menilai, terbitnya peraturan tax amnesty sudah sangat ditunggu dan efeknya bisa langsung terasa terhadap tambahan pembangunan terutama infrastruktur. 

”Tax amnesty efeknya akan langsung. Dalam arti, dia bisa masuk ke sektor uang dan non keuangan. Kalau ke sektor riil langsung kan butuh waktu masuknya. Biasanya masuk ke sektor keuangan dulu apakah obligasi, saham, MTN (Medium Term Notes), reksa dana. Nanti kalau mau langsung ke sektor riil kan butuh waktu, bikin perusahaan dulu, dan sebagainya,” pikirnya.

Diharapkan tax amnesty benar-benar bisa mendapatkan payung hukum berupa undang undang (UU) walaupun pemerintah sedang ancang-ancang menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) jika proses di DPR buntu. 

”Memang bagus juga untuk terbitkan PP karena harus ada cut of time dari pemerintah yang bisa dikatakan urgent untuk diterapkan jika di DPR tidak pasti. Tapi akan lebih kuat melalui UU, lebih besar dampak psikologisnya. Mereka (pemilik dana) takut berubah lagi aturannya kalau bukan UU,” paparnya. (dee/owi/ken/wir/gen/sam/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pertamina Fokus Selesaikan 3 Proyek Kilang


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler