Enam Warga Bantul Meninggal Akibat Leptospirosis

Kamis, 13 November 2014 – 19:01 WIB

jpnn.com - BANTUL – Memasuki musim penghujan seperti saat ini, sejumlah penyakit ditengarai bakal muncul. Di antaranya adalah penyakit demam berdarah (DBD) dan leptospirosis.

Untuk DBD, pemicunya karena populasi nyamuk yang dipastikan meningkat. Sedangkan untuk leptospirosis karena banyak tikus merajalela.

BACA JUGA: Sebelum Wakapolrestabes Kena Anak Panah, Mahasiswa Dilempari

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, Maya Sintowati mengimbau warga agar kembali menggiatkan program jumantik (juru pemantau jentik) mandiri keluarga. ’’Tujuannya agar bisa memantau per-kembangan jentik-jentik nyamuk di sekitar rumah,” terang Maya seperti dilansir Radar Jogja.

Jika di setiap rumah terdapat pemantau jentik-jentik nyamuk maka tingkat penderita DPD dapat ditekan. Di samping itu, warga juga diimbau meminimalisasi berbagai wadah yang dapat menampung air. Sebab, kubangan air dapat menjadi pemicu berkembangnya jentik-jentik nyamuk.

BACA JUGA: Demo Kenaikan BBM, Wakapolrestabes Kena Anak Panah

Maya menyebutkan, per 11 November lalu terdapat 501 orang di Bantul terkena DBD. Untungnya, tidak ada penderita DPD yang meninggal dunia. “Untuk leptospirosis aman terkendali pada tahun ini,” ujarnya.

Meskipun begitu, memasuki musim penghujan warga juga harus meningkatkan kewaspadaan. Itu karena sampah basah di dalam rumah dapat mengundang tikus untuk mendekat.

BACA JUGA: Ribut dengan Istri, Aiptu Yudika Bunuh Diri

Maya juga mengimbau agar warga meletakkan tempat sampah di luar rumah. “Sampah-sampah basah sebaiknya ditaruh di luar rumah,” tegasnya.

Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan Dinkes Bantul, Pramudi menambahkan, dibanding tahun lalu jumlah penderita DBD mengalami penurunan cukup signifikan. Sepanjang tahun 2013 penderita DBD sebanyak 1.203 orang. “Yang meninggal delapan orang,” ungkapnya.

Di kabupaten Bantul, ada sejumlah kecamatan yang merupakan endemis DBD. Di antaranya Kecamatan Banguntapan, Sewon, Piyungan dan Kasihan.

Lalu, bagaimana dengan wilayah endemis leptospirosis? Pramudi menguraikan, kecamatan endemis leptospirosis jauh lebih banyak dibanding endemis DBD. Misalnya, Kecamatan Srandakan, Pundong, Jetis, Sedayu, Sewon, Pandak, dan Bantul.

“Jumlah penderita leptospirosis pada tahun lalu dengan tahun ini (per 11 Nopember) sama. Ada 74 penderita,” sebutnya. Hanya saja, penderita leptospirosis yang meninggal pada tahun ini sebanyak enam orang.  Padahal tahun lalu tidak ada penderita yang meninggal.

Pramudi menengarai adanya penderita leptospirosis yang meninggal karena warga belum paham gejalanya sehingga menganggapnya sepele. Akibatnya, pemberian penanganan medis pun terlambat. Sebab, gejala penderita leptospirosis memang seder-hana. Yaitu demam disertai nyeri betis. “Padahal yang diserang penyakit ini berikutnya adalah ginjal,” bebernya.

Mengenai pencegahannya, Pramudi memberikan kiat sederhana. Yaitu mencuci tangan dengan sabun. Sebab, kuman leptospira akan mati jika ter-kena sabun. (zam/din/ong/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rakit Bom Ikan di Rumah, Meledak, 1 Tewas


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler