Fakta-fakta Mengejutkan Temuan KPAI Seputar Demo Pelajar STM

Kamis, 26 September 2019 – 09:18 WIB
Massa pelajar STM saat aksi unjuk rasa alias demo menolak RKUHP di Pintu Masuk Pejalan Kaki Gedung DPR, Jakarta, Rabu (25/9). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) Retno Listyarti mengungkap sejumlah temuan mengejutkan seputar demo pelajar STM dari DKI Jakarta dan Jawa Barat, di Gedung DPR RI, Rabu (25/9).

Setelah mendapat banyak pengaduan mengenai aksi tersebut sejak Rabu pagi hingga siang, KPAI mengajak Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Jawa Barat, serta pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, langsung mengambil tindakan pencegahan hingga turun ke lapangan.

BACA JUGA: Bukan Siswa Tetapi Berseragam SMA, Hendak Ikut Demo Pelajar di Gedung DPR

Langkah awal yang diambil KPAI bersama pihak terkait adalah mengeluarkan edaran singkat melalui aplikasi WA kepada kepala-kepala sekolah di wilayah-wilayah yang peserta didiknya bergerak menuju DPR.

Edaran tersebut memerintahkan kepada kepala sekolah untuk meminta para wali kelas melalui grup WA guru untuk menghubungi para orangtua di kelasnya memastikan keberadaan anak-anaknya. Kalau ada anak yang belum pulang malam itu, maka para orangtua dihimbau untuk segera mengontak anaknya.

BACA JUGA: Pengakuan Pelajar SMA yang Hendak Gabung Demo Mahasiswa, Oh Ternyata

“Itu langkah awal yang dilakukan KPAI sore itu karena kondisi sangat urgen. Memastikan anak-anak dari mana saja yang bergerak ke Jakarta juga mudah dideteksi dengan pesan berantai tersebut,” ujar Retno pada Kamis pagi (26/9).

Komisioner KPAI bidang pendidikan itu menyebutkan, pada malam hari pihaknya bersama jajaran Kemendikbud kemudian turun ke lapangan, syukur-syukur bisa meminta aparat menghentikan gas airmata dan penyisiran para demonstran anak di sekitar Senayan dan Penjompongan.

BACA JUGA: KPAI Menemukan Rekening untuk Menampung Dana Demo Pelajar

"Namun, ternyata malam itu KPAI dan Kemdikbud sulit menembus lokasi-lokasi titik massa berkumpul atau berlari menyelamatkan diri setelah terkena gas airmata. Akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi rumah rumah sakit sekitar Senayan dan Pejompongan, yaitu RS MH di Benhil dan RS Pelni," terangnya.

Berikut rangkuman temuan mengejutkan hasil investigasi KPAI bersama Kemendikbud, Dinas Pendidikan DKI Jakarta dan Jawa Barat seputar demo STM di DPR, Rabu (25/9).

Ada 14 anak korban yang diwawancarai oleh Komisioner KPAI yang dirawat di RS AL Benhil, dari percakapan tersebut diperoleh fakta-fakta sebagai berikut:

a. Korban yang dilarikan ke RS tidak hanya anak SMK (dalam ajakan medsos disebut STM), tetapi juga siswa SMA dan SMP. Bahkan korban patah tulang yang akan menjalani operasi pagi ini (26/9) adalah siswa SMPN di Jakarta Selatan.

b. Anak-anak korban mengaku ikut demo karena ajakan dari media social, seperti iinstagram dan aplikasi WA. Namun ada anak korban yang tidak tahu diajak untuk demo kawan sekolahnya. Tahunya dia diajak jalan-jalan ke pusat kota, nanti dapat makan dan minum.

c. Ada anak korban yang diajak teman mainnya di rumah (bukan satu sekolah) untuk aksi di DPR bahkan diminta membolos sekolah hari itu, anak ini masih SMP dan yang mengajak siswa SMA. Siswa SMP ini mengalami patah tulang pada lengan.

d. KPAI juga mendapatkan anak yang rumahnya dekat lokasi rusuh menjadi korban juga karena menonton aksi usai pulang sekolah. Padahal minggu ini menurut pengakuannya sedang berlangsung PTS (penilaian tengah semester). Karena PTS selesai Pukul 16.00 Wib (siswa SMP ini masuk sekolah siang hari atau sistem 2 shift), mereka bergerak ke DPR untuk menonton kakak-kakak SMK dan SMA aksi.

- Anak-anak korban menyatakan mengalami luka karena terjatuh saat disiram gas airmata, pingsan karena kelelahan dan belum makan dari siang. Ada yang pingsan karena dehidrasi kekurangan minum di tengah terik matahari siang itu, dan juga ada korban-korban luka karena diduga akibat pukulan aparat. Bahkan ada satu anak dengan luka lebam di sekujur tubuh dan mata kanan bengkak karena dipukul aparat sekitar 10 orang ketika yangbersangkutan terpisah dari rombongan saat kondisi kocar kacir karena massa aksi di siram bertubi-tubi dengan gas air mata.

-Rabu malam itu (25/9) KPAI juga bertemu relawan dan mendapatkan informasi masih ada ratusan anak terjebak di kolong jembatan Tol Slipi dan Tomang, juga banyak korban tergelatak di depan kantor BNI Pejompongan. KPAI tidak bisa menembus lokasi, namun berhasil mengontak 119 untuk pemprov DKI Jakarta menambah ambulan untuk membawa korban anak-anak ke RS.

- Saat di RS MH di Benhil, KPAI menyaksikan sendiri setiap 15 menit masuk ambulan. Saat pertama tiba di RS jumlah korban 14. Namun dalam 2 jam korban menjadi 26 anak yang dibawa ke RS. Beberapa harus rawat inap karena luka cukup berat. (fat/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler