Elite Gerindra Disarankan Tiru Politisi Partai Demokrat

Selasa, 11 Juni 2019 – 16:43 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY di Istana Bogor. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Hasil akhir Pemilihan Presiden 2019 tinggal menunggu proses sengketa hasil pilpres yang kini bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK).

Meski tahapan Pilpres 2019 telah berakhir, pengamat politik Afriadi Rosdi melihat masih banyak warga memandang kompetisi politik sebagai permusuhan.

BACA JUGA: Soal Kabinet, Maruf Amin Pasrahkan ke Jokowi

"Saya kira ini sebuah pandangan yang sangat keliru, sehingga menghasilkan sikap yang keliru juga, yaitu menganggap kawan sebangsa yang berbeda pilihan sebagai musuh," ujar Afriadi kepada JPNN, Selasa (11/6).

Dosen di STIKOM-InterStudi Jakarta ini melihat kecenderungan politikus bermental busuk memanfaatkan pandangan keliru masyarakat yang ada untuk kepentingan politik sesaat. Seakan tak peduli dengan efek negatif yang dapat ditimbulkan, yaitu disintegrasi bangsa, disharmoni dalam masyarakat, kekacauan sosial dan sejenisnya.

BACA JUGA: BPN Ajukan Perbaikan sebelum Diregistrasi

"Bangsa ini masih harus belajar banyak dalam berdemokrasi. Kelompok yang sudah paham dengan nilai-nilai demokrasi dan dinamika yang dihasilkannya, harus lebih sabar menghadapi kelompok yang memosisikan kompetisi politik sebagai permusuhan tersebut," ucapnya.

BACA JUGA: Soal Kerusuhan 21 - 22 Mei, PRN Siap Gelar Aksi di Mabes Polri

BACA JUGA: Wiranto: Tidak Ada Pembatasan Medsos Saat Sidang Sengketa Pilpres 2019

Ketua Pusat Kajian Literasi Media ini kemudian mencontohkan sikap politik yang diperagakan elite Partai Demokrat pasca-pengumuman hasil Pilpres 2019.

Antara lain, silaturahmi politik Ketua Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke keluarga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat Idul Fitri.

Kemudian, sikap bersahabat yang ditunjukkan calon presiden petahana Jokowi, Megawati dan tim kampanye nasional Jokowi-Ma'ruf Amin secara umum kepada petinggi Partai Demokrat. Sikap-sikap tersebut menurut Afriadi, adalah pembelajaran politik yang sangat berharga bagi masyarakat.

"Memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kompetisi politik itu ibarat pertarungan tinju atau pertarungan MMA, semua jurus akan dikerahkan untuk mengalahkan lawan pada saat waktu pertandingan. Tetapi setelah bel terakhir dibunyikan, sang petarung kembali berpelukan meski darah masih mengalir di wajah mereka sekalipun," ucapnya.

Afriadi berharap petinggi Partai Gerindra mengikuti langkah politik elite Partai Demokrat. Yaitu, bersilaturrahmi politik ke Jokowi. Jika itu dilakukan, Gerindra dinilai munjukkan kepada masyarakat sikap bersahabat dalam berpolitik.

"Berikan teladan kepada warga, bahwa kompetisi politik itu tak berarti permusuhan. Itu hanya sekadar kontestasi mencari pemenang. Jika elite Gerindra, terutama Prabowo melakukan hal tersebut, insyaallah akan terjadi kesejukan luar biasa di tengah masyarakat," tuturnya.

Afriadi juga meyakini keterbelahan di dalam masyarakat akan mencair. Ketegangan sosial akan mereda. Kelompok-kelompok kepentingan yang ingin memanfaatkan ketegangan politik untuk menciptakan hura hara sosial akan kehilangan amunisi.

BACA JUGA: Mantan Kapolda Metro Jaya Sofyan Jacob Tersangka Makar, Bukti Polri Profesional

Afriadi lebih lanjut mengatakan, silaturrahmi politik elite Gerindra ke Jokowi tak berarti gelaran kasus sengketa pilpres di MK dihentikan. Hanya saja, tak ada lagi kamus menggelorakan emosi warga dalam menghadapi sidang MK tersebut.

"Sidang MK dihadapi secara kesatria sesuai koridor hukum dan konstitusi. Semua dilakukan secara beradab. Jadikan sidang MK sebagai ajang pendidikan politik bagi warga dalam rangka membangun kedewasaan berpolitik dan kematangan berdemokrasi," pungkas Afriadi. (gir/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sabar, Besok Pak Wiranto Beberkan Kaitan Demo Rusuh 21-22 Mei dengan Tim Mawar


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler