Fahri Mengadu ke Kapolri Gegara Tak Lulus Tes Polisi, Polda Metro Merespons Begini

Selasa, 31 Mei 2022 – 19:34 WIB
Kepala Bidang Dokter Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Metro Jaya Kombes Didiet Setioboedi menunjukkan buku Ishihara Buta Warna dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Senin (30/2). Foto: Mercurius Thomos Mone/jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Seorang peserta calon anggota Polri, Fahri Fadillah Nurizky (21) viral di media sosial setelah mengaku tidak diloloskan dan posisinya diganti orang lain.

Padahal, Fahri mengaku menduduki peringkat ke-35 dari 1.200 peserta dan sudah dinyatakan lolos.

BACA JUGA: Nama Peserta Seleksi Calon Bintara Polri Hilang, IPW: Sangat Tidak Adil

Namun, Polda Metro Jaya tidak meloloskannya dan mengganti posisinya dengan orang lain. Fahri yang merasa tidak terima kemudian curhat di medsos.

Dalam unggahan di akun TikTok @fahrifadillah106, Fahri mengadu kepada Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.

BACA JUGA: Konvoi Motor Beratribut Khilafah Viral, Kombes Zulpan Merespons Begini

Unggahan itu kini sudah ditonton 10 juta orang dan terus bertambah sampai saat ini.

Kepala Bidang Dokter Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Metro Jaya Kombes Didiet Setioboedi buka suara terkait curhatan Fahri yang viral.

BACA JUGA: Viral, Konvoi Motor Bawa Atribut Khilafah Bagikan Selebaran, Itu Tulisannya

Menurut dia, Fahri sudah tiga kali mendaftarkan diri sebagai calon anggota Polri. Pada 2019 dan 2020, Fahri tidak lolos karena kondisi medis yang sama yaitu buta warna parsial.

"Di 2022 ini dia bisa lolos karena kemungkinan terbesar adalah dia belajar tentang buku buta warna," ujar Didiet kepada wartawan, Senin (30/5).

Dia menyebut buku ishihara buta warna tersebut adalah buku yang digunakan panitia seleksi tiap tahun untuk mengecek kondisi mata calon polisi.

"Buku ishihara ini dijual bebas di tempat penjualan alat kesehatan sehingga bisa dipelajari dan dihafal," tutur Didiet.

Dia menyebut Fahri akhirnya tidak lolos setelah melewati tim supervisi yang melakukan pemeriksaan lebih intensif.

"Jika diperiksa secara mendalam ini (buta warna,red) bisa kelihatan. Jadi, kemungkinan terbesar yaitu dia belajar dan menghafal buku ishihara," ungkap Didiet.

Kepala Biro Sumber Daya Manusia (Karo SDM) Kombes Langgeng Purnomo mengatakan kegiatan supervisi bintara Polri sebelum mengikuti pendidikan merupakan bagian dari tahap seleksi.

"Supervisi ini merupakan langkah cek terakhir terkait kesehatan, administrasi, dan lain-lain. hasilnya tiap tahun pasti ada temuan, bukan hanya buta warna. Ada kalanya terkait tinggi badan, domisili, dan lain-lain," ungkap Langgeng (mcr18/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Heboh Nama Peserta Seleksi Calon Bintara Polri Hilang, Kombes Zulpan Beri Penjelasan


Redaktur : Elfany Kurniawan
Reporter : Elfany Kurniawan, Mercurius Thomos Mone

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler