Ekspor CPO Harus Digenjot demi Kendalikan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 09 Oktober 2018 – 01:42 WIB
Ilustrasi kelapa sawit. Foto: Radar Tarakan/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai ekspor minyak sawit mentah (crude pam oil/CPO) membutuhkan insentif di tengah nilai tukar rupiah yang sedang melemah.

Menurut Bhima, peningkatan ekspor CPO bisa menjadi langkah ampuh untuk mengendalikan nilai tukar rupiah.

BACA JUGA: Akhir Tahun, Rupiah Bisa Rp 15.600 per USD

’’Bisa jadi jalan pintas atau quick win. Tawaran solusinya adalah mengurangi pungutan ekspor untuk CPO dari USD 50 untuk yang mentah dan USD 30 untuk olahan menjadi USD 20 per ton. Minyak sawit adalah penyumbang devisa nonmigas terbesar,’’ ujar Bhima, Minggu (7/10).

Bhima menambahkan, dalam beberapa waktu terakhir ekspor CPO mengalami gangguan. Misalnya, ada pengenaan bea masuk di India.

BACA JUGA: Perlu ada Perubahan Gaya Bermain Tim Jokowinomics

’’Jika pungutan ekspor direlaksasi, daya dorong sawit diharapkan menekan defisit perdagangan dan kuatkan kurs rupiah. Nanti, ketika kondisi sudah mulai stabil, pungutan ekspor CPO bisa dikenai lagi,’’ kata Bhima.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sependapat bahwa pemerintah perlu mengambil langkah untuk mendorong ekspor CPO.

BACA JUGA: Rupiah Anjlok, Piaggio Masih Bertahan dengan Harga Lama

Apalagi, saat ini produksi CPO berlebih. Menurut catatan Gapki, volume ekspor minyak sawit dan turunannya pada Agustus 2018 mencapai 3,3 juta ton. ’

’Angka itu meningkat kalau dibandingkan dengan Juli 2018 yang tercatat 3,22 juta ton,’’ tutur Ketua Umum Gapki Joko Supriyono.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menyebut harga yang rendah dimanfaatkan imporitr untuk membeli minyak sawit dalam jumlah besar.

’’Permintaan pasar global yang tinggi terhadap minyak sawit belum mampu mengerek harga,’’ jelas Mukti. (agf/c14/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Nyaris Rp 15.200 per USD, Bu Ani Sebut Faktor Eksternal


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler