Flexing

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Minggu, 13 Maret 2022 – 21:30 WIB
Doni Salmanan si crazy rich Bandung. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Laki-laki dan perempuan perkasa memamerkan otot-otot tubuh pada cabang olahraga binaraga dengan melakukan ‘’flexing the muscle’’, pamer otot.

Dia menunjukkan semua bagian tubuhnya dengan otot-otot menonjol. Menunjukkan kekuatan dan keperkasaan. Ibarat tokoh Gatutkaca dalam kisah pewayangan, mereka punya ‘’otot kawat balung wesi’’, otot terbuat dari kawat dan balung terbuat dari besi.

BACA JUGA: Pamer Kekayaan di Media Sosial, Tiga Polisi Kena Sanksi

Kata flex juga dapat bermakna melenturkan otot seseorang untuk menunjukkan seberapa kuat fisik seseorang dan seberapa siap seseorang bertarung. Sekarang ini di media sosial sedang musim flexing, yaitu pamer kekayaan yang dilakukan oleh orang-orang kaya baru atau nouveau riche.

Orang kaya baru, sering disebut sebagai OKB, adalah golongan sosial yang terdiri atas orang-orang yang menjadi kaya raya dalam waktu sangat cepat. Ada kalanya mereka kaya mendadak dalam satu generasi.

BACA JUGA: Dibilang Pengangguran, Nikita Mirzani Pamer Harta Kekayaan

Namun, bisa juga lebih cepat dari itu, hanya dalam hitungan tahun saja. mereka mengumpulkan kekayaan dalam jumlah besar dalam waktu cepat, sehingga taraf hidup mereka melambung jauh di atas strata sosial-ekonomi yang lazim.

Fenomena yang viral di media sosial sekarang adalah kebiasaan flexing yang dilakukan oleh para OKB.

BACA JUGA: Polisi Peringatkan Penerima Uang Indra Kenz & Doni Salmanan, Tegas!

Flexing merupakan salah satu istilah dalam dunia ekonomi, terutama dalam lingkup marketing dan investasi. Istilah ini digunakan untuk menyebut perilaku memamerkan kekayaan dengan tujuan tertentu.

Kamus Merriam Webster menyebut asal kata flexing adalah "flex" yang bermakna pamer atau mendemonstrasikan sesuatu.

Istilah flexing yang banyak dipakai di media sosial artinya memamerkan kekayaan.

Pamer kekayaan OKB di media sosial dilakukan secara amat berlebihan. Media sosial memungkinkan fenomena flexing menjadi tren yang digilai banyak orang. Dahulu pamer kekayaan dianggap tabu, dilarang, dan tidak pantas, tetapi kini jadi hal yang umum.

Beberapa hal yang sering dipamerkan seperti saldo ATM, uang yang bertumpuk, pakaian mahal, jet pribadi, liburan ke luar negeri, tas mewah, mobil mewah, dan sederet barang mewah lainnya.

Lalu muncullah sebutan ‘’crazy rich’’ dan ‘’sultan’’ untuk menggambarkan anak-anak muda yang kaya raya secara mendadak itu.

Flexing atau pamer dilakukan untuk mencapai beragam tujuan, di antaranya menunjukan status dan posisi sosial, menciptakan kesan bagi orang lain, dan menunjukan kemampuan.

Awalnya flexing banyak digunakan sebagai strategi marketing yang dilakukan para pembicara, lewat CV mereka akan menjelaskan latar belakang pendidikan, pencapaian, penghargaan dan lain-lain.

Tujuannya agar audiens yang hadir yakin dengan kapasitas dan kemampuan pembicara. Ada juga yang melakukan flexing dengan memamerkan prestasi, hasil pencapaian pekerjaan, penghargaan di media sosial mereka.

Flexing di dunia digital sekarang dilakukan oleh orang yang suka memamerkan kekayaan yang sebenarnya tidak mereka miliki. Flexing berarti orang yang palsu, memalsukan, atau memaksakan gaya agar diterima dalam pergaulan tingkat tinggi.

Perilaku flexing para OKB sebenarnya berkebalikan dari orang perilaku orang kaya sungguhan. Orang kaya yang sesungguhnya tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Prof Rhenald Kasali mengutip pepatah Inggris "poverty screams, but wealth whispers", kemiskinan berteriak, tetapi kekayaan berbisik.

Makin kaya orang-orang justru makin menginginkan privasi, tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Orang-orang kaya baru sangat rentan terhadap perubahan sosial dan politik yang bisa membuat mereka kehilangan harta dan masuk penjara.

Triliuner Rusia, Roman Abramovich adalah contoh super crazy rich yang sekarang lagi pusing kepala karena seluruh kekayaannya diblokir di Eropa.

Abramovich menjadi salah satu OKB papan atas di dunia karena hubungannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Abramovich membeli klub sepak bola Chelsea dengan kekayaannya itu.

Dia memiliki jet-jet pribadi super mewah dan rumah-rumah pribadi mahal di seluruh belahan Eropa. Perubahan politik akibat perang Rusia-Ukraina akan membuat Abramovich dimiskinkan karena kekayaannya disita atau dibekukan.

Di Indonesia sederetan anak-anak muda tiap hari flexing di media sosial memamerkan semua kekayaannya, mulai barang-barang branded sampai pesawat jet pribadi. Banyak yang bertanya-tanya dari mana uang mereka yang begitu banyak.

Setidaknya sekarang sudah terungkap bahwa sebagian mereka terlibat dalam bisnis haram dengan meng-endorse aplikasi investasi bodong. Dua anak muda OKB, Indra Kenz dan Donny Salmanan sudah ditangkap polisi, dan beberapa lainnya konon akan menyusul.

Dunia digital membuat manusia berubah. Mereka tidak lagi menjadi manusia yang autentik, tetapi sudah menjadi manusia digital yang palsu. Eksistensi mereka sebagai manusia sudah berubah dari manusia normal ‘’homo sapiens’’ menjadi manusia digital ‘’homo digitalis’’.

Revolusi digital telah banyak mengubah manusia. Realitas tentang dirinya, pemaknaan baik dan buruk, semua seketika berubah total.

Dahulu orang malu pamer kekayaan, malah banyak yang menyembunyikannya. Sekarang pamer kekayaan setiap hari dengan bangga. Anehnya, mereka punya follower jutaan orang yang terkagum-kagum oleh pamer kekayaan itu.

Manusia tidak lagi memikirkan sebuah kebenaran yang hakiki, melainkan kebenaran yang bersifat sementara. Eksistensi manusia menjadi berubah. Filosof Prancis Rene Descartes merumuskan eksistensi manusia ada karena pikirannya. Cogito ergo sum, I think therefore I am. Saya berpikir, karena itu saya ada.

Orang menjadi ada karena berpikir. Eksistensi sosial dan ekonominya ada karena dia berpikir. Sekarang formula itu berubah total karena revolusi digital.

Franky Budi Hardiman memperkenalkan istilah baru ‘’Aku Klik Maka Aku Ada’’, eksistensi manusia ditentukan oleh eksistensinya di media sosial.

Di era digital ini kita tidak lagi mengenal manusia itu seperti aslinya. Kehidupan umat manusia tidak lagi ditentukan oleh kesadaran. Kita makin sulit membedakan antara realitas yang asli dan fiksi. Di dunia digital kita berada pada tindakan yang memang tidak harus menghadirkan tubuh.

Realitas digital sangat berbeda, bahkan bertolak belakang, dari realitas sosial yang sesungguhnya.

Dahulu kita mendefinisikan teman sebagai orang-orang yang dekat dalam lingkungan kita. Teman SD, teman kuliah, teman sekampung. Mereka semua kita kenal secara personal sebagai kerabat.

Sekarang, kita punya ribuan teman yang tidak kita kenal dan tidak pernah kita temui sepanjang hidup kita. Itulah teman-teman kita di Facebook dan berbagai aplikasi pertemanan.

Teman-teman digital itu tidak hadir secara fisik, tidak hadir dengan tubuh. Di dunia digital, kita tidak berinteraksi dengan tubuh. Kita hanya dapat membayangkan bagaimana tubuh yang ada di belakang layar screen, melalui display picture atau foto-foto unggahan yang setiap hari terlihat selalu bergembira dan berbahagia.

Gadget dan mouse atau tetikus menjadi sebuah tongkat sihir yang bisa menghadirkan dunia ke hadapan kita. Kita bisa pesan aneka makanan dan minuman dan berbagai barang konsumsi, tanpa harus menggerakkan pantat kita dari tempat duduk.

Kita menonton berbagai film dan pertandingan olahraga dari layar di depan mata. Kita berbincang-bincang dan tertawa-tawa tanpa kata-kata, semuanya diwakili oleh tanda-tanda emoji.

Manusia yang otentik telah hilang diganti manusia digital yang palsu. Kebenaran juga tidak lagi autentik karena sekarang era post-truth dan hoaks. Manusia tidak mengenal sopan santun dan tata krama karena bisa memaki dan menyumpahi siapa saja, kapan saja.

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah tamah. Itu dahulu, ketika manusia Indonesia masih menjadi manusia autentik. Sekarang, di dunia media sosial bangsa Indonesia dinobatkan sebagai bangsa yang paling kurang ajar di dunia.

Cara bersikap yang brutal di media online, kebebasan yang kebablasan, serta merajalelanya hoaks yang sulit ditapis membuat atribusi negatif itu melekat pada bangsa Indonesia. Fanatisme di media sosial menjadi bagian dari eksistensi manusia.

Cara-cara pamer kekayaan melalui flexing sudah melampaui batas-batas kesadaran akan tenggang rasa dan tepa selira. Para crazy rich itu mabuk digital dan terus-menerus kecanduan oleh pamer kekayaan.

Mereka baru menyesal kalau sudah datang tagihan dari petugas pajak. Mereka baru menyesal kalau sudah mendapat panggilan dari polisi dan mendapat status baru sebagai tersangka. (*)


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler