Fokus ke Tiongkok dan ASEAN

Rabu, 05 Mei 2010 – 05:48 WIB
JAKARTA -HSBC memaparkan hasil survey terbaru dalam HSBC Trade Confidence Monitor, yang mengukur tingkat optimisme pelaku perdagangan internasionalSurvey itu juga berisi pandangan mereka terhadap pertumbuhan bisnis ekspor impor dalam enam bulan ke depan

BACA JUGA: KS Steel Siap Garap Inalum



 “Tiongkok dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan terus memainkan peranan penting sebagai negara tujuan perdagangan Indonesia, khususnya bagi UKM dan perusahaan skala menengah,” kata Vincent C Sugianto, Head of Trade and Supply Chain HSBC Indonesia di Jakarta, Selasa (4/5)
Tren ini, imbuhnya, berubah dari beberapa tahun sebelumnya, yang mengandalkan pasar di negara maju seperti Amerika, Eropa, dan Jepang.

Ia menilai tren tersebut akan terus berkembang terutama setelah diterapkannya rezim perdagangan bebas dengan Tiongkok dan ASEAN melalui ACFTA (ASEAN Tiongkok Free Trade Agreement) di awal tahun ini.
Saat ini, 51 persen responden (naik 11 persen dari enam bulan lalu) mengaku memiliki bisnis ekspor impor dengan Tiongkok

BACA JUGA: Kobar Panen Rumput Laut

Dalam enam bulan ke depan, meskipun jumlah ini menurun sebesar 40 persen, namun mereka melihat bahwa Tiongkok akan tetap menjadi mitra dagang utama bagi pelaku ekspor impor Indonesia


Selain Tiongkok, jelasnya, kawasan Asia Tenggara juga dinilai sebagai tujuan penting perdagangan antar negara

BACA JUGA: Holcim Kirim Ahli Bangunan ke Afsel

Sebesar 40 persen eksportir dan importir Indonesia saat ini memiliki hubungan perdagangan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

Sementara 23 persen di antaranya masih melihat bahwa kawasan Asia Tenggara merupakan kawasan paling menjanjikan bagi pertumbuhan perdagangan dalam enam bulan ke depan“Secara global, kami melihat bahwa perdagangan antar negara menjadi aktivitas kunci penggerak ekonomi dunia,” ujarnya.

Pusat kekuatannya pun berpindah ke emerging markets, dimana pulihnya aktivitas perdagangan yang dimotori oleh perdagangan intra kawasan, terus menggerakan pulihnya perekonomianMenurutnya, kecenderungan bahwa di Asia, perdagangan antar negara mulai menjadi kunci utama penggerak pertumbuhan, bahkan di negara-negara yang semula hanya mengandalkan pasar domestik.

HSBC Trade Confidence Index mengambil sample di 17 negara di kawasan Asia Pasifik, Timur Tengah, Amerika Latin, AS dan Kanada, serta EropaJajak pendapat mengenai perdagangan antara negara terbesar yang pernah ada ini melibatkan 5,120 UKM dan perusahaan skala menengah yang memiliki aktivitas ekspor dan impor

Hasil pengukuran ini dituangkan dalam bentuk index dari 0 sampai 200, dimana 200 merupakan skor tertinggi tingkat optimisme dan 100 adalah angka netralIndonesia dengan indeks 128 (naik dari 120 pada semester lalu), merupakan salah satu dari lima negara dengan indeks tertinggi, yang bahkan menyaingi skor Tiongkok

Pada kuartal pertama tahun ini, hampir semua negara memiliki indeks positif, selain Perancis yang memiliki skor 95 poinSecara keseluruhan, tingkat kepercayaan global terhadap perdagangan antar negara ini tetap berada di teritori positif, melanjutkan tren dari kuartal keempat 2009

Hambatan terbesar yang masih dirasakan oleh pelaku ekspor dan impor untuk mengembangkan bisnisnya adalah fluktuasi nilai tukar dan naiknya suku bungaSebesar 47 persen dari responden mengatakan bahwa fluktuasi nilai tukar ini masih akan membayangi bisnis mereka dalam enam bulan kedepan

Kenaikan tingkat suku bunga (30 persen) dan peraturan pemerintah dalam sektor perdagangan (28 persen) juga dipandang sebagai penghambat pertumbuhan perdagangan antar negaraNamun demikian, dua hal tersebut masih dapat diimbangi dengan 33 persen responden lainnya yang tidak melihat hambatan dalam mengembangkan bisnisnya(snd)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bidik Kenaikan Pasar 20%


Redaktur : Auri Jaya

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler