Ekonomi Indonesia Lebih Baik di Era SBY

Minggu, 30 Agustus 2015 – 07:09 WIB
Edi, penjual minuman sekoteng. Foto: Friederich Batari/JPNN

jpnn.com - JAKARTA – Era reformasi yang sudah berlangsung 17 tahun ini, cukup menggembirakan bagi kelangsungan kehidupan demokrasi di Indonesia. Partisipasi rakyat terutama kebebasan menyampaikan pendapat menjadi penanda bagi proses pematangan kehidupan berdemokrasi di Tanah Air.

Di era ini, rakyat bebas bicara. Bahkan, tak segan-segan mengkritik apabila kebijakan pemerintah tak sesuai harapannya. Kebebasan ini sangat langka ditemui di era orde baru, ketika berkuasa selama 32 tahun.

BACA JUGA: Mak Inah Penjual Sapu Lidi itu Menangis

Kini, kebebasan itu tidak hanya dikalangan elit saja, namun masyarakat kecil mulai dari kedai kopi hingga mall bisa bebas bicara. Pedagang minuman Sekoteng asal Cirebon, Jawa Barat, Edi (44 tahun), misalnya, bisa bebas berekspresi dan mengutarakan beratnya kehidupan yang dia jalani saat ini.

“Ya, kondisi ekonomi jauh lebih baik di era Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, red). Sekarang ini makin susah,” ucap Edi kepada JPNN, Minggu (30/8) dini hari, di sela-sela Acara Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Peringatan 70 Tahun DPR, di Lapangan Sepak Bola, Kompleks Parlemen RI, Senayan, Jakarta.

BACA JUGA: Ada Pocong Malah Ngakak

Menurut Edi, ekonomi Indonesia di era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, jauh lebih baik.

Ucapan Edi tersebut, boleh jadi mewakili suara rakyat kebanyakan. Meski beban hidup makin berat, namun Edi terpaksa tetap menjalani usahanya sebagai penjual minuman sekoteng yang dirintisnya sejak 21 tahun lalu itu. “Tidak ada pekerjaan lain,” ucap Edi singkat.

BACA JUGA: Menengok Tapal Batas RI di Malinau, Prajurit Penjaga Paling Suka di Pondok Cinta

Edi sebenarnya tak sendirian. Wakil rakyat juga mulai gusar dengan ekonomi di era Presiden Joko Widodo (Widodo).

Kritik DPR memang cukup elegan dan menghibur. Wakil rakyat ini menyampaikan pesan dan kritik sosialnya melalui Pagelaran Wayang Kulit, semalam suntuk, tadi malam.

Pagelaran Wayang yang mengambil lakon “Pepeling Semar” dengan Dalang Ki Enthus Susmono, yang juga Bupati Tegal, Jawa Tengah ini, mengisahkan kesulitaan ekonomi dan masalah sosial di negara Yawastina.

Di negara itu, Prabu Parakesit sedang dihadap para nayaka menerima kedatangan Ki Lurah Semar. Sebagai wakil rakyat Semar merasa prihatin melihat situasi negara, ekonomi makin merosot, rakyat semakin miskin. Juga banyak pengangguran, kerusuhan, begal dimana-mana, kehidupan rakyat semakin tidak aman.

Semar mengingatkan atau memberi Pe’peling kepada Prabu Parikesit supaya segera mengambil tindakan. Kalau perlu mengganti para pejabat yang tidak mampu menjalankan tugasnya. Tak lama kemudian datanglah prajurit yang melaporkan terjadi kerusuhan yang dilakukan prajurit Prabu Niradha Kawaca. Prabu Parikesit segera mengutus Raden Sasikirana anak Gatutkaca.

Di Pesanggrahan Jalawasesa, Prabu Niradha Kawaca berusaha untuk menolong negara Yawastina. Namun usaha tersebut dapat digagalkan para prajurit Yawastina dibawah pimpinan Raden Sasikirana anak Gatutkaca.

Di Pertapaan Kendalisada Begawan Anoman kedatangan Dewi Sritanjung yang diminta petunjuk atas berbagai bencana yang melanda negara Yawastina. Begawan Anoman memberi nasehat bahwa apa yang terjadi di negara Yawastina disebabkan masih banyaknya para pejabat yang kurang tanggap dan kurang memerhatikan kesengsaraan rakyat. Untuk itu, Srinjung diminta supaya konsultasi dengan Ki Lurah Semar karena Semar-lah yang tahu dan memahami akan kebutuhan orang kecil.

Sementara itu, di Kadipaten Pancala, Adipati Pancakusuma cucu dari Puntadewa bertemu dengan Kertiwindu cucu Patih Sengkuni. Kertiwindu membujuk Pancakusuma supaya mengambil alih kekuasaan Yawastina dengan dalih Parikesit tidak bisa mengendalikan keamanan dan ketertiban Yawastina.

Melalui momentum Peringatan ke-70 Tahun DPR, Edi bersama para wakilnya di Senayan, tampaknya memberi pesan kuat kepada Presiden Jokowi agar segera mengambil langkah kebijakan dan berbagai terobosan guna membawa negeri ini lebih baik lagi dibandingkan era sebelumnya.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Baca Nih Contoh Toleransi Beragama dari Kedalaman 1.600 Meter di Bawah Tanah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler