Fitnah ala Obor Rakyat Merusak Demokrasi

Kamis, 05 Juni 2014 – 11:08 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Direktur Lingkar Madani untuk Indonesia Ray Rangkuti menyayangkan maraknya kampanye hitam yang lebih banyak memuat fitnah. Praktek kampanye provokatif, apalagi dengan membawa isu SARA hanya membuat demokrasi Indonesia menjadi sakit.

"Saya sangat kecewa isu yang berkembang dan banyak menjejali ruang publik menjelang pemilihan presiden ini adalah isu yang berbau fitnah dan kampanye jahat," kata Ray di Jakarta, Kamis (5/6).

BACA JUGA: Presiden Diminta tak Ragu Nonaktifkan Menteri Rangkap Timses Capres

Kampanye hitam menjurus fitnah membuat publik tak mendapat apa-apa, selain 'sampah politik'. Tapi yang pasti, kampanye hitam dengan fitnah dan gosip, hanya membuat panggung demokrasi kian buruk.

"Udara politik yang sekarang dihirup publik disesaki oleh isu-isu SARA yang hampir seluruhnya bersifat fitnah. Nafas politik pun terasa sesak," kata dia.

BACA JUGA: Jokowi Dinilai Tunjukkan Komitmen Bangun Papua

Karenanya, Ray menegaskan, hal ini jelas sangat merusak demokrasi. "Saya heran dan kecewa, sudah sekian lama kita berdemokrasi sejak pasca reformasi, justru sekarang seperti mundur ke belakang," ungkapnya.

Namun yang bikin ia kian kecewa, lembaga pengawas serta tak berdaya bahkan terkesan membiarkan. Akhirnya hingar bingar isu-isu SARA yang membuat telinga publik sakit,  berlangsung begitu saja.

BACA JUGA: Demokrat Target Pertahankan Suara Pileg untuk Kemenangan Prabowo-Hatta

Manajer Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat Sunanto menyorot tentang kasus beredarnya Tabloid Obor Rakyat yang banyak menyudutkan capres Joko Widodo.

"Beredarnya tabloid Obor Rakyat itu sudah merupakan black campaign yang tidak bisa ditolerir. Bawaslu dan kepolisian harus segera mengusut karena sudah masuk unsur pidana," kata Sunanto.

Ia menambahkan, beredarnya tabloid Obor Rakyat yang disebarkan secara gelap ke pesantren-pesantren, sangat berbahaya. Karena isinya berbau fitnah dengan menggunakan isu SARA yang rawan melahirkan gesekan. Propaganda seperti yang dilakukan tabloid Obor Rakyat, membahayakan ikatan kerukunan umat beragama.

"Sudah mencederai agama, pemilu dan masa depan kerukunan. Cara-cara black campaign seperti itu merupakan perilaku barbar yang tidak bisa ditolerir dalam negara mana pun. Apalagi di Indonesia yang mengedepankan moral dan hukum," katanya.

Wakil Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu Jojo Rohi menilai maraknya praktek kampanye hitam dengan berbasis fitnah, hanya membuat demokrasi di tanah air menjadi kekonyolan politik.

Ia pun merasa heran, kampanye berbau SARA dipakai senjata. Karena bila berkampanye dengan menggunakan SARA sebagai isu apalagi itu berbau fitnah, sama saja mengkhianati bukan saja nilai-nilai demokrasi, tapi juga kebhinekaan di Indonesia.

"Kampanye isu SARA, khususnya menggunakan isu-isu  agama, ini hanya menunjukkan betapa konyolnya cara berpolitik di Indonesia," katanya.(boy/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anggap Prabowo Mulai Ikuti Gaya SBY Berpidato


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler