Eks Satpam IPB Raih Gelar Doktor Berkat Disertasinya soal Desa Digital

Selasa, 29 Maret 2022 – 09:35 WIB
Hudi Santoso. Foto: Dokumentasi pribadi

jpnn.com, BOGOR - Perjuangan Hudi Santoso menempuh pendidikan patut dijadikan contoh.

From zero to hero, ungkapan ini cocok disematkan kepada lelaki asal Nganjuk, Jawa Timur tersebut.

BACA JUGA: Kejadian Sadis Ini Terjadi di Bandung

Hudi menoerahkan prestasi membanggakan. Pria yang notabene eks satpam Kampus IPB University Bogor itu berhasil meraih gelar doktor lewat disertasinya berjudul 'Model Komunikasi Digital Desa Wisata dalam Pengembangan Kapasitas Pelaku Wisata di Kabupaten Bogor'.

Menariknya, gelar doktor didapatnya di kampus yang pernah dia 'jaga'.

BACA JUGA: Bripda Syahril Tewas Ditembak, Polisi Buru 15 Orang, Identitasnya Sudah Dikantongi

"Saya jadi satpam di IPB sekitar empat tahun. Persisnya ketika pembangunan gedung Fakultas Kedokteran Hewan," ujar Hudi Santoso seusai menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor di IPB University, Bogor, Jawa Barat, Senin (28/3).

Hudi mengaku tak pernah menyangka bisa menempuh studi hingga program doktoral di kampus bergengsi seperti IPB.

BACA JUGA: 2 Prajurit Marinir Tewas Ditembak, KSAL Keluarkan Perintah

"Sempat ngojek juga di kampus (IPB). Dari situ saya berpikir kalau begini terus, hidup saya stagnan, enggak ada perubahan. Alhamdulillah diberi kemudahan. Masuk diploma, lanjut S1 di UNS Solo, kemudian lanjut lagi magister hingga doktor di IPB," cerita Hudi.

Terkait disertasinya, Hudi mengatakan kalau Kabupaten Bogor memiliki potensi desa wisata yang sangat besar.

Dengan 42 desa yang berpotensi menjadi desa wisata dan 25 diantaranya sudah aktif sebagai desa wisata.

Hanya saja, terang Hudi, pengelolaan desa wisata ini dirasa belum optimal terutama jika melihat potensi yang dimiliki.

Dia menjelaskan kalau pengelola desa wisata seharusnya memiliki kemampuan dalam mengakses, mengelola, memanfaatkan berbagai platform apps media untuk menyampaikan informasi, promosi, dan membangun reputasi desa wisata yang dikelola.

"Para pengelola desa wisata belum mampu melaksanakan praktik komunikasi pemasaran. Padahal ini merupakan unsur penting untuk pengembangan dan keberlanjutan desa wisata yang mampu menghadirkan banyaknya kunjungan wisatawan sehingga keuntungan dapat diperoleh secara optimal," lanjut dia.

Hudi menjelaskan bahwa komunikasi pemasaran lewat media sosial sangatlah penting dalam mengembangkan desa wisata. Karena, makin tinggi pemanfaatan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan YouTube maka komunikasi pemasaraan makin meningkat popularitasnya.

Penelitian yang dilakukan Hudi menggunakan metode penelitian survei terhadap terhadap 166 responden yang didapat dari 3.320 orang populasi pelaku desa wisata di Kabupaten Bogor.

Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan bulan Juni 2020 di empat kecamatan, yaitu Pamijahan, Leuwiliang, Babakan Madang, dan Tenjolaya.

Adapun tim pembimbing disertasinya terdiri dari Dr Ir Amiruddin Saleh, MS, Prof Dr Ir H Musa Hubeis, Diplome Ing, DEA, dan Dr Ir Wahyu Budi Priatna, MSi. Sedangkan tim pengujinya ialah Prof Dr Ir Pudji Muljono, MSi dan Prof Dr Widodo Muktiyo, MCom.

Hudi, yang kini menjadi dosen tetap Sekolah Vokasi IPB itu memaparkan bahwa untuk Pengembangan desa Wisata di Kabupaten Bogor dibutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan. Terutama dari pemerintah daerah Kabupaten Bogor.

Pemerintah daerah perlu membuat kebijakan yang prioritas seperti mengadakan pelatihan komunikasi pemasaran dan pemanfaatan media digital, serta memfasilitasi modal untuk menguatkan kewirausahaan pelaku wisata agar desa wisata menjadi semakin berkembang.

"Selain itu, pelaku desa wisata di Kabupaten Bogor perlu membuka diri dengan cara aktif mencari informasi di media untuk meningkatkan fasilitas di desa wisata. Seperti wahana atau spot foto yang menarik sehingga dapat menarik wisatawan," kata Hudi Santoso. (rhs/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Koruptor yang Paling Diburu Tertangkap, Tangannya Langsung Diborgol, Siapa Dia?


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler