Filosofi Wayang

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Selasa, 15 Februari 2022 – 20:20 WIB
Dhimam Abror Djuraid. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Wayang adalah bayangan. Pertunjukan wayang kulit adalah bayangan atau refleksi kehidupan. Begitu kata orang Jawa mengenai filosofi wayang.

Karena itu, ada penggemar berat wayang yang menonton pertunjukan itu dari balik layar sehingga benar-benar menyaksikan wayang atau bayangan yang sesungguhnya.

BACA JUGA: Ustaz Khalid Basalamah Bicara Hukum Wayang, PSI: Seharusnya Dibanggakan

Filosofi wayang menjadi bagian dari hidup manusia Jawa. Pertarungan tidak pernah henti ‘’perpetual fight’’, antara kebaikan dan keburukan, antara kiri dan kanan, antara yang haq dan yang batil.

Pertarungan abadi itu diejawantahkan dalam persaingan dan peperangan antara Kurawa melawan Pandawa yang penuh intrik dan tipu muslihat.

BACA JUGA: Klarifikasi Lengkap Ustaz Khalid Basalamah Soal Wayang, Tolong Diperhatikan Baik-baik!

Perang adalah tipu muslihat. Segala cara bisa ditempuh untuk memenangi perang. Intrik, fitnah, penipuan, intimidasi, penyiksaan, pembunuhan, semua adalah bagian dari strategi perang untuk menghancurkan lawan dan menegakkan keadilan.

Kurawa adalah koalisi seratus orang bersaudara dipimpin oleh Prabu Duryudana, seorang raja yang kuat secara fisik, tinggi besar, dan punya kesaktian tinggi.

BACA JUGA: Ustaz Khalid Basalamah Bicara Hukum Wayang, Kiai Cholil Nafis Bilang Begini

Duryudana harus memimpin koalisi seratus saudaranya yang punya karakter sangat beragam, dari mulai yang paling culas sampai yang mirip penjahat. Namun, di kalangan koalisi Kurawa atau Astina itu juga banyak terdapat pangeran, raja, dan pandita yang berakhlak mulia.

Pandawa atau Amarta hanya terdiri dari lima bersaudara Puntadewa, Bimasena, Arjuna, dan si kembar Nakula-Sadewa. Pandawa dan Kurawa bersaudara dekat karena dilahirkan dari satu bapak dan beda ibu.

Namun, terjadi ‘’sibling rivalry’’, rivalitas antarkeluarga, sejak masa kecil, dan Pandawa yang minoritas selalu menjadi bahan rundungan mayoritas Kurawa.

Perpetual fight, pertarungan abadi itu akhirnya harus ditentukan melalui pertempuran besar Baratayuda. Dua kerajaan beserta semua sekutunya berhadapan di palagan Padang Kurusetra untuk menjalani partai grand final, untuk menentukan siapa yang akan menjadi juara dan menjadi penguasa dunia.

Baratayuda adalah the judgment day, hari pengadilan, dan menjadi the moment of truth, momen kebenaran, untuk memastikan bahwa kebaikan akan menang di dunia. Pandawa, sebagai pejuang kebenaran, pada akhirnya memenangi pertempuran besar itu.

Pandawa adalah simbol nilai-nilai kebaikan, rightness, dan keutamaan, virtues. Namun, secara personal, masing-masing anggota Pandawa punya kelemahan moral, moral weakness.

Puntadewa yang disebut sebagai berdarah putih, karena tidak pernah menyakiti hati orang lain, punya kebiasaan berjudi, sampai akhirnya harus menggadaikan negara dan keluarganya kepada lawan main judinya.

Werkudara ksatria jujur, tetapi kasar dan tidak mengenal unggah-ungguh. Arjuna yang jago perang tanding juga jago main perempuan, don yuan kelas wahid, lelananging jagat, yang tidak ada duanya di muka bumi.

Nakula-Sadewa si kembar adalah kesatria medioker yang memainkan peran ‘’penjangkep’’.

Secara kolektif Pandawa adalah simbol keutamaan yang bakal menang melawan angkara murka kezaliman. Pada akhirnya, kebenaran memperoleh kemenangan, meski harus dilakukan dengan membantai seluruh keluarga lawan, termasuk para sesepuh dan guru-guru Pandawa sendiri.

Dalam meraih kemenangan itu segala taktik dan strategi dipakai, termasuk trik dan muslihat yang paling licik. Desepsi, penipuan, insinuasi, fitnah, hoaks, disinformasi, propaganda, dan semua trik dipakai dalam Baratayuda untuk mengalahkan musuh.

Pada akhirnya Pandawa memperoleh kemenangan. Namun, kemenangan itu dicapai dengan segala macam cara. Machiavelli tidak mengutip Baratayuda, atau Baratayuda tidak pernah menyebut Machiavelli.

Namun, trik Machiavelli untuk mencapai kekuasaan dengan berbagai cara ‘’the end justifies the mean’’ dipakai semua dalam Baratayuda, baik oleh Kurawa maupun Pandawa.

Chief strategist, ahli strategi utama Pandawa adalah Prabu Kresna, raja Dwarawati sekutu utama Pandawa. Kresna adalah manusia setengah dewa karena dia titisan langsung dari Dewa Wisnu.

Kresna menjadi penasihat politik sekaligus pembisik paling dipercaya oleh kelima Pandawa.

Kresna seorang politisi yang pragmatis. Ia ahli strategi dan jago motivasi. Nasihat dan analisis politiknya selalu didengar dan dijalankan oleh Pandawa. Kresna menjadi motivator yang jempolan bagi Puntadewa yang selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan strategis.

Dalam sebuah babak pertempuran Baratayuda yang sangat menentukan, terjadi perang tanding head to head antara Arjuna, senapati tertinggi Pandawa, melawani Adipati Karna, panglima tertinggi Kurawa.

Adipati Karna mempunyai kesaktian hebat dan punya senjata sakti Kontajaya yang mematikan. Kalau Adipati Karna turun ke palagan sudah hampir pasti pasukan Pandawa hancur.

Prabu Kresna memutar otak semalam suntuk. Akhirnya diputuskan bahwa Pandawa harus diwakili oleh Arjuna dalam pertempuran esok hari, karena hanya Arjuna yang punya kesaktian sebanding dengan Adipati Karna.

Namun, Arjuna menolak maju perang, karena tidak mau bertanding melawan Adipati Karna yang tidak lain adalah saudara sekandungnya, tetapi beda ayah.

Pada detik-detik menentukan itulah Kresna melakukan indoktrinasi kepada Arjuna dan memberinya kuliah mengenai nasionalisme, patriotisme, kebenaran dan kebatilan, serta tugas mulia untuk membunuh demi menegakkan kebenaran.

Dialog Kresna dan Arjuna itu terangkum dalam Bagawadgita yang disusun dalam bentuk tembang. Bagawadgita menjadi panduan filosofi moral, bahwa pada akhirnya seseorang harus melakukan kejahatan seperti pembunuhan, untuk menegakkan keadilan.

Arjuna luluh oleh agitasi Krisna. Dalam perang tanding esok hari Kresna sendiri yang menjadi kusir kereta perang Arjuna. Pada pertandingan hidup mati itu Arjuna dan Karna beradu kesaktian senjata panah yang menjadi andalan masing-masing.

Pada akhirnya panah Pasopati yang menjadi andalan Arjuna menembus dan membelah dada Karna. Arjuna menangis, tetapi ia puas telah menjalankan darma kepada negara. Karna mati dengan tersenyum.

Ia puas telah melaksanakan darma kepada negara. Nilai-nilai filosofis wayang tertanam kuat dalam jiwa orang Jawa, memengaruhi cara hidup dan cara berpolitik mereka. Benedict Anderson mengupas tautan antara wayang dan filosofi Jawa.

Dalam ‘’Mitologi dan Toleransi Orang Jawa’’ (Ithaca, 1965) Anderson menampilkan 175 gambar tokoh wayang, dari nenek moyang Pandawa-Kurawa sampai tokoh-tokoh generasi kedua seperti Parikesit.

Anderson melihat pengaruh yang kuat antara mitologi wayang dengan sikap orang Jawa yang terkenal toleran dan moderat, tetapi fatalistis. Budaya moderasi Jawa diwarnai dengan sikap ‘’nerima ing pandum’’, menerima apa yang menjadi bagiannya, dan sikap ‘’sak derma ngelakoni’’, hanya menjalankan peran yang sudah ditetapkan.

Dengan filosofi ini orang Jawa harus patuh dan tunduk kepada pimpinan, yang diyakini mendapatkan wahyu kedaton yang punya dimensi ilahiah. Raja atau pemimpin adalah wakil Tuhan di bumi, dan rakyat atau abdi harus patuh sebagai bagian dari kepatuhan kepada Tuhan.

Raja Jawa harus manunggal dengan rakyat sebagai pengejawantahan konsep ‘’manunggaling kawula gusti’’, menyatunya rakyat dengan pemimpin, menyatunya abdi dengan tuhannya.

Karena itu manusia Jawa tidak mementingkan kebutuhan pribadinya, tetapi lebih mengedepankan keutuhan kolektif. Hak-hak individu melebur ke dalam hak-hak kolektif di bawah kepemimpinan sang raja. Konsep demokrasi yang berdasarkan hak-hak individu menjadi asing dengan konsep manunggaling kawula gusti.

Ketika para bapak bangsa, the founding fathers Indonesia berdebat mengenai dasar negara, muncul argumen yang mendukung gagasan individualistik dan gagasan masyarakat kolektif.

Mr Soepomo mengajukan konsep masyarakat kolektif yang integralistik, yang memberikan kewenangan kepada pemimpin untuk menjadi representasi rakyat dalam mengambil keputusan strategis.

Jean Jaques Rosseau menyebutnya sebagai ‘’general will’’ kehendak umum yang diwakilkan kepada sejumlah elite pemimpin. Soepomo mendasari pandangannya pada filosofi ‘’manunggaling kawula gusti’’, tetapi Marsillam Simanjuntak menyebut model negara integralistik ala Soepomo itu sebagai fasisme.

Pada masa Orde Baru, Soeharto mengeksploitasi filosofi wayang menjadi dasar-dasar filosofi politiknya. Hak-hak individualistik ditiadakan, dan diintegrasikan menjadi hak kolektif yang diwakili oleh pemimpin yang ditunjuk oleh wakil rakyat.

Masyakat Jawa pada dasarnya sangat toleran, seperti yang disimpulkan Anderson. Namun, pada titik tertentu mereka bisa sangat ‘’cruel and violent’’, bengis dan keras, tidak segan menumpahkan darah seperti yang terjadi dalam Baratayuda.

Itulah yang bisa menjelaskan mengapa terjadi pembunuhan masal pada 1965. Kekerasan semacam itu masih berpotensi terjadi lagi pada masa-masa mendatang.

Filosofi politik Indonesia tidak bisa lepas dari filosofi wayang. Soeharto menjadikan wayang sebagai sumber utama filsafat kekuasaannya. Jokowi juga sama dengan Soeharto. Ia menjadikan filosofi wayang sebagai sumber acuan filsafat kekuasaannya.

Beberapa hari terakhir ini media sosial ingar bingar soal kontroversi wayang yang dianggap haram. Bersamaan dengan itu di media sosial juga sedang trending soal persamaan Soeharto dan Jokowi.

Apakah wayang haram? Jokowi pasti menjawab tidak. Apakah Jokowi sama dengan Soeharto? Iya, dalam urusan filsafat wayang. (*)


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler