FOMC Bikin Perbankan Hati-Hati Turunkan Bunga

Sabtu, 17 Desember 2016 – 12:33 WIB
BI. Foto: JPNN

jpnn.com - JAKARTA – Perbankan menurunkan suku bunga secara bertahap sejak awal tahun lalu.

Tidak hanya suku bunga simpanan, tetapi juga kredit.

BACA JUGA: Medsos Keras, Media Konvensional Berpeluang Moncer Lagi

Transmisi yang dilakukan lewat jalur penetapan suku bunga acuan kini sedikit terhambat karena risiko ketidakpastian global.

Direktur Manajemen Risiko dan Kepatuhan PT Bank Mandiri Tbk Siddiq A. Badruddin menyatakan, bank masih memerhatikan risiko dana yang kabur karena penaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS.

BACA JUGA: Google dan Facebook Panen Laba, Media Lokal Sengsara

’’Sebab, kalau suku bunga kita turunkan, sedangkan bunga di AS naik, kan berisiko capital flight. Agak sulit menurunkan suku bunga, terutama bunga deposito. Sebab, bank harus menjaga risiko capital flight yang terlalu tinggi,’’ paparnya kemarin (16/12).

Bank Indonesia (BI) menetapkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate yang tetap pada 4,75 persen.

BACA JUGA: Pertamina Rangkul Masyarakat Ciptakan Energi Terbarukan

Perbankan dalam negeri juga masih melihat rencana kenaikan suku bunga The Fed pada 2017.

Yang paling diperhatikan adalah adanya kemungkinan naiknya Fed fund rate hingga lebih dari dua kali tahun depan.

Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, pihaknya masih mengantisipasi sikap anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang lebih agresif.

’’Bukan masalah 25 basis points (kenaikan Fed fund rate, Red). Sebab, hal itu sudah kami antisipasi. Yang masuk dalam pembahasan kami adalah pernyataan hasil FOMC yang lebih hawkish,’’ ujarnya.

Sebelumnya, BI dan beberapa konsensus memperkirakan suku bunga The Fed naik satu kali pada Desember 2016 dan berlanjut sebanyak dua kali tahun depan.

Namun, sejak Donald Trump terpilih menjadi presiden AS pada November 2016, ketidakpastian mulai muncul.

Antara lain, kemungkinan batalnya rencana kenaikan Fed fund rate pada akhir 2016 yang ternyata meleset.

Selain itu juga rencana kenaikan suku bunga yang bisa terjadi hingga tiga kali pada tahun depan.

Di sisi lain, ekonomi domestik dinilai masih kuat dengan fundamentalnya.

Mulai inflasi yang terjaga dan diperkirakan berada di 3 hingga 3,2 persen pada tahun ini hingga defisit transaksi berjalan di bawah dua persen PDB.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2016 tercatat USD 111,5 milir atau meningkat dari USD 105,9 miliar pada akhir 2015.

Meski lebih rendah jika dibandingkan dengan posisi akhir pada Oktober 2016, yakni USD 115 miliar, posisi cadangan devisa per akhir November 2016 tersebut tetap cukup untuk membiayai 8,5 bulan impor atau 8,1 bulan impor.

Selain itu, cadangan devisa cukup untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

’’Pada akhirnya, saya kira investor akan percaya pada fundamental kita. Saya yakin transmisi penurunan suku bunga akan terus berlanjut. Perbankan lebih percaya diri pada tahun depan, terutama karena melihat confidence dari korporasi. Namun, confidence itu tidak hanya kita lihat dari demand kredit korporasi, tapi juga permintaan pembiayaan dari sumber alternatif seperti obligasi dan medium term notes (MTN),’’ ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung.

Sampai November 2016, suku bunga deposito turun 131 bps, sedangkan suku bunga kredit anjlok 67 bps.

Hingga November lalu, pertumbuhan kredit mencapai 8,5 persen.

BI pun tetap optimistis pertumbuhan kredit tahun ini berada pada kisaran 7-9 persen.

Target pertumbuhan kredit tahun depan mencapai 10-12 persen. (rin/c22/sof/jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bidik WNA, Intiland Bangun Apartemen Lantai Rendah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler