FKPD Demokrat Yakin Partai Bisa Maju Tanpa Kehadiran SBY

Jumat, 05 Juli 2019 – 10:48 WIB
Anggota Forum Pendiri dan Deklarator (FKPD) Demokrat Sahat Saragih (paling kanan). Foto: Aristo Setiawan/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Forum Pendiri dan Deklarator (FKPD) Demokrat Sahat Saragih berkukuh meminta Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turun dari jabatan sebagai Ketua Umum Demokrat. Sahat yakin Demokrat bisa maju tanpa keberadaan SBY di kursi ketua umum.

"Pasti. Pasti maju (tanpa SBY)," kata Sahat saat dihubungi awak media, Jumat (5/7).

BACA JUGA: FKPD Demokrat Nilai Wajar Kader Baru Tidak Berani Kritik SBY

Lagi pula, kata dia, setiap partai politik membutuhkan sosok segar di tampuk kepemimpinan. Terutama untuk menghadirkan sosok yang mampu bekerja bagi rakyat.

Sahat mengatakan, rakyat tidak lagi memilih partai karena didasari ketokohan. Dalam analisisnya, rakyat menjatuhkan pilihan karena partai mampu bekerja maksimal untuk menyejahterakan rakyat.

BACA JUGA: FKPD Berkukuh Beri Label Ilegal pada Kogasma Demokrat, Begini Alasannya

BACA JUGA: FKPD Demokrat Nilai Wajar Kader Baru Tidak Berani Kritik SBY

"Begini, partai di Indonesia saat ini, di zaman milenial ini, apa yang bisa diperbuat untuk kesejahteraan rakyat itu yang akan dipilih. Mereka tidak melihat siapa itu. Kalau sepuluh tahun lalu, itu masih ada. Siapa tokohnya? Kalau sekarang di zaman milenial sekarang ini, rakyat hanya menunggu apa buktinya partai ini," ucap dia.

BACA JUGA: Hinca Tepis Tudingan FKPD Demokrat soal Kogasma Ilegal

Lebih lanjut, Sahat menerangkan, bukan barang baru bagi Demokrat tanpa sosok SBY terlibat di partai. Di awal berdiri, tidak terdapat nama SBY dalam jajaran pengurus partai.

Menurut Sahat, prestasi partai tidak jeblok tanpa kehadiran SBY. Sebab, partai masuk lima besar saat mengikuti Pemilu perdana yakni 2004. Dalam catatan Sahat, Demokrat mendapatkan 8,4 juta atau setara 7,45 persen suara nasional yang berarti bisa mengusung capres dan cawapres 2004.

"Itu kan fakta. Bukti. Lalu pendiri Demokrat ini mengajukan dia (SBY) sebagai calon presiden. Jadi, memang situasional pada saat itu, rakyat tidak suka dengan kepemimpinannya PDIP sebagai pemenang. Jadi, terpilih namanya SBY (sebagai presiden)," ungkap dia.(mg10/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... FKPD Demokrat: Ferdinand Tidak Tuntas Membaca Aturan Partai


Redaktur & Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler