Empat Contoh Pilihan setelah Krisis

Jumat, 26 Desember 2008 – 01:01 WIB
INILAH empat contoh pertumbuhan ekonomi yang saya ambil dari orang-orang dekat saya:

Contoh I:
Dia insinyur lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), yang begitu lulus melamar menjadi wartawan Jawa PosPrestasinya baik, sedikit di atas rata-rata

BACA JUGA: Membayangkan Hidup setelah Krisis

Karir terakhirnya sebagai jurnalis adalah redaktur ekonomi
Dia mampu membeli rumah, mobil, menyekolahkan anak di universitas swasta terbaik, dan akhirnya punya menantu orang Jerman

BACA JUGA: Kiat Bernie, Padukan Bunga dan Romantisme

Rumahnya, meski tidak besar, empat unit
Tersebar di berbagai lokasi di Surabaya.

Hidup sehari-harinya sangat tertib

BACA JUGA: Rekor sang Pendosa Beralih ke Bernie

Mobil pertamanya, bekas, kelas 1000 cc dirawat dengan sangat baik: bersih, mulus, dan kalau parkir tidak pernah mencong sedikit punBaju yang dikenakannya tidak mahal, tapi selalu rapiWajahnya penuh senyumanTidak pernah terlihat merokok atau ikut hura-huraTidak punya bon di kantor dan tidak juga senang utang ke teman-teman kerjanyaHampir tidak pernah sakit sehingga asuransi kesehatannya sering kembali menjadi tabungannya.

Kalaupun dia punya beberapa rumah, bukan karena gajinya sangat besarTapi, dia sangat menghitung sistem keuangan rumah tangganyaKetika kali pertama beli rumah (cicilan), dia pilih lokasi yang masa depan lokasi itu harganya terus naikDia memang wartawan ekonomi yang kritis terhadap perhitungan keuanganKetika rumah di lokasi itu sudah sangat mahal, dia jual rumah ituSebagian untuk melunasi cicilan, sisanya dia jadikan uang muka untuk dua rumah: gajinya yang baru sudah cukup untuk mencicil dua rumah yang harganya masih murah.

Dua rumah itu juga dia pilih yang lokasinya baik sehingga harga masa depannya terus naikBeberapa tahun kemudian harga rumah itu sudah sangat tinggiLalu, dia jual lagiHasilnya untuk melunasi cicilan dan jadi uang muka untuk empat rumahKini semuanya sudah lunasDia termasuk orang yang berpikiran jauh ketika membeli rumahSelain untuk tempat tinggal, itu juga untuk investasi

Bukan seperti saya, ketika pertama beli rumah dulu: beli rumah dengan pikiran sangat tradisional, hanya untuk tempat tinggalWaktu itu saya tidak pilih-pilih lokasiYang penting terjangkauSampai sekarang, setelah 30 tahun pun, harganya tidak seberapa naikMaklum, sering kebanjiran.
Kini dia menjadi direktur utama di salah satu anak perusahaan Jawa Pos.

Kalau saya renungkan, pertumbuhan ekonomi orang seperti dia kira-kira 15 persen setahunBerarti jauh di atas pertumbuhan ekonomi negara yang sekitar 6 persen setahun itu

Tapi, orang seperti dia adalah orang yang sedikit ikut menikmati bubble (gelembung) ekonomiDia ikut menikmati kenaikan harga tanah yang panas bukan karena sinar matahari, tapi karena digorengDia ikut mencicipi gorengan ituMaka bisa dibayangkan berapa persen pertumbuhan ekonomi dari orang yang menggoreng.

Tanpa ada penggorengan, orang seperti dia juga tidak akan ikut menikmatiJadi, kalau ada pertanyaan ke mana larinya uang-uang hasil penggelembungan ekonomi yang menyebabkan krisis itu, salah satu di antaranya jatuh kepada orang seperti anak buah saya ituTapi, dia hanya ikut menikmati sangat sedikitYang banyak adalah yang menggoreng itu
Penggorengan akan sangat sukses kalau dilakukan di kota besarKian besar sebuah kota, kian dahsyat penggorengannyaKian banyak juga hasil gorengan yang dinikmatiKian kecil sebuah kota, kian sedikit ikut menikmati.
Apakah orang seperti anak buah saya itu sudah tergolong rakus yang kemudian menyebabkan krisis ini?
                                                      ***
Contoh II
Kemarin malam, jam 03.00 pagi, saya ke percetakan Jawa PosMelihat proses pengiriman koran kepada agen-agenKali ini bukan karena saya harus bekerja keras, melainkan kangen saja pada apa yang saya lakukan 20–25 tahun laluSaya ngobrol dengan orang yang kerjanya mengangkut koran

Dia sudah bekerja sebagai pengangkut koran sejak 1986, sejak masih bujang dan sejak kantor Jawa Pos masih di Jalan Kembang JepunWaktu itu dia sopir bemoBemonya milik orang lain, dia kerja setoranDini hari bemonya untuk mengangkut koran, siangnya untuk angkut penumpangLima tahun kemudian dia bisa membeli mobil bekas, Hijet 1000Dia mulai mengangkut koran dengan mobil milik sendiri.

Sepuluh tahun kerja angkut koran, dia bisa beli mobil lagiKali ini mobil baru, cicilan, Mitsubishi T1200Maka dia mulai bisa menyewakan dua mobil untuk mengangkut koranHasil dua mobilnya itu bisa untuk membeli rumah, menghidupi rumah tangga, membeli sepeda motor, dan membeli sepeda pancal untuk anaknya yang sekolah di SMP

Sepuluh tahun terakhir ini dia tidak bisa menambah armadaHingga kemarin, Hijet 1000-nya yang sudah berumur 25 tahun itu masih beroperasiMemang, bodinya sudah tidak asli lagiTapi, sebagai mobil, Hijet itu masih berjalanDia belum punya gambaran kapan bisa membeli mobil yang ketigaBahkan, sepeda motornya harus dijual untuk membantu adiknya berobatBeban rumah tangga, naiknya beban hidup, dan adiknya yang sakit menyebabkan perjalanan 10 tahun terakhirnya tidak sebaik 10 tahun pertamanya.

Kalau saya perkirakan, pertumbuhan ekonomi rekan pengangkut koran ini mula-mula 6 persen setahun, kemudian menjadi 4 persen setahunKalau dirata-rata dalam 20 tahun kehidupannya, pertumbuhan rata-rata ekonominya adalah 5 persen setahunHampir sama dengan pertumbuhan ekonomi negara.

Dia termasuk yang tidak ikut menikmati ekonomi bubble atau ekonomi gorenganTapi, dia bisa ikut menikmati pertumbuhan ekonomi negara berkat kerja kerasnyaMeski pelan-pelan, ekonomi tetap naikSudah tentu tidak secepat yang dekat-dekat wajan penggorengan.
                                                         ***
Contoh III
Saya punya seorang teman, yang mulai berusaha di Surabaya bersamaan dengan saya mulai memimpin Jawa Pos pada 1982Dalam 25 tahun kemudian, kemajuan teman saya itu empat sampai delapan kali lipat kemajuan Jawa Pos

Saya sering memikirkan mengapa perbedaan kemajuan itu bisa seperti bumi dan sumurTapi, saya tetap bersyukur bahwa perkembangan Jawa Pos bisa mencapai sekitar 30 persen per tahun, tanpa harus menjadi tukang gorengSaya juga sering memuji teman saya itu sebagai pengusaha yang sangat sukses karena memang kerjanya luar biasa kerasSaya justru lebih sering iri kepada kemampuan kerja kerasnya daripada kemampuan meningkatkan kebesaran perusahaannya.
                                                        ***
Contoh IV
Saya terkagum-kagum dengan teman saya yang lainSama-sama memulai usaha pada 1980-an, dalam waktu 10 tahun perkembangan perusahaannya luar biasaDialah yang paling hebat di antara teman-teman saya yang hebatBisnisnya tidak hanya tumbuh puluhan persen, tapi ribuan persen.

Saya lihat, dalam kehidupan sehari-harinya dia tidak pernah berhenti mikir bagaimana cara membesarkan perusahannyaMulai taksi hingga oksigenMulai tanah sampai bank miliknyaDia juga sangat rajin berolahraga, terutama renangSaya pernah berutang nyawa kepadanyaYakni, saat saya berenang di laut Pulau LombokSaya hampir tenggelamDia yang membawa saya ke pantai.

Tapi, dia hanya 10 tahun menikmati hasil kerjanya ituSuatu saat ditemukan ada kanker di pangkreasnyaDia down luar biasaLalu meninggal dunia, 15 tahun laluDia tidak sempat menyaksikan krisis Asia pada 1997/1998 maupun krisis dunia 2007/2008.
                                             ***
Setelah krisis dunia berakhir nanti, model-model pilihan hidup berikutnya tidak juga jauh dari empat contoh tadi(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Demi Mutu Saham, Korbankan Mutu Koran


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler